SEMARANG, Kabarjateng.id – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Semarang mengajak Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Kecamatan Tembalang untuk berperan aktif menyukseskan berbagai program strategis pemerintah kota.
Peran perempuan dinilai sangat krusial, terutama dalam membangun kebiasaan positif di lingkungan keluarga.
Ketua TP PKK Kota Semarang, Listyati Purnama Rusdiana, menilai kader Muslimat NU memiliki kekuatan besar dalam menggerakkan masyarakat.
Menurutnya, keterlibatan ibu-ibu dalam organisasi kemasyarakatan jauh lebih efektif dalam membentuk pola hidup sehat dibandingkan pendekatan struktural semata.
“Di tingkat keluarga, yang paling berperan adalah ibu-ibu. Karena itu, pergerakan sosial akan lebih terasa jika digerakkan oleh organisasi perempuan seperti Muslimat NU,” ujar Listyati saat menghadiri pengajian dan pertemuan rutin PAC Muslimat NU di RT 02 RW 08 Kelurahan Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Minggu (11/1/2026).
Ia mendorong Muslimat NU untuk turut mengedukasi masyarakat agar membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat, mulai dari memilah serta mengolah sampah rumah tangga hingga upaya pencegahan stunting.
Menurutnya, kebiasaan tersebut harus dimulai dari rumah dan dilakukan secara berkelanjutan.
Listyati juga memaparkan bahwa di Kota Semarang terdapat sekitar 10.600 RT, yang masing-masing menerima alokasi dana kegiatan PKK sebesar Rp3 juta per tahun, ditambah anggaran operasional RT.
Dana tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal melalui gerakan nyata di masyarakat.
“Anggaran sudah tersedia, tinggal bagaimana masyarakat bergerak. Karena itu perlu kolaborasi antara PKK dan organisasi perempuan yang aktif, seperti Muslimat NU, Fatayat, maupun Aisyiyah,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan pesan Wali Kota Semarang agar seluruh elemen masyarakat bersinergi mendukung lima program prioritas daerah, yakni Semarang Bersih, Semarang Sehat, Semarang Cerdas, Semarang Tangguh, dan Semarang Makmur.
Program-program tersebut dinilai penting sebagai fondasi menyiapkan generasi masa depan.
“Bonus demografi harus disambut dengan kesiapan sumber daya manusia yang unggul. Jika tidak dipersiapkan sejak sekarang, justru bisa memicu masalah sosial seperti pengangguran dan kemiskinan,” tegasnya.
Terkait lingkungan, Listyati mengungkapkan bahwa baru sekitar 36 persen rumah tangga di Kota Semarang yang konsisten menjalankan program pilah sampah.
Data tersebut dihimpun melalui sistem informasi manajemen PKK dan menjadi bahan evaluasi kinerja pemerintah wilayah.
Sementara itu, Ketua PAC Muslimat NU Kecamatan Tembalang, Dwi Supratiwi, menyatakan kesiapan organisasinya untuk bersinergi dengan pemerintah.
Sejak terpilih dalam Konferensi Anak Cabang pada 19 Desember 2025, pihaknya langsung menyusun program prioritas masa khidmah 2025–2030.
Ia menjelaskan, terdapat tiga program unggulan yang akan menjadi fokus, yakni Mustika Darling (Muslimat Sadar Lingkungan), Mustika Mesem (Muslimat Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem), dan Mustika Segar (Muslimat Sehat dan Bugar).
“Tiga program ini menjadi wujud nyata kontribusi Muslimat NU. Kami ingin menegaskan bahwa Muslimat NU bukan hanya wadah pengajian, tetapi juga motor kegiatan sosial dan kemasyarakatan,” pungkasnya. (arh)
Editor: Mualim






