PEKALONGAN | kabarjateng.id — Bagi sebagian keluarga, pendidikan anak seringkali dipandang sederhana: yang penting sekolah, lulus, kemudian bekerja.
Pilihan untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi belum selalu menjadi bagian dari rencana yang dibicarakan sejak awal di dalam keluarga.
Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian Pemerintah Desa Tunjungsari, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan.
Melihat pentingnya membangun orientasi pendidikan masyarakat, Pemerintah Desa Tunjungsari menggagas sebuah grand project “1 KK 1 Sarjana” sebagai cita-cita jangka panjang agar setiap keluarga di desa memiliki setidaknya satu anggota keluarga yang dapat mengenyam pendidikan tinggi.
Gagasan tersebut tidak lahir semata-mata untuk mengejar bertambahnya jumlah sarjana di desa.
Lebih dari itu, “1 KK 1 Sarjana” diarahkan sebagai upaya membangun budaya pendidikan dari lingkungan keluarga.
Pemerintah desa melihat bahwa perubahan orientasi pendidikan perlu dimulai dari rumah, tempat anak pertama kali membangun pandangan mengenai masa depannya.
Dalam proses pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Tim II Universitas Diponegoro di Desa Tunjungsari, gagasan tersebut kemudian mendapatkan penguatan melalui program Peningkatan Orientasi Pendidikan Masyarakat melalui Edukasi dan Pemetaan Aspirasi Pendidikan.
Program KKN tidak mengambil alih gagasan yang telah dibangun oleh desa, melainkan memperkuatnya melalui edukasi kepada masyarakat serta pemetaan aspirasi pendidikan generasi muda.
Program tersebut dilaksanakan secara bertahap dengan melibatkan tiga kelompok sasaran, yaitu ibu-ibu PKK, siswa sekolah dasar, dan wali murid.
Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan menjangkau 77 peserta, terdiri atas 36 ibu-ibu PKK, 23 siswa sekolah dasar, dan 18 wali murid.
Kegiatan kepada siswa juga menghasilkan database awal mengenai cita-cita dan rencana jenjang pendidikan mereka.
Ketika “Cepat Kerja” Menjadi Pilihan Utama
Salah satu temuan penting dari proses edukasi dan diskusi bersama masyarakat adalah adanya pandangan bahwa pendidikan menengah, khususnya SMK, sudah cukup untuk menjadi bekal memasuki dunia kerja.
Pandangan tersebut muncul bukan karena masyarakat tidak peduli terhadap pendidikan.
Justru sebaliknya, orang tua memiliki keinginan agar anak-anak mereka memiliki masa depan yang baik.
Namun, bagi sebagian keluarga, kemampuan anak untuk segera bekerja setelah menyelesaikan pendidikan menengah dipandang sebagai pilihan yang lebih realistis.
Dalam diskusi bersama ibu-ibu PKK, misalnya, muncul pandangan bahwa “mending SMK, bisa langsung kerja”.
Cara pandang tersebut menunjukkan bahwa orientasi pendidikan masyarakat masih kuat dipengaruhi oleh kebutuhan untuk memperoleh keterampilan dan penghasilan dalam waktu yang relatif cepat.
Pandangan ini tentu tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang salah. Setiap keluarga memiliki kondisi ekonomi, kebutuhan, dan pertimbangan masing-masing.
Pendidikan SMK juga merupakan salah satu jalur pendidikan yang dapat mempersiapkan peserta didik memasuki dunia kerja.
Namun, tantangannya adalah memastikan bahwa pilihan tersebut benar-benar lahir dari informasi dan pertimbangan yang luas, bukan karena anak atau orang tua merasa bahwa kuliah merupakan sesuatu yang terlalu jauh, terlalu mahal, atau bukan pilihan yang mungkin dicapai.
Karena itu, penguatan orientasi pendidikan menjadi penting.
Masyarakat perlu mengetahui bahwa setelah pendidikan menengah terdapat berbagai pilihan yang dapat dipertimbangkan, termasuk pendidikan tinggi, beasiswa, dan berbagai jalur masuk perguruan tinggi.
Sekretaris Desa Tunjungsari melihat bahwa persoalan utama bukan semata-mata kurangnya kepedulian terhadap pendidikan.
Orang tua tetap ingin anaknya sekolah. Yang perlu dibangun adalah keberanian untuk menjadikan pendidikan tinggi sebagai bagian dari cita-cita keluarga.
“Yang perlu diubah bukan cuma soal biaya atau akses, tapi mindset. Gimana caranya supaya orang tua dan anak-anak sama-sama punya keyakinan kalau kuliah itu sesuatu yang mungkin untuk dicapai, bukan cuma mimpi,” ujar Iqbal, Carik Desa Tunjungsari.
Dari sinilah gagasan “1 KK 1 Sarjana” mendapatkan makna yang lebih luas.
