SEMARANG | Kabarjateng.id – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mendorong generasi muda untuk terus mengambil peran dalam pembangunan daerah.
Menurutnya, keberanian menyampaikan kritik dan gagasan harus menjadi kekuatan untuk mewujudkan Kota Semarang yang lebih baik.
Hal itu disampaikan Agustina seusai upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di halaman Balai Kota Semarang, Rabu (28/10/2026).
Agustina menilai, karakter pemuda yang kritis dan terbuka dalam menyampaikan pendapat merupakan modal penting bagi pemerintah dalam mengevaluasi kebijakan sekaligus memahami kebutuhan masyarakat.
“Pemuda Semarang sangat kritis dan suka mengomentari segala hal, baik yang menarik maupun tidak menarik, secara langsung. Hal tersebut menjadi masukan yang luar biasa bagi kita dalam membangun pemahaman bersama,” ujar Agustina.
Ia menegaskan, pemerintah kota berupaya membuka ruang partisipasi seluas-luasnya bagi kalangan muda.
Keterlibatan tersebut diwujudkan melalui berbagai program dan kegiatan yang dijalankan organisasi perangkat daerah (OPD).
Selain menyampaikan aspirasi, Agustina mengapresiasi anak muda yang terjun langsung dalam kegiatan sosial dan pengembangan masyarakat.
Salah satunya para Duta Baca yang aktif mendatangi berbagai lokasi untuk mendukung layanan perpustakaan keliling serta meningkatkan minat baca anak-anak.
“Kita berusaha melibatkan pemuda dalam banyak hal, dalam semua urusan dan agenda kegiatan daerah,” katanya.
Peringatan Sumpah Pemuda tahun ini juga menjadi momentum pemberian penghargaan kepada sejumlah pihak yang dinilai telah memberikan kontribusi bagi masyarakat dan Kota Semarang.
Apresiasi diberikan kepada 34 pegawai negeri sipil (PNS) yang memasuki masa purnatugas, dua petugas pemadam kebakaran yang berani menangani kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, atlet peraih medali pada Porprov 2026, serta para pemenang lomba dalang cilik dan remaja.
Agustina turut menyoroti pentingnya membangun komunikasi yang sehat antara generasi muda dan generasi yang lebih senior.
Menurutnya, pengalaman dari generasi terdahulu perlu dipadukan dengan kreativitas serta semangat pembaruan yang dimiliki anak muda.
Ia meyakini, perbedaan pendapat bukanlah penghalang selama setiap pihak bersedia mendengarkan dan mencari solusi bersama.
“Setelah berdiskusi dan diajak berbincang, akhirnya selalu ditemukan jalan tengah—kadang yang tua mengalah, kadang yang muda mengalah,” pungkasnya.
Melalui momentum Hari Sumpah Pemuda, Pemkot Semarang berharap generasi muda tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga terlibat aktif dalam kegiatan sosial, pendidikan, olahraga, seni, dan berbagai sektor pembangunan daerah. (day)






