SEMARANG, Kabarjateng.id – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bersama Gubernur Ahmad Luthfi meninjau lokasi tanah gerak di Kampung Sekip RT 07 RW 01, Kelurahan Jangli, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Sabtu sore, 14 Februari 2026.
Dalam kunjungan itu, Gibran dan Luthfi meminta warga terdampak tanah gerak Semarang tidak bolak-balik ke rumah demi keselamatan, sekaligus memastikan pemerintah memenuhi seluruh kebutuhan pengungsi dan mempercepat proses relokasi.
Di tengah gerimis, Wapres dan Gubernur berdialog dengan warga yang kini mengungsi tak jauh dari lokasi retakan tanah.
Siapkan Lahan Relokasi
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Semarang untuk menyiapkan tempat relokasi sementara bagi warga terdampak tanah gerak Semarang.
“Semua kebutuhan pokok kami penuhi. Sementara ini mboten usah tinggal wonten omah sing lemahe gerak (Sementara ini tidak usah tinggal di rumah yang tanahnya bergerak). Lebih baik menyelamatkan diri dan keluarga sambil menunggu tempat yang camat dan lurah tunjuk,” kata Ahmad Luthfi kepada warga.
Ia menegaskan, Pemprov Jawa Tengah dan Pemkot Semarang menanggung bersama biaya relokasi korban tanah gerak Semarang.
Selain itu, Kementerian Pekerjaan Umum turut membantu penanganan dampak tanah gerak tersebut.
“Sedaya ngopeni Njenengan. Hari ini Wapres turun langsung untuk memastikan Bapak-Ibu sekalian dalam kondisi aman,” ujar Ahmad Luthfi.
Wapres Gibran menempatkan keselamatan warga sebagai prioritas utama.
Ia meminta masyarakat tidak kembali ke rumah lama karena potensi perluasan pergerakan tanah masih belum bisa dipastikan.
“Keselamatan nomor satu. Hati-hati, di sini banyak anak-anak dan lansia. Minggu lalu saya ke Tegal, lokasinya juga cukup parah seperti ini. Kami arahkan warga untuk mengungsi. Dalam kondisi seperti ini sangat berbahaya. Yang penting tidak ada korban,” ujar Gibran.
Berdasarkan data kelurahan, sebanyak 66 jiwa kini mengungsi di enam tenda darurat yang berdiri sekitar 100–200 meter dari lokasi terdampak.
Petugas menyiapkan logistik dan fasilitas dasar, termasuk kamar mandi, untuk memenuhi kebutuhan warga selama di pengungsian.
Lurah Jangli, Maria Tresia Takandare, menjelaskan pemerintah merencanakan relokasi sementara selama kurang lebih dua bulan.
Pemerintah meminjam lahan milik warga untuk hunian sementara sambil menyiapkan solusi hunian tetap.
“Kami siapkan tempat relokasi sementara kurang lebih dua bulan, sambil mencari dan menyiapkan hunian tetap,” katanya.
Salah seorang warga, Subiyanti (44), berharap kehadiran pemerintah pusat dan daerah dapat mempercepat solusi bagi para korban.
Ia menyebut sebagian besar warga telah tinggal di kampung tersebut selama puluhan tahun.
“Mudah-mudahan pemerintah bisa membantu dan memberi solusi cepat. Kami tetap tinggal di pengungsian karena situasinya belum memungkinkan untuk kembali,” ujarnya.
Editor: Mualim







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.