BOYOLALI | Kabarjateng.id – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mematangkan strategi pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi syariah sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Kedua sektor tersebut diproyeksikan menjadi kekuatan utama dalam mendukung peningkatan investasi, kunjungan wisatawan, dan kesejahteraan masyarakat pada tahun 2027.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai potensi wisata ramah muslim di berbagai daerah masih sangat besar untuk dikembangkan.
Karena itu, pemerintah kabupaten dan kota diminta memperkuat identitas serta promosi destinasi yang memiliki keterkaitan dengan sejarah, budaya, dan nilai-nilai Islam agar lebih dikenal oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.
Menurut Luthfi, konsep wisata ramah muslim tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan halal, tetapi juga mencakup layanan dan fasilitas yang memberikan kenyamanan bagi wisatawan muslim.
Ketersediaan tempat ibadah, informasi yang mudah diakses, hingga paket wisata yang terintegrasi menjadi bagian penting dalam pengembangannya.
Potensi tersebut dinilai sangat menjanjikan, terutama untuk menarik wisatawan dari negara-negara Timur Tengah dan kawasan Asia Tenggara yang memiliki kedekatan budaya serta kebutuhan wisata serupa.
Dengan pengelolaan yang tepat, Jawa Tengah diyakini mampu menjadi salah satu destinasi unggulan wisata ramah muslim di Indonesia.
Sejumlah daerah di kawasan Solo Raya menyatakan kesiapan mendukung program tersebut.
Kabupaten Boyolali, misalnya, berkomitmen memperkuat desa wisata, industri halal, UMKM, dan ekonomi kreatif sebagai penopang utama sektor pariwisata daerah.
Di Klaten, pemerintah daerah terus mengembangkan destinasi berbasis potensi desa serta kawasan geopark yang diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan.
Tren kunjungan wisata yang terus meningkat menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Klaten sebagai salah satu tujuan wisata favorit di Jawa Tengah.
Sementara itu, Wonogiri fokus pada pengembangan kampung wisata dan perluasan sertifikasi halal bagi produk UMKM.
Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal.
Kota Surakarta juga mendorong kolaborasi antarwilayah melalui penyusunan Rencana Induk Pariwisata Solo Raya.
Dengan adanya perencanaan bersama, setiap daerah diharapkan dapat saling melengkapi dan menciptakan jaringan destinasi wisata yang terintegrasi.
Melalui sinergi lintas daerah tersebut, Jawa Tengah optimistis mampu memperkuat posisi sebagai destinasi wisata ramah muslim berkelas internasional sekaligus menjadikan ekonomi syariah sebagai salah satu penggerak utama pembangunan daerah di masa mendatang. (ar)






