Ribuan Pelayat Antar KH Amdjad ke Peristirahatan Terakhir di Makam Keluarga Besar Wahid Hasyim

Rabu, 4 November 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SEMARANG | Kabarjateng.id – Ribuan orang dari berbagai kalangan memadati prosesi pemakaman KH Amdjad AH, pengarang nadzam Asmaul Husna, Rabu (4/11/2026).

Para pelayat datang silih berganti untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus memanjatkan doa bagi almarhum.

Sejak malam hingga menjelang prosesi pemakaman, kediaman almarhum di Perumahan BPD 3 Tlogomulyo, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, terus didatangi para santri, tokoh agama, kerabat, serta masyarakat.

Sekitar pukul 09.00 WIB, jenazah KH Amdjad dibawa ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) untuk disalatkan.

Setelah itu, rombongan mengantarkan jenazah menuju kompleks pemakaman Keluarga Besar Wahid Hasyim di Kampus 2 Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Kecamatan Gunungpati.

Sebelum dimakamkan, salat jenazah kembali dilaksanakan di gedung Computer Based Test (CBT) Fakultas Kedokteran Unwahas.

Sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan sesepuh turut hadir memberikan penghormatan terakhir serta mengiringi prosesi dengan doa.

Disiapkan sebagai Makam Khusus

Ketua Yayasan Wahid Hasyim, Prof Dr Noor Achmad MA, menjelaskan bahwa pemakaman tersebut menjadi awal pemanfaatan area khusus atau makbaroh bagi keluarga besar Wahid Hasyim.

Menurutnya, gagasan penyediaan kompleks pemakaman itu telah lama disampaikan para pendiri, pengurus yayasan, serta sejumlah tokoh yang memiliki keterikatan dengan Unwahas.

Namun, rencana tersebut baru dapat diwujudkan saat pemakaman KH Amdjad.

“Ini memang sengaja kita jadikan sebagai makbaroh karena permintaan dari banyak pihak, dari para pendiri, pengurus yayasan, dan para tokoh. Semuanya minta di Wahid Hasyim ada makbaroh,” kata Noor Achmad seusai pemakaman.

Baca Juga  Nawal Yasin Kenalkan Pandu Tangguh, Kader Posyandu Dilibatkan Kawal Akurasi Data Bansos

Ia menuturkan, setelah menerima kabar wafatnya KH Amdjad, pihak yayasan segera menentukan lokasi yang dinilai layak untuk dijadikan tempat pemakaman khusus tersebut.

Lahan yang tersedia cukup luas sehingga diharapkan dapat dimanfaatkan untuk jangka panjang sebagai tempat peristirahatan terakhir tokoh-tokoh yang memiliki jasa bagi keluarga besar Wahid Hasyim.

Noor Achmad menegaskan, kompleks pemakaman itu bukan diperuntukkan bagi masyarakat umum.

Nantinya, akan ada kriteria tersendiri bagi mereka yang dapat dimakamkan di lokasi tersebut.

“Memang makbaroh ini tidak untuk umum, tapi khusus untuk Keluarga Besar Wahid Hasyim. Yang bisa masuk di sini nanti ada kualifikasinya, walaupun kami tidak membatasi, karena kalau semuanya ke sini juga nanti tidak cukup,” jelasnya.

Selain membahas kompleks pemakaman, Noor Achmad juga mengungkapkan rencana pengembangan fasilitas pendidikan pesantren di Kampus 2 Unwahas.

Yayasan telah menyiapkan lokasi untuk pembangunan pesantren sebagai bagian dari pengembangan kawasan kampus tersebut.

Terkait keberlanjutan Majelis Mujahadah Asmaul Husna yang telah berkembang hingga sejumlah negara di Asia, Noor Achmad memastikan kegiatan tersebut tetap berjalan.

Tongkat estafet pengelolaan majelis akan diteruskan oleh putra almarhum, Hamid Sakti Wibowo atau Gus Hamid.

Baca Juga  Pemkab Semarang Salurkan Bantuan Rp1 Juta kepada 199 Warga Rentan Sosial

Sementara itu, pihak yayasan tetap memberikan perlindungan terhadap keberlangsungan kegiatan tersebut.

“Tadi sudah kami umumkan, kami tetap menjadi pelindung, tapi yang meneruskan itu putranya yang namanya Gus Hamid, Hamid Sakti,” ungkapnya.

Ulama dan Pendidik yang Tekankan Kefasihan Al-Qur’an

KH Amdjad Al-Hafidz memiliki nama lengkap Drs KH Amdjad Al-Hafidz, BSc, MPd. Ia lahir di Wonokromo, Yogyakarta, pada 13 April 1948.

Semasa hidupnya, almarhum dikenal sebagai pengasuh Mujahadah Asmaul Husna, salah satu pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Luhur Wahid Hasyim, serta dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Unwahas.

Dalam dunia pendidikan, KH Amdjad dikenal memiliki perhatian besar terhadap kemampuan mahasiswa membaca Al-Qur’an secara benar dan fasih.

Saat mengampu mata kuliah bimbingan baca tulis Al-Qur’an, ia lebih mengutamakan praktik pelafalan huruf hijaiyah dan ketepatan bacaan dibandingkan penyampaian teori metode pembelajaran.

Bahkan, pembenahan bacaan Surah Al-Fatihah menjadi perhatian khusus.

Ia melakukan tashih atau pemeriksaan bacaan kepada setiap mahasiswa agar mereka memiliki kemampuan yang baik ketika menjalankan tugas sebagai imam salat.

Baginya, lulusan Unwahas harus memiliki bekal keagamaan yang memadai.

Ia tidak ingin alumni perguruan tinggi tersebut mendapat kritik karena kurang tepat atau kurang fasih ketika membaca ayat-ayat Al-Qur’an saat menjadi imam.

Baca Juga  Pengguna Perempuan Kereta Api di Daop 4 Semarang Tembus 2,63 Juta, KAI Tingkatkan Layanan

Perjalanan keilmuan Al-Qur’an KH Amdjad dimulai dengan menyelesaikan hafalan di bawah bimbingan Kiai Cholid Harun di Segorosoyo, Bantul, Yogyakarta.

Ia kemudian memperdalam ilmu di Pesantren Al-Munawir Krapyak, Yogyakarta, dengan berguru kepada KH Achmad Munawir AH dan KH Mufid Mas’ud AH.

Pengembaraan keilmuannya berlanjut ke Semarang. Di kota ini, ia belajar kepada KH Muhammad Mu’in AH di Wotprau, Semarang Tengah.

Ia juga menimba ilmu dari KH Abdullah Umar AH dan KH Turmudzi Taslim AH di kawasan Kauman, Semarang Tengah.

Sebelum mengabdikan diri sebagai dosen Unwahas, KH Amdjad aktif mengikuti Majelis Mudarosah Khatmil Qur’an, sebuah forum pengajian dan khataman Al-Qur’an yang digerakkan para alumni santri KH Abdullah Umar AH.

Dalam organisasi keulamaan, almarhum juga pernah mengemban sejumlah amanah di Jam’iyyatul Qurra’ wal-Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Jawa Tengah.

Ia tercatat sebagai penasihat Pimpinan Wilayah JQHNU Jawa Tengah untuk masa khidmat 2026-2031.

Sebelumnya, ia menjabat Rais Majelis Ilmi PW JQHNU Jawa Tengah periode 2021-2026 serta Ketua II pada periode 2016-2021.

Kepergian KH Amdjad meninggalkan duka bagi keluarga besar Unwahas, kalangan pesantren, organisasi keagamaan, serta masyarakat yang selama ini mengenal dan mengikuti perjuangan dakwahnya. (arh)

Berita Terkait

Dishub Kota Semarang Tindak Tegas Pelanggaran Parkir, Dua Kendaraan Jadi Sasaran Penertiban
Posyandu di Semarang Kini Jangkau Enam Bidang Pelayanan, Agustina Luncurkan Aplikasi 6 SPM
Tiga Kelompok Wayang Legendaris Bakal Satu Panggung di Simpang Lima Semarang
Tak Sekadar Peringati HKN, RSUD Bumiayu Hadirkan Aksi Nyata Melalui Sunat Massal Gratis
Ahmad Luthfi Buka Dialog soal Upah 2027, Buruh Desak KHL Jadi Acuan Utama
Tim Dalwas Periksa Lima Jembatan Garuda di Boyolali, Pastikan Konstruksi Sesuai Standar
Bawahan Menyadap Presiden: Ketika Loyalitas Mengalahkan Integritas Negara
Dua Generasi, Satu Kebanggaan: Ayah dan Anak Abdi Negara Sukses Sandang Gelar Sarjana Hukum

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 11:29 WIB

Dishub Kota Semarang Tindak Tegas Pelanggaran Parkir, Dua Kendaraan Jadi Sasaran Penertiban

Kamis, 5 November 2026 - 10:43 WIB

Posyandu di Semarang Kini Jangkau Enam Bidang Pelayanan, Agustina Luncurkan Aplikasi 6 SPM

Kamis, 5 November 2026 - 10:31 WIB

Tiga Kelompok Wayang Legendaris Bakal Satu Panggung di Simpang Lima Semarang

Rabu, 4 November 2026 - 23:42 WIB

Tak Sekadar Peringati HKN, RSUD Bumiayu Hadirkan Aksi Nyata Melalui Sunat Massal Gratis

Rabu, 4 November 2026 - 22:29 WIB

Ribuan Pelayat Antar KH Amdjad ke Peristirahatan Terakhir di Makam Keluarga Besar Wahid Hasyim

Rabu, 4 November 2026 - 12:44 WIB

Ahmad Luthfi Buka Dialog soal Upah 2027, Buruh Desak KHL Jadi Acuan Utama

Rabu, 4 November 2026 - 12:29 WIB

Tim Dalwas Periksa Lima Jembatan Garuda di Boyolali, Pastikan Konstruksi Sesuai Standar

Rabu, 4 November 2026 - 10:32 WIB

Bawahan Menyadap Presiden: Ketika Loyalitas Mengalahkan Integritas Negara

Berita Terbaru