KAB SEMARANG | Kabarjateng.id – Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan menjadi salah satu agenda Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Tengah menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda).
Salah satunya diwujudkan melalui aksi penghijauan dengan menanam 1.001 bibit pohon di kawasan lereng Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Minggu (1/11/2026).
Aksi tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial pra-Musda, tetapi juga menjadi ajang mempererat kerja sama berbagai organisasi, komunitas, dan pemerintah dalam menjaga keseimbangan alam.
Sejumlah elemen turut ambil bagian dalam kegiatan ini, di antaranya HKTI Jawa Tengah, Tim Reaksi Cepat (TRC) Jawa Tengah, Serikat Pekerja Nasional (SPN) Kabupaten Semarang, Srikandi TRC, Perhutani, serta jajaran pemerintah provinsi dan kabupaten.
Partisipasi juga datang dari mahasiswa, pelajar, komunitas pendaki gunung, hingga kelompok pemerhati lingkungan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur Jawa Tengah, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, dan Bupati Semarang.
Ketua Panitia Musda HKTI Jawa Tengah, Hj. Sri Hartini, mengatakan gerakan penghijauan tersebut merupakan bentuk kepedulian organisasi terhadap keberlanjutan lingkungan sekaligus upaya membangun kemitraan dengan berbagai pihak.
Menurutnya, HKTI terbuka untuk bekerja sama dengan seluruh elemen yang memiliki perhatian terhadap pertanian, kehutanan, dan pelestarian lingkungan.
“HKTI akan selalu bersinergi dengan semua elemen, baik pemerintah, swasta, maupun organisasi yang bergerak di sektor pertanian, alam, lingkungan hidup dan lainnya,” ujar Sri Hartini seusai kegiatan.
Ia menilai persoalan lingkungan tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja.
Dibutuhkan keterlibatan banyak unsur agar upaya pelestarian alam dapat berjalan secara konsisten dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Penghijauan Harus Diikuti Perawatan
Sri Hartini menjelaskan, kawasan lereng Gunung Ungaran memiliki fungsi ekologis penting, terutama dalam menjaga ketersediaan air, mencegah erosi, serta mempertahankan kelestarian ekosistem.
Karena itu, penanaman 1.001 pohon diharapkan menjadi kontribusi nyata dalam menjaga kawasan tersebut agar tetap lestari.
Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program penghijauan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya bibit yang ditanam.
Perawatan setelah penanaman juga menjadi faktor penting agar tanaman dapat tumbuh dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Pemilihan jenis tanaman yang sesuai dengan karakteristik lahan, pemantauan pertumbuhan, serta keterlibatan masyarakat dinilai perlu menjadi perhatian bersama.
“Gerakan ini harus dilanjutkan dengan pemantauan dan evaluasi secara berkala. Jangan sampai penanaman hanya berhenti pada kegiatan hari ini, tetapi harus dipastikan pohon-pohon tersebut tumbuh dan memberikan manfaat bagi lingkungan,” ungkapnya.
Musda Jadi Momentum Penguatan Program HKTI
Lebih jauh, rangkaian kegiatan pra-Musda diharapkan menjadi titik penguatan peran HKTI Jawa Tengah dalam menghadapi berbagai tantangan sektor pertanian.
Sri Hartini menegaskan, keberhasilan pertanian tidak hanya bergantung pada kemampuan petani dalam mengelola lahan.
Ketersediaan air, kesuburan tanah, kondisi hutan, dan kualitas lingkungan juga menjadi faktor penentu.
Oleh sebab itu, HKTI perlu memperluas kolaborasi agar kepentingan petani dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian sumber daya alam.
Ia berharap pelaksanaan Musda HKTI Jawa Tengah nantinya tidak sekadar menjadi agenda pergantian atau pembentukan kepengurusan baru.
Lebih dari itu, forum tersebut harus mampu melahirkan program kerja yang konkret dan menyentuh kebutuhan petani.
“Musda HKTI Jawa Tengah diharapkan menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus memperkuat program kerja yang terukur, berkelanjutan, serta memberikan manfaat nyata bagi petani dan masyarakat luas,” harap Sri Hartini.
Melalui penanaman ribuan pohon di lereng Gunung Ungaran, HKTI Jawa Tengah ingin menegaskan bahwa pembangunan sektor pertanian harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan.
Kolaborasi lintas elemen pun diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pra-Musda, melainkan terus berlanjut dalam aksi nyata. (lim)