Gerakan tersebut tidak diarahkan sekadar untuk menghasilkan angka statistik mengenai jumlah sarjana.
Tujuan yang ingin dibangun adalah perubahan kebiasaan berpikir di dalam keluarga.
Jika sebelumnya pertanyaan yang muncul setelah anak lulus sekolah adalah, “Nanti mau kerja di mana?”, maka ke depan diharapkan muncul pertanyaan lain: “Nanti kamu mau kuliah di mana?”
Perubahan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat menjadi langkah awal untuk membangun budaya pendidikan di tingkat keluarga.
Anak-anak Tunjungsari diharapkan berani memiliki cita-cita besar tanpa merasa bahwa tinggal di desa menjadi batas bagi masa depan mereka.
Dokter, hakim, dosen, guru, insinyur, pengusaha, maupun profesi lainnya dapat menjadi pilihan yang mereka impikan dan perjuangkan.
KKN Memperkuat dari Sisi Edukasi dan Pemetaan
Dalam pelaksanaannya, KKN memperkuat gagasan tersebut melalui pendekatan edukasi yang menyasar anak sekaligus lingkungan keluarganya.
Kegiatan bersama ibu-ibu PKK membahas pentingnya pendidikan tinggi, jalur masuk perguruan tinggi, peluang beasiswa, serta prospek pendidikan dan karier.
Sementara itu, siswa sekolah dasar diajak mengenali berbagai cita-cita dan profesi serta memahami bahwa pendidikan merupakan salah satu proses untuk mewujudkan cita-cita tersebut.
Kegiatan kemudian diperluas melalui sosialisasi kepada wali murid.
Langkah ini penting karena keputusan mengenai keberlanjutan pendidikan anak tidak hanya berada di tangan anak, tetapi juga dipengaruhi oleh dukungan dan pemahaman keluarga.
Pada tahap edukasi siswa, mahasiswa juga melakukan pemetaan aspirasi pendidikan melalui lembar cita-cita.
Data tersebut kemudian dihimpun menjadi database awal mengenai cita-cita dan rencana jenjang pendidikan siswa Desa Tunjungsari.
Database ini dapat menjadi salah satu dasar bagi desa untuk memahami aspirasi pendidikan generasi mudanya.
Dengan demikian, program KKN tidak berhenti pada penyampaian materi.
Edukasi dan pemetaan tersebut menjadi bentuk penguatan terhadap grand project yang telah digagas Pemerintah Desa Tunjungsari, sehingga gagasan “1 KK 1 Sarjana” memiliki dasar yang lebih konkret untuk dikembangkan.
Dari Gagasan Menjadi Gerakan Bersama
Ke depan, Pemerintah Desa Tunjungsari berharap gagasan “1 KK 1 Sarjana” dapat dirumuskan menjadi program yang lebih terarah dan realistis.
Hasil kegiatan KKN dapat menjadi bahan awal untuk melihat kondisi pendidikan, aspirasi anak-anak, serta tantangan yang dihadapi masyarakat.
Langkah berikutnya dapat dilakukan secara bertahap melalui pemutakhiran data aspirasi pendidikan siswa, penyebaran informasi mengenai jalur perguruan tinggi dan beasiswa, pendampingan bagi anak yang ingin melanjutkan pendidikan, serta penguatan peran keluarga.
Konsep keberlanjutan tersebut juga telah dirumuskan dalam laporan program melalui tahapan pemetaan aspirasi, penyebaran informasi, pendampingan, penguatan peran keluarga, dan pengembangan program desa.
Bagi Pemerintah Desa Tunjungsari, keberhasilan gerakan ini pada akhirnya bukan hanya ketika semakin banyak keluarga memiliki anggota yang bergelar sarjana.
Lebih jauh, keberhasilan tersebut terletak pada tumbuhnya keyakinan bahwa pendidikan tinggi merupakan pilihan yang mungkin ditempuh oleh anak-anak desa.
Sebab pendidikan tidak selalu memberikan perubahan secara instan.
Namun, ketika satu anggota keluarga berhasil mengenyam pendidikan tinggi, peluang untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman, pekerjaan, dan kesempatan yang lebih luas juga dapat terbuka.
Dan ketika satu anak berhasil, ia tidak hanya menjadi kebanggaan keluarganya. Ia dapat menjadi contoh bagi adik-adiknya, tetangganya, dan anak-anak lain di Tunjungsari.
Pada akhirnya, “1 KK 1 Sarjana” bukan sekadar target untuk menghasilkan sarjana.
Ia adalah upaya membangun budaya pendidikan, memperluas harapan, dan memutus rantai keterbatasan melalui pendidikan.
Karena mimpi besar tidak seharusnya berhenti hanya karena seseorang lahir dan tumbuh di desa.
Dwi Ardiansyah
FISIP, 2023






