SEMARANG | Kabarjateng.id – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang turut berkontribusi dalam penyempurnaan standar pelayanan kesehatan di lingkungan pemasyarakatan.
Dukungan tersebut diwujudkan melalui kegiatan uji petik instrumen penyusunan Standar Promosi Kesehatan dan Pencegahan Penyakit yang digelar Tim Direktorat Perawatan Kesehatan dan Rehabilitasi (Dirkeswat), Rabu (4/11/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Kunjungan Lapas Kelas I Semarang itu menjadi bagian dari upaya memastikan program promosi kesehatan dan pencegahan penyakit bagi warga binaan dapat berjalan lebih optimal.
Sebanyak 30 warga binaan dilibatkan sebagai responden dalam kegiatan tersebut.
Selain itu, sejumlah pejabat struktural dan petugas kesehatan Lapas, termasuk dokter dan perawat, turut memberikan informasi serta masukan berdasarkan kondisi pelayanan kesehatan di lapangan.
Dalam pelaksanaannya, tim Dirkeswat terlebih dahulu memeriksa kelengkapan instrumen yang telah diisi.
Proses kemudian dilanjutkan dengan evaluasi, diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD), serta wawancara singkat untuk menggali informasi lebih mendalam.
Kepala Lapas Kelas I Semarang, Ahmad Tohari, menyambut positif kegiatan tersebut.
Ia menilai penyusunan standar kesehatan menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan mutu pelayanan bagi warga binaan.
Menurutnya, instrumen yang disusun harus mampu menjawab kebutuhan kesehatan di lingkungan lapas sekaligus menjadi pedoman dalam menjalankan program pencegahan penyakit secara terarah.
“Kami menyambut baik pelaksanaan uji petik ini. Berbagai masukan dan hasil evaluasi diharapkan dapat menyempurnakan standar pelayanan, sehingga program promosi kesehatan dan pencegahan penyakit dapat dilaksanakan secara efektif, terukur, serta sesuai kebutuhan warga binaan,” kata Ahmad Tohari.
Perwakilan Tim Dirkeswat, dr. Ummu Salamah, menjelaskan bahwa pengujian instrumen secara langsung diperlukan untuk mengetahui sejauh mana standar yang dirancang dapat dipahami dan diterapkan oleh satuan kerja pemasyarakatan.
Melalui kegiatan tersebut, tim juga berupaya mengidentifikasi kondisi faktual, tantangan, serta kebutuhan dalam pelaksanaan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit.
Ia berharap hasil uji petik dapat menjadi bahan evaluasi penting sebelum standar tersebut disempurnakan dan diterapkan.
“Masukan dari petugas maupun warga binaan sangat diperlukan agar instrumen yang disusun benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan. Harapannya, standar ini nantinya mampu mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di lingkungan pemasyarakatan,” ungkap dr. Ummu Salamah.
Ahmad Tohari berharap proses penyusunan standar tersebut dapat menghasilkan pedoman yang lebih komprehensif.
Selain itu, kegiatan ini diharapkan memperkuat koordinasi antara jajaran Lapas dan Direktorat Perawatan Kesehatan dan Rehabilitasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan serta derajat kesehatan warga binaan. (lim)






