SEMARANG, Kabarjateng.id — Peringatan haul ulama kharismatik KH Sholeh Darat pada tahun 2026 menghadirkan kemasan budaya yang lebih semarak melalui Kirab Budaya.
Panitia menggelar kegiatan ini untuk kedua kalinya dengan konsep yang lebih matang dan bernilai edukatif.
Jika tahun sebelumnya berlangsung sederhana di kawasan Kalisari, kini panitia memusatkan kegiatan di Lapangan Kuningan yang berada dekat masjid bersejarah peninggalan beliau.
Dorong Wisata Religi dan Pelestarian Budaya
Kirab budaya tidak hanya menjadi agenda rutin, tetapi juga menjadi langkah konkret untuk mengembangkan wisata religi sekaligus mengenalkan sejarah Islam Nusantara kepada masyarakat.
Dukungan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang memperkuat posisi kegiatan ini sebagai sarana pelestarian tradisi dan penguatan identitas daerah.
Ketua Panitia, H. Ahmad Gunawan, menjelaskan bahwa panitia menyusun konsep kirab tahun ini lebih atraktif dan sarat makna.
Ia menegaskan panitia ingin menghadirkan kegiatan yang tidak hanya menarik, tetapi juga memberi pemahaman mendalam tentang perjuangan KH Sholeh Darat.
“Kami menyajikan kirab yang lebih meriah dan penuh pesan. Masyarakat tidak hanya menyaksikan, tetapi juga bisa mengambil pelajaran dari perjalanan dakwah beliau,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).
Ia juga mengajak masyarakat untuk terlibat langsung.
Menurutnya, momentum ini penting untuk merawat tradisi sekaligus memperkuat jati diri budaya lokal.
Kegiatan berlangsung pada Ahad, 19 April 2026 pukul 07.00 hingga 10.00 WIB.
Teater Sejarah dan Rute Kirab Budaya
Panitia membuka rangkaian acara dengan pementasan teater di Kampung Melayu.
Pertunjukan ini menggambarkan perjalanan KH Sholeh Darat sepulang dari Makkah menuju Semarang.
Adegan tersebut menghadirkan penyambutan oleh tokoh lokal seperti Arya Purbaningrat bersama para ulama, yang mencerminkan kuatnya jejaring keilmuan pada masa itu.
Setelah itu, peserta kirab bergerak menggunakan dokar dengan iringan pasukan bergaya Mataram Islam.
Ratusan santri dari lembaga pendidikan Al-Qur’an serta kader Nahdlatul Ulama turut meramaikan barisan.
Rute kirab melintasi Kampung Melayu, Masjid Menara, Masjid Darat, hingga berakhir di Lapangan Kuningan.
Edukasi Lintas Generasi
Wakil Ketua Panitia, Farid Zamroni, menegaskan bahwa kegiatan ini membawa misi pendidikan sejarah bagi generasi muda.
Ia menilai pendekatan budaya mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih hidup dan mudah dipahami.
“Melalui kirab dan teater, kami ingin menunjukkan bahwa perjuangan ulama tidak hanya melalui ceramah, tetapi juga lewat pendidikan dan kebudayaan,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat luas.
Menurutnya, masyarakat tidak hanya berperan sebagai penonton, tetapi juga menjadi bagian dari upaya bersama menjaga nilai-nilai keislaman dan tradisi lokal.
Kisah Kartini dan Pesan Perjuangan
Nilai edukasi semakin kuat melalui adegan yang menampilkan RA Kartini sebagai murid KH Sholeh Darat.
Cerita ini selaras dengan semangat emansipasi perempuan serta berdekatan dengan peringatan Hari Kartini.
Di Lapangan Kuningan, pertunjukan teater berlanjut dengan menggambarkan perjuangan dakwah melalui jalur pendidikan sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan.
Pesan tersebut menegaskan pentingnya pendidikan dalam membangun kesadaran dan kemandirian masyarakat.
Penampilan Seni hingga Pengajian Wayang Dakwah
Rangkaian acara berlanjut dengan penampilan kolosal 15 grup rebana yang dipimpin Gus Ihsanuddin.
Suasana semakin hidup saat Ketua PCNU Kota Semarang, H. Anasom, menyapa masyarakat melalui tembang macapat yang sarat nilai kearifan lokal.
Puncak kegiatan menghadirkan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, bersama jajaran Forkopimda.
Panitia menutup acara dengan pengajian Wayang Dakwah oleh KH Nurul Huda (Gus Huda), yang dikenal menggabungkan dakwah dengan budaya Jawa.
Melalui kirab budaya ini, panitia bersama PCNU Kota Semarang mengajak masyarakat untuk aktif berpartisipasi.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang menghidupkan nilai keislaman, kebangsaan, dan budaya dalam kehidupan sehari-hari. (dkp)







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.