SEMARANG | Kabarjateng.id – Dinamika menjelang Konferensi Cabang (Konfercab) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang mulai menghangat.
Sejumlah nama kader mulai diperbincangkan sebagai kandidat penerus kepemimpinan organisasi, baik di jajaran Tanfidziyah maupun Syuriah.
Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Semarang, Dr. KH. Anasom, memastikan tidak akan kembali maju sebagai calon ketua dalam Konfercab mendatang.
Keputusan tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari upaya memberikan ruang kepada kader lain untuk melanjutkan kepemimpinan organisasi.
Anasom menilai PCNU Kota Semarang memiliki banyak kader potensial yang mampu meneruskan perjuangan Nahdlatul Ulama dalam membina kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat.
“Ya, NU perlu kaderisasi, banyak kader NU Kota Semarang yang potensial,” ujarnya saat dikonfirmasi wartawan beberapa waktu lalu.
Sejumlah nama mulai muncul dalam pembicaraan di kalangan pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC NU) dan pengurus ranting. Mereka di antaranya Prof. Dr. Abdul Rahman, M.Ag., Dr. In’amuzzahidin, M.Ag., Dr. Agus Fathuddin Yusuf, MA, serta Dr. Iman Fadhilah, MSI.
Selain kalangan akademisi dan kader internal NU, nama Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin, ST., MT., serta Direktur Utama PDAM Tirta Moedal Semarang, Dr. Dr. Ir. Ady Setiawan, SH., MH., MM., MT., IPM, ASEAN Eng., juga disebut dalam bursa kandidat Ketua PCNU Kota Semarang.
Anasom menegaskan, kesempatan untuk menjadi kandidat terbuka bagi kader yang memenuhi ketentuan organisasi.
“Semua kader boleh maju menjadi bakal calon ketua PCNU,” tandasnya.
Di tengah dinamika tersebut, nama Anasom justru dikabarkan masuk dalam pembicaraan calon Rais Syuriah PCNU Kota Semarang.
Namun, ia menegaskan bahwa posisi Rais Syuriah tidak semestinya diperlakukan seperti pencalonan Ketua Tanfidziyah.
Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang itu menjelaskan, pemilihan Rais Syuriah dilakukan melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), bukan dengan mencalonkan diri secara langsung.
“Tidak ada calon Syuriah, etikanya begitu, apalagi mencalonkan diri. Rais dipilih oleh AHWA,” tegasnya kepada wartawan, Selasa (27/10/2026).
Menurut Anasom, figur kiai yang memiliki pengalaman mengasuh pesantren lebih ideal untuk mengemban amanah sebagai Rais Syuriah.
Ia menilai latar belakang dirinya yang lebih dekat dengan dunia akademik menjadi pertimbangan tersendiri.
“Rais Syuriah idealnya mereka yang mengasuh pesantren,” tuturnya.
Anasom juga menerangkan bahwa AHWA merupakan forum para kiai yang diberi mandat untuk menentukan Rais Syuriah.
Melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara, para anggota AHWA menetapkan sosok yang dipercaya memimpin jajaran Syuriah PCNU.
Sementara itu, Sekretaris PCNU Kota Semarang, H. Jumarno, menyampaikan bahwa mekanisme pemilihan dalam Konfercab kali ini mengalami perubahan. Pemilihan Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziyah sama-sama melibatkan AHWA.
Menurut Jumarno, pada mekanisme sebelumnya, pemilihan Ketua Tanfidziyah dilakukan melalui MWC NU.
Adapun dalam mekanisme terbaru, setiap MWC NU dapat mengusulkan lebih dari satu nama calon ketua, dengan jumlah maksimal lima kandidat.
“Kalau sekarang MWC bisa mengusulkan lebih dari satu calon ketua, maksimal lima. Ini yang akan disepakati oleh para kiai di AHWA,” jelasnya.
Ia menambahkan, Ketua Tanfidziyah dipilih oleh AHWA setelah kandidat menyatakan kesediaan secara lisan atau tertulis serta memperoleh persetujuan tertulis dari Rais Syuriah terpilih.
Perubahan mekanisme tersebut menjadi salah satu hal penting dalam pelaksanaan Konfercab PCNU Kota Semarang.
Selain menentukan arah kepemimpinan organisasi ke depan, forum ini juga menjadi momentum untuk memperkuat kaderisasi dan menjaga keberlanjutan perjuangan Nahdlatul Ulama di tingkat kota. (arh)






