SEMARANG, Kabarjateng.id – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengawali panen raya padi serentak periode Januari–Maret 2026 di 35 kabupaten/kota dengan target 3,35 juta ton gabah kering giling (GKG).
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, memimpin langsung panen di Desa Jambu, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jumat, 20 Februari 2026.
Sesuai penghitungan Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, potensi produksi pada periode Januari–Maret 2026 mencapai sekitar 3,35 juta ton GKG.

Jumlah itu naik 413.698 ton atau sekitar 14 persen jika dengan periode yang sama tahun 2025.
Ahmad Luthfi menegaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memfokuskan arah pembangunan pertanian 2026 pada penguatan swasembada pangan.
Pemerintah menargetkan luas tanam padi Januari–Desember 2026 mencapai sekitar 2,38 juta hektare.
Hingga 18 Februari 2026, petani telah menanam 216.098 hektare.
Untuk produksi tahunan, Jawa Tengah menargetkan 10,55 juta ton GKG pada 2026 atau meningkat 12,22 persen dibanding realisasi 2025 sebesar 9,3 juta ton.
“Tahun 2025 kita berkontribusi 15 persen untuk nasional. Tahun 2026 harus lebih meningkat,” ujar Ahmad Luthfi usai memimpin panen raya, didampingi Bupati Semarang Ngesti Nugraha dan Kepala Perum Bulog Jawa Tengah, Sri Muniati.
Perkuat Konektivitas dan Pendampingan Petani
Untuk mengejar target tersebut, Ahmad Luthfi menginstruksikan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, agar memperkuat konektivitas dengan 35 kabupaten/kota.
Ia juga menegaskan kembali komitmen bersama para bupati dan wali kota dalam pertemuan di Surakarta pada Januari lalu.
Gubernur mendorong jajaran pertanian menjaga lahan pertanian, mempercepat mekanisasi, serta mendampingi gabungan kelompok tani (gapoktan) sejak tahap pembibitan, pemupukan, hingga pascapanen.
Sistem Sepur Percepat Siklus Tanam
Pada momentum panen raya ini, Pemprov Jawa Tengah memperkenalkan sistem mekanisasi terintegrasi bernama “sistem sepur”.
Sistem ini menggabungkan proses panen dan tanam dalam satu rangkaian kerja yang berurutan.
Defransisco Dasilva menjelaskan, operator combine harvester memanen padi di bagian depan.
Berjarak dua hingga tiga meter di belakangnya, mesin pengolah tanah langsung bekerja. Pada saat yang sama, drone menyemprotkan cairan dekomposer agar jerami cepat terurai menjadi bahan organik.
Setelah lahan siap, operator rice transplanter langsung melakukan tanam ulang.
“Berurutan seperti sepur atau kereta. Jadi panen, olah tanah, dan tanam berjalan hampir bersamaan. Cara ini mengoptimalkan lahan dan mempersingkat waktu,” ujarnya.
Menurut Tavares, sistem sepur mampu memangkas waktu hingga sekitar 90 persen dibanding metode manual.
Untuk lahan dua hektare, petani dapat menyelesaikan seluruh rangkaian pekerjaan dalam satu hari, sementara metode manual membutuhkan waktu hingga 10 hari.
Produktivitas Naik, Irigasi Terus Diperkuat
Tim di lokasi panen melakukan uji ubinan dan mencatat hasil rata-rata 6 ton per petak ubinan 25 meter persegi.
Jika petani mengoptimalkan irigasi, pemupukan, dan kualitas bibit, produktivitas bisa mencapai rata-rata 9,6 ton per hektare.
Selain mekanisasi, Gubernur juga berkoordinasi dengan Kodam IV/Diponegoro di seluruh kabupaten/kota untuk memperkuat jaringan irigasi dan menjaga keberlanjutan produksi.
Melalui perluasan tanam, penguatan irigasi, dan penerapan sistem sepur, Jawa Tengah membidik peningkatan kontribusi terhadap produksi beras nasional sekaligus memperkokoh swasembada pangan pada 2026. (ar)







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.