SEMARANG | Kabarjateng.id – Kondisi kolam buaya di Semarang Zoo yang tampak mengering dan ramai diperbincangkan di media sosial mendapat penjelasan dari pihak pengelola.
Menipisnya ketersediaan air akibat musim kemarau panjang disebut menjadi penyebab utama kondisi tersebut.
Direktur Semarang Zoo, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso dalam keterangannya tertulisnya menjelaskan bahwa situasi semakin sulit setelah permukaan danau yang selama ini menjadi salah satu sumber utama air untuk operasional dan kegiatan konservasi mengalami penyusutan drastis.
Menurutnya, kondisi danau yang mengering hingga tingkat tersebut merupakan kejadian pertama yang pernah dialami Semarang Zoo.
Meski menghadapi keterbatasan pasokan air, manajemen menyatakan seluruh buaya tetap dalam pemantauan dan berada dalam kondisi sehat.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pengelola melakukan pengisian air secara bertahap dengan menggandeng sejumlah instansi di Kota Semarang.
Langkah ini tidak hanya difokuskan pada kolam buaya, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan air di kandang satwa lain, termasuk orangutan.
“Bantuan air mulai disalurkan pada 22 Oktober 2026. Pada tahap pertama, Perumda Air Minum Tirto Moedal mengirimkan lima tangki air untuk membantu memenuhi kebutuhan,” ujar Bimo, Selasa (27/10/2026).
Sehari kemudian, tepatnya 23 Oktober 2026, dukungan kembali diberikan oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) sebanyak delapan tangki air.
Penyaluran bantuan berlanjut pada 26 Oktober 2026. Pada hari tersebut, Perumda Air Minum Tirto Moedal menyumbangkan satu tangki, sedangkan Disperkim menyalurkan delapan tangki air.
“Setiap tangki memiliki kapasitas 5.000 liter. Dengan demikian, total bantuan yang diterima Semarang Zoo mencapai 22 tangki atau setara 110.000 liter air selama periode 22–26 Oktober 2026,” jelas Bimo.
Manajemen Semarang Zoo menyampaikan apresiasi kepada Perumda Air Minum Tirto Moedal dan Disperkim atas dukungan yang diberikan untuk membantu menjaga ketersediaan air bagi satwa.
Pengelola juga menegaskan akan terus melakukan pemantauan terhadap kondisi satwa, perawatan fasilitas kandang, serta berbagai langkah penanganan untuk menghadapi dampak cuaca ekstrem.
Di tengah kemarau yang berkepanjangan, upaya pemenuhan kebutuhan air menjadi tantangan tersendiri bagi pengelolaan kawasan konservasi.
Karena itu, langkah mitigasi berkelanjutan diperlukan agar kebutuhan dasar satwa tetap terpenuhi selama pasokan air belum kembali normal.
Semarang Zoo berharap hujan segera turun sehingga ketersediaan air dapat pulih.
Masyarakat juga diimbau untuk mencermati informasi dari sumber resmi agar memperoleh gambaran yang utuh mengenai kondisi kolam buaya dan upaya penanganan yang dilakukan pengelola. (dkp)






