SEMARANG | Kabarjateng.id – Warna bulu yang putih membuat harimau ini terlihat berbeda dan kerap menjadi magnet bagi pengunjung kebun binatang.
Namun, di balik penampilannya yang eksotis, harimau putih memiliki karakteristik genetik yang perlu mendapat perhatian dalam upaya konservasi.
Koordinator Bidang Konservasi sekaligus dokter satwa Semarang Zoo, drh. Yudi Ardianto, menjelaskan bahwa warna putih pada harimau berkaitan dengan faktor genetik.
Kondisi tersebut dapat muncul akibat pewarisan gen tertentu, sementara perkawinan sedarah berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada keturunannya.
“Harimau yang berwarna putih itu karena faktor genetik yang tidak sempurna. Ini biasa terjadi pada satwa yang lahir dari perkawinan sedarah atau inbreeding,” jelas Yudi, Minggu (25/10/2026).
Ia menerangkan, perkawinan sedarah relatif jarang terjadi di alam liar.
Harimau yang telah dewasa biasanya meninggalkan wilayah asal untuk mencari daerah jelajah baru sehingga peluang kawin dengan kerabat dekat cenderung lebih kecil.
Sebaliknya, lingkungan penangkaran memiliki keterbatasan pilihan pasangan.
Apabila pengelolaan perkembangbiakan tidak memperhatikan hubungan kekerabatan, risiko perkawinan sedarah dapat meningkat.
Menurut Yudi, harimau putih juga berpotensi mengalami kesulitan berkamuflase ketika berburu di habitat alami.
Warna bulunya yang mencolok dapat membuatnya lebih mudah terlihat di lingkungan tertentu.
Risiko kesehatan juga menjadi perhatian, terutama apabila warna putih tersebut muncul dalam garis keturunan yang memiliki masalah genetik akibat perkawinan sedarah.
“Harimau hasil perkawinan sedarah, meskipun tidak berwarna putih, pada dasarnya lebih rawan mengalami masalah kesehatan,” ungkapnya.
Di sisi lain, Semarang Zoo terus berupaya memperbaiki pengelolaan koleksi satwa.
Direktur Semarang Zoo, Bimo Wahyu Widodo, mengatakan konservasi tidak hanya berkaitan dengan perawatan hewan, tetapi juga pengelolaan perkembangbiakan, keragaman genetik, dan keseimbangan populasi.
Menurut Bimo, sejumlah satwa membutuhkan pasangan yang sesuai, sedangkan jenis lainnya perlu mendapat perhatian agar jumlah populasinya tetap terkendali.
“Pekerjaan rumah kita masih banyak, termasuk konservasi. Ada satwa yang perlu perbaikan genetik karena keturunannya masih sedarah, dan ada juga yang belum memiliki pasangan. Ini yang terus kami upayakan,” ujarnya.
Salah satu rencana yang tengah dipersiapkan adalah pertukaran orangutan dengan Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta.
Semarang Zoo memiliki tiga orangutan yang semuanya berjenis kelamin jantan.
Melalui rencana tersebut, seekor orangutan jantan akan ditukar dengan orangutan betina dari Ragunan.
Semarang Zoo juga merencanakan kedatangan sepasang burung pelikan dari Ragunan untuk menambah koleksi satwa.
Bimo berharap seluruh persyaratan administrasi dan perizinan dapat segera diselesaikan dengan melibatkan BKSDA Jawa Tengah, BKSDA Jakarta, serta Kementerian Kehutanan.
Pengelolaan koleksi turut mencakup tiga ekor gajah yang terdiri atas dua jantan dan satu betina.
Semarang Zoo berencana menukar satu gajah jantan dengan gajah betina sebagai bagian dari pengaturan koleksi.
Seluruh pertukaran satwa harus melalui prosedur dan persetujuan instansi berwenang. Pelaporan juga mencakup data kelahiran, kematian, serta perpindahan satwa.
Sementara itu, populasi buaya muara di Semarang Zoo saat ini mencapai 27 ekor.
Sejumlah indukan yang produktif membuat pengelola mempertimbangkan pengaturan jumlah satwa melalui mekanisme pertukaran.
“Jumlah yang banyak itu perlu dikurangi dengan menukar satwa sehingga kita tidak kelebihan populasi dan punya koleksi baru,” kata Bimo.
Ia menegaskan, keberadaan kebun binatang tidak semata-mata ditujukan sebagai tempat rekreasi.
Semarang Zoo juga ingin memperkuat fungsi konservasi dan edukasi agar masyarakat, terutama anak-anak, memahami pentingnya menjaga kelestarian satwa.
“Satwa bukan hanya untuk ditonton, tetapi juga untuk edukasi, terutama anak-anak,” pungkasnya. (dkp)






