GROBOGAN | Kabarjateng.id – Krisis air bersih masih membayangi Kabupaten Grobogan hingga Oktober 2026.
Sebanyak 108 desa yang tersebar di berbagai kecamatan masih membutuhkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan mencatat, kondisi kekeringan belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.
Berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga Oktober, sedangkan musim hujan baru mulai pada November 2026.
Kepala BPBD Grobogan, Wahyu Tri Darmawanto, mengungkapkan bahwa hingga akhir September 2026, pihaknya telah mendistribusikan sebanyak 617 tangki air bersih atau setara sekitar 3,1 juta liter.
Penyaluran bantuan tetap berlanjut sepanjang Oktober dengan memanfaatkan armada milik BPBD serta dua unit truk tangki yang dioperasikan setiap hari.
“Sebanyak 108 desa masih mengajukan permohonan bantuan air bersih hingga Oktober. Kami terus melakukan penyaluran bersama pihak CSR dan lembaga sosial,” ujarnya dalam keterangan yang diterima kabarjateng.id, Kamis (15/10/2026).
Sejumlah wilayah yang mengalami dampak kekeringan cukup parah meliputi Kecamatan Karangrayung, Geyer, Toroh, Gabus, dan Pulokulon.
Di Desa Monggot, Kecamatan Geyer, warga telah menghadapi kesulitan air sejak Juli lalu.
Hingga Oktober, sebagian masyarakat terpaksa memanfaatkan lubang-lubang kecil di aliran sungai untuk mendapatkan air.
Kondisi serupa dialami warga Desa Jambon, Kecamatan Pulokulon. Persediaan air hujan yang sebelumnya ditampung warga telah habis, sementara sumur di kawasan hutan juga mulai mengering.
Keterbatasan sumber air membuat warga harus menunggu lama untuk mendapatkan air bersih.
Bahkan, seorang warga dilaporkan harus mengantre hingga tiga hari hanya untuk memperoleh satu jeriken air.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah pihak turut menyalurkan bantuan guna meringankan beban masyarakat.
Pada awal Oktober, Dompet Dhuafa Jawa Tengah mendistribusikan 18.000 liter air bersih kepada 256 kepala keluarga di Desa Monggot, Kecamatan Geyer.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Hingga 28 September 2026, Pemprov Jateng tercatat telah menyalurkan sekitar 75,4 juta liter air bersih ke 33 kabupaten/kota yang terdampak kekeringan.
Grobogan termasuk dalam 10 daerah dengan volume distribusi bantuan tertinggi.
BPBD Grobogan mengingatkan masyarakat agar menggunakan persediaan air secara hemat selama musim kemarau masih berlangsung.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga ketersediaan air bagi kebutuhan pokok sehari-hari.
Sementara itu, Bupati Grobogan Setyo Hadi meminta PDAM, badan usaha milik daerah (BUMD), serta unsur TNI-Polri turut berperan aktif dalam membantu penyaluran air bersih ke wilayah terdampak.
Sinergi berbagai pihak diharapkan dapat memperluas jangkauan distribusi bantuan, terutama ke desa-desa yang mengalami keterbatasan sumber air dan masih bergantung pada pasokan dari luar wilayah.
Dengan musim hujan yang diperkirakan baru tiba pada November mendatang, kebutuhan air bersih bagi warga Grobogan masih menjadi persoalan mendesak yang memerlukan penanganan berkelanjutan. (Ags)






