SEMARANG | Kabarjateng.id – Gerakan pengumpulan minyak jelantah yang melibatkan puluhan ribu pegawai Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berhasil mencatatkan prestasi nasional.
Sebanyak 31.032,44 liter minyak goreng bekas berhasil dihimpun hingga mengantarkan Pemprov Jateng meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Pengumpulan minyak jelantah tersebut melibatkan 60.680 aparatur sipil negara (ASN) dan pegawai badan usaha milik daerah (BUMD). Dari kegiatan itu, terkumpul minyak jelantah dengan nilai ekonomi mencapai Rp217.227.000.
Program tersebut dijalankan melalui kolaborasi dengan PT Biosirkular Inovasi Indonesia (Biosirkular) dan PT Gapura Mas Lestari (GML).
Penghargaan MURI diserahkan Senior Representative MURI Wilayah Semarang dan Jawa Tengah, Ari Andriani, kepada Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen.
Penyerahan dilakukan dalam Rapat Koordinasi Tim Pembina Posyandu Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah Tahun 2026 di Gradhika Bhakti Praja, Senin (2/11/2026).
Taj Yasin menerima penghargaan tersebut mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. Acara itu turut dihadiri Ketua Pembina Posyandu Jawa Tengah, Hj. Nawal Arafah Yasin.
Taj Yasin mengatakan, pengumpulan minyak jelantah memiliki manfaat lebih luas daripada sekadar mengurangi limbah rumah tangga.
Gerakan tersebut juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan.
Ia menyoroti kebiasaan menggunakan minyak goreng secara berulang kali yang berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan.
“Program jelantah ini tidak hanya berbicara tentang lingkungan atau sampah, tetapi juga kesehatan. Bagaimana masyarakat kita tidak mengonsumsi minyak yang sudah berkali-kali digunakan sehingga lebih sehat,” ujarnya.
Selain mengapresiasi gerakan peduli lingkungan, Taj Yasin juga mendorong penguatan fungsi Posyandu agar semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Salah satu upaya yang dikembangkan Pemprov Jateng adalah Program Pandu Tangguh atau Perluasan Adaptif Posyandu 6 SPM Plus IKD.
Program ini dirancang untuk memperkuat ketahanan masyarakat rentan melalui peningkatan akses pelayanan sosial.
Menurut Taj Yasin, keberadaan kader Posyandu dapat dimaksimalkan untuk membantu masyarakat menghadapi persoalan pendataan, terutama ketidaksesuaian data kemiskinan dengan kondisi riil di lapangan.
Ia berharap kader tidak hanya menjalankan pelayanan kesehatan, tetapi turut memberikan pendampingan kepada warga dalam mengakses berbagai program pemerintah.
“Kami berharap Posyandu bukan hanya memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga melakukan pendampingan langsung dan berkolaborasi dengan operator pendataan di desa masing-masing,” katanya.
Sementara itu, Ketua Posyandu Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin menjelaskan, gerakan pengumpulan minyak jelantah telah menjangkau seluruh 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Untuk memperluas partisipasi masyarakat, pihaknya menggandeng sejumlah mitra usaha.
Salah satu inovasi yang disiapkan adalah mesin ATM biodrop sebagai tempat penyetoran minyak jelantah.
Melalui fasilitas tersebut, masyarakat dapat menyerahkan minyak goreng bekas dan memperoleh imbalan uang yang langsung ditransfer ke rekening masing-masing.
Nawal berharap inovasi ini mampu memberikan nilai tambah terhadap limbah rumah tangga sekaligus membangun kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah secara lebih bertanggung jawab.
Dalam kesempatan yang sama, Pemprov Jateng juga meluncurkan Program Pandu Tangguh.
Program tersebut difokuskan pada peningkatan kemampuan kader Posyandu dalam membantu kelompok masyarakat rentan mendapatkan pelayanan dan perlindungan sosial melalui aplikasi Perlinsos.
Kader Posyandu dari 35 kabupaten/kota akan memperoleh pembekalan untuk mengoperasikan aplikasi tersebut.
Mereka nantinya dapat membantu warga yang mengalami kendala data kesejahteraan sosial, termasuk ketidaksesuaian kategori desil maupun pengajuan sanggahan terkait penerimaan bantuan sosial.
Penguatan layanan Posyandu juga dilakukan melalui kerja sama dengan Universitas Diponegoro, khususnya bidang psikologi. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperluas akses pelayanan kesehatan mental di tengah masyarakat.
Kerja sama tersebut juga membuka peluang keterlibatan mahasiswa melalui kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) tematik serta penelitian yang berkaitan dengan kesehatan mental masyarakat.
Nawal mencontohkan Kota Surakarta yang telah mengembangkan layanan kesehatan mental melalui Posyandu.
Praktik tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi daerah lain di Jawa Tengah.
Rapat koordinasi itu juga diisi dengan pemberian apresiasi kepada sejumlah Posyandu tingkat kabupaten/kota, desa, dan kelurahan yang dinilai menunjukkan dedikasi serta inovasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Terkait pendataan kelembagaan, Nawal mengungkapkan jumlah Posyandu di Jawa Tengah yang telah terdata melampaui 20.000 unit.
Meski demikian, proses registrasi nasional masih menghadapi sejumlah kendala teknis pada aplikasi yang digunakan.
Hingga saat ini, lebih dari 2.000 Posyandu di Jawa Tengah telah tercatat dalam registrasi nasional.
Nawal menyebut, capaian tersebut menempatkan Jawa Tengah sebagai provinsi dengan jumlah Posyandu teregistrasi terbanyak di Kementerian Kesehatan. (dkp)






