SEMARANG | Kabarjateng.id – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus berupaya memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Selain berfokus pada pemenuhan gizi, program tersebut juga diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah melalui pemanfaatan produk pangan lokal.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, meminta seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di wilayahnya agar memprioritaskan pembelian telur, daging ayam, ikan, dan berbagai bahan pangan lainnya dari petani serta peternak lokal.
Menurutnya, keberadaan ribuan dapur MBG merupakan peluang besar untuk memperkuat sektor pertanian, peternakan, perikanan, koperasi, hingga pelaku UMKM di Jawa Tengah.
Dengan tingginya kebutuhan bahan baku setiap hari, program tersebut dapat menjadi pasar yang menjanjikan bagi para produsen lokal.
Taj Yasin menegaskan bahwa kebutuhan pangan yang digunakan oleh SPPG seharusnya dapat dipenuhi terlebih dahulu dari daerah tempat dapur MBG berada.
Langkah tersebut diyakini mampu meningkatkan perputaran ekonomi di tingkat lokal sekaligus memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN), kebutuhan telur untuk mendukung operasional seluruh SPPG di Jawa Tengah mencapai ratusan ribu kilogram setiap minggu.
Namun jumlah tersebut masih jauh di bawah kapasitas produksi telur yang dimiliki Jawa Tengah sebagai salah satu sentra peternakan unggas nasional.
Melihat potensi tersebut, Pemprov Jawa Tengah berencana membangun kesepahaman bersama antara pengelola SPPG, koperasi, asosiasi peternak, dan berbagai pihak terkait guna memastikan produk lokal menjadi pilihan utama dalam pemenuhan kebutuhan bahan baku MBG.
Selain meningkatkan penyerapan hasil produksi daerah, kebijakan tersebut juga diharapkan mampu menjaga stabilitas harga komoditas di tingkat petani dan peternak.
Dengan rantai distribusi yang lebih pendek, biaya pengiriman dapat ditekan sehingga harga jual menjadi lebih kompetitif.
Taj Yasin juga menyoroti masih rendahnya harga jual telur yang diterima sebagian peternak.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian agar peternak memperoleh keuntungan yang wajar dan tidak mengalami kerugian akibat harga pasar yang berada di bawah ketentuan pemerintah.
Sementara itu, BGN bersama Satgas MBG di tingkat kabupaten dan kota akan memperkuat pengawasan terhadap rantai pasok bahan pangan.
Pengawasan dilakukan untuk memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai tujuan, yakni meningkatkan gizi masyarakat sekaligus mendorong kesejahteraan pelaku usaha lokal.
Saat ini, ekosistem Program MBG di Jawa Tengah telah melibatkan ribuan UMKM, koperasi, BUMDes, serta pemasok bahan pangan lainnya.
Keterlibatan berbagai sektor tersebut menjadi bukti bahwa program ini tidak hanya berfungsi sebagai upaya peningkatan kualitas gizi, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. (dkp)






