SEMARANG, Kabarjateng.id – Pemerintah Kota Semarang bergerak cepat menyiapkan penanganan darurat setelah jembatan penghubung antara wilayah Mangunharjo dan Tambaksari di RW 7 Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, dilaporkan roboh. Infrastruktur tersebut selama ini menjadi jalur vital bagi mobilitas warga setempat.
Peristiwa ambruknya jembatan dipicu banjir dengan intensitas tinggi yang terjadi pada Kamis (15/1). Kondisi tersebut mengakibatkan akses utama masyarakat terputus sehingga aktivitas harian warga terganggu.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyampaikan rasa prihatin atas kejadian tersebut sekaligus menegaskan bahwa aspek keselamatan warga menjadi perhatian utama pemerintah daerah.
Sejak insiden terjadi, sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) langsung diterjunkan untuk melakukan peninjauan lapangan dan memetakan tingkat kerusakan yang ada.
Berdasarkan hasil pengecekan awal, jembatan yang telah berdiri sejak pertengahan 1990-an dinilai sudah tidak lagi memiliki daya tahan optimal terhadap tekanan arus banjir yang semakin ekstrem.
Oleh sebab itu, penanganan yang disiapkan tidak hanya sebatas pembangunan ulang jembatan, tetapi juga mencakup pembenahan lingkungan sungai di sekitarnya.
Pemerintah kota menilai tingginya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir memberi dampak signifikan bagi wilayah Semarang yang didominasi dataran rendah.
Berkurangnya area resapan air di kawasan hulu membuat aliran air langsung mengarah ke hilir hingga muara, sehingga meningkatkan potensi banjir sekaligus memperbesar risiko kerusakan infrastruktur.
Sebagai langkah lanjutan, Pemkot Semarang memprioritaskan penataan bantaran sungai, normalisasi alur air, serta evaluasi kapasitas drainase dan saluran besar yang masih bisa dioptimalkan.
Program ini diproyeksikan menjadi solusi jangka menengah hingga panjang untuk mengurangi dampak banjir berulang.
Selain itu, Wali Kota juga meminta Penjabat Sekretaris Daerah bersama Bappeda, Dinas Pekerjaan Umum, BPBD, serta OPD terkait untuk melakukan evaluasi lanjutan dan memaksimalkan anggaran operasional maupun pemeliharaan infrastruktur.
Fokus penanganan diarahkan pada kawasan rawan banjir, khususnya wilayah barat dan timur Kota Semarang.
Pemerintah kota turut membuka komunikasi dengan masyarakat mengenai penataan lahan di sekitar bantaran sungai yang sebagian merupakan kepemilikan warga.
Pendekatan persuasif diutamakan agar upaya penataan lingkungan tetap berjalan tanpa mengabaikan kepentingan sosial masyarakat.
Melalui rangkaian langkah darurat dan perbaikan menyeluruh tersebut, Pemkot Semarang berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi serta aktivitas warga dapat segera kembali normal. (day)







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.