SURAKARTA, Kabarjateng.id – Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HMP PAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar diskusi akademik yang menyoroti fenomena “Login Muhammadiyah” di kalangan generasi muda.
Kegiatan berlangsung di Hall Djazman Al Kindi, Jumat (10/4/2026).
Konsep “Login Muhammadiyah” Menarik Minat Gen-Z
Dalam forum tersebut, pemantik diskusi M. Faozan Syifaur Rahman dan Khoirul Ibadi Pinem membedah konsep “Login Muhammadiyah” sebagai pendekatan baru anak muda dalam memahami dan mengamalkan nilai keislaman ala Muhammadiyah.
Faozan menjelaskan, istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika seseorang mulai mengadopsi cara berpikir dan praktik beragama yang selaras dengan prinsip Muhammadiyah.
“Login Muhammadiyah bisa dianalogikan seperti masuk ke dalam sistem nilai dan pola pikir khas Muhammadiyah, baik secara ideologis maupun praktis,” ujarnya.
Ia menilai, karakter Muhammadiyah yang sederhana, rasional, dan responsif terhadap perkembangan zaman membuat organisasi ini semakin relevan di mata generasi Z.
Pola tersebut sesuai dengan kecenderungan anak muda yang menginginkan sistem yang jelas, efisien, dan adaptif.
Dua Bentuk Login: Kultural dan Struktural
Faozan membagi fenomena tersebut ke dalam dua bentuk, yakni login kultural dan login struktural.
Login kultural tampak dari kesamaan cara pandang serta praktik sosial keagamaan.
Sementara itu, login struktural hadir melalui keanggotaan resmi, seperti pendaftaran Nomor Baku Muhammadiyah (NBM) lewat aplikasi MASA.
Data dari Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) turut memperkuat temuan tersebut.
Sebanyak 89,4 persen responden dari kalangan muda menilai Muhammadiyah sebagai organisasi yang mandiri, adaptif, dan rasional.
Momentum Idul Fitri Picu Ketertarikan
Faozan menambahkan, perhatian terhadap Muhammadiyah meningkat saat momentum penetapan Idul Fitri 1447 Hijriah.
Perdebatan mengenai metode penentuan awal bulan hijriah serta berbagai opini publik memicu rasa ingin tahu generasi muda terhadap sikap Muhammadiyah.
Peran Pendidikan Perkuat Daya Tarik
Khoirul Ibadi Pinem menekankan peran penting institusi pendidikan Muhammadiyah dalam memperkuat daya tarik organisasi.
Ia menyebut, lembaga pendidikan Muhammadiyah menjalankan tiga fungsi utama, yakni pendidikan, dakwah, dan perkaderan.
Fungsi pendidikan menghadirkan integrasi antara ilmu modern dan nilai Al-Qur’an.
Fungsi dakwah memastikan setiap aktivitas akademik sejalan dengan misi keislaman Muhammadiyah.
Adapun fungsi perkaderan menyiapkan generasi penerus untuk melanjutkan estafet kepemimpinan.
“Lembaga pendidikan menjadi fondasi utama dalam menanamkan nilai Muhammadiyah. Dari sana, generasi muda merasa dekat secara ideologis dan terdorong terlibat secara struktural,” jelasnya.
Konsistensi Nilai Jadi Kunci
Diskusi ini menegaskan bahwa fenomena “Login Muhammadiyah” bukan sekadar tren media sosial.
Fenomena ini mencerminkan keberhasilan Muhammadiyah menjaga konsistensi nilai, kemandirian, dan rasionalitas di tengah dinamika zaman. (af)






