TEGAL | Kabarjateng.id – Bukan hanya stamina yang diuji dalam Slamet Trail Run 2026. Para peserta juga harus menghadapi medan terjal, jalur berpasir yang licin, hingga risiko cedera demi mencapai garis finis sekaligus menikmati panorama alam Gunung Slamet.
Pengalaman itu dirasakan Devi, pelari asal Tangerang yang berlaga di kategori 45 kilometer (45K).
Saat tinggal sekitar satu kilometer menuju puncak, ia harus berjuang ekstra keras melewati jalur berpasir yang membuat langkahnya sulit maju.
Untuk menembus medan tersebut, Devi bahkan membutuhkan waktu sekitar satu jam.
Belum cukup menghadapi jalur ekstrem, betisnya juga terluka setelah terkena bongkahan batu yang jatuh dari atas.
“Jadi seperti kita naik dua langkah, turun satu langkah. Perosot lagi, naik lagi, turun lagi. Terus, kaki juga sempat kena bongkahan batu dari atas jadi agak sobek,” ungkapnya.
Meski menghadapi berbagai kesulitan, Devi mampu menyelesaikan tantangan tersebut.
Ia menjadi pelari perempuan pertama yang mencapai garis finis pada kategori 45K setelah menempuh perjalanan sekitar 11 jam.
Keikutsertaannya kali ini juga menjadi pengalaman kedua menjajal tantangan Gunung Slamet.
Kendati harus jatuh bangun melewati lintasan, ia mengaku puas dengan pengalaman yang didapat.
“Slamet Trail Run 2026, keren abis,” katanya.
Bagi Devi, mengikuti lomba lari lintas alam bukan semata-mata mengejar waktu atau menaklukkan jarak puluhan kilometer.
Ia juga ingin menikmati keindahan alam dan berinteraksi dengan masyarakat di sekitar jalur perlombaan.
Sambutan warga menjadi salah satu pengalaman yang membekas.
Sepanjang perjalanan, sejumlah warga memberikan semangat, menawarkan makanan dan minuman, bahkan mengajaknya singgah ke rumah.
“Ada yang ngajak mampir ke rumah juga. Nawarin makan, nawarin minum. Ada yang mau ngeboncengin juga,” ujarnya sambil mengenang pengalaman tersebut.
Kebiasaan menjelajahi daerah tempat perlombaan membuat Devi selalu menyempatkan diri berwisata setelah menyelesaikan tantangan.
Kali ini, ia ingin mencicipi kuliner lokal, berkeliling kawasan Guci, serta menikmati pemandian air panas.
“Setiap kali saya pulang lari pasti coba wisata kuliner, kita jalan-jalan, keliling-keliling di sini,” tuturnya.
Cerita serupa datang dari Iis, peserta asal Yogyakarta yang mengikuti kategori 25K.
Ia tertarik ambil bagian setelah sebelumnya pernah mendaki Gunung Slamet melalui jalur Guci.
Pengalaman mendaki tersebut membuatnya ingin merasakan suasana berbeda dengan berlari melintasi kawasan pegunungan.
“Saya sudah pernah muncak ke Slamet, apalagi via Guci itu memang bagus banget,” katanya.
Menurut Iis, trail run menjadi kesempatan untuk menikmati keindahan gunung sekaligus mengukur kemampuan diri dalam menghadapi medan yang menantang.
Setelah menyelesaikan perlombaan, ia berencana melanjutkan aktivitas dengan berkemah.
Ia juga telah mencari informasi mengenai destinasi wisata dan makanan khas Tegal kepada warga tempatnya menginap.
Baginya, mengenal potensi daerah yang dikunjungi merupakan bagian penting dari pengalaman mengikuti perlombaan di luar kota.
Sementara itu, Abdi Ramadan, pelari asal Cilacap yang turun di kategori 25K, sengaja memilih Gunung Slamet untuk menguji ketahanan fisik sekaligus mentalnya.
Ketertarikannya muncul setelah melihat tantangan lintasan Slamet Trail Run melalui media sosial.
Jadwal perlombaan yang dimulai pada tengah malam turut menjadi daya tarik tersendiri bagi Abdi.
Ia menilai Gunung Slamet memiliki tantangan istimewa karena merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah.
Setelah menyelesaikan perlombaan, Abdi berencana beristirahat sambil menikmati pemandian air panas di kawasan Guci.
“Kita di Slamet di atap tertinggi Jawa Tengah. Jadi saya rasa menarik dan sangat menantang,” ujarnya.
Slamet Trail Run 2026 berlangsung pada 24–25 Oktober dengan total 1.031 peserta.
Jumlah tersebut terdiri atas 908 peserta umum dan 123 peserta Kejuaraan Daerah (Kejurda) Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) Jawa Tengah.
Panitia menghadirkan lima kategori perlombaan, yakni 45K Ultra, 25K Summit, 15K Forest, 7K Vertikal, dan 5K Fun Run.
Variasi kategori tersebut memberikan pilihan tantangan bagi pelari dengan tingkat kemampuan dan target berbeda.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, turut melepas peserta pada seluruh kategori.
Ia bahkan ikut merasakan atmosfer perlombaan dengan turun langsung di kategori 5K.
Keterlibatan pemerintah provinsi dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong olahraga lari lintas alam sebagai daya tarik wisata atau sport tourism.
Sumarno mengatakan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan mendorong pengembangan pariwisata dan ekonomi syariah sebagai program unggulan pada 2027.
Dalam upaya tersebut, kegiatan olahraga yang memanfaatkan potensi alam dinilai dapat menjadi salah satu sarana promosi destinasi daerah.
Ia juga mengajak pengurus ALTI Jawa Tengah berkolaborasi agar olahraga trail run semakin berkembang dan mampu memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata.
“Dan nanti minta dukungan dari teman-teman pengurus ALTI Jawa Tengah untuk kita bersama-sama memajukan trail run ini juga menjadi bagian dari kegiatan sport tourism di Jawa Tengah,” kata Sumarno.
Menurutnya, kegiatan seperti Slamet Trail Run memiliki peluang untuk memperkenalkan potensi wisata Jawa Tengah kepada masyarakat yang lebih luas.
Kehadiran para pelari dari berbagai daerah juga membuka kesempatan bagi destinasi setempat untuk menarik kunjungan wisatawan.
“Ini juga menjadi bagian kita untuk men-support peningkatan pariwisata di Jawa Tengah,” pungkas Ketua ALTI Jateng tersebut.
Pengalaman Devi, Iis, dan Abdi memperlihatkan bahwa tantangan di Gunung Slamet bukan sekadar urusan mencapai garis finis.
Perpaduan medan ekstrem, panorama pegunungan, keramahan warga, serta wisata air panas menjadikan Slamet Trail Run sebagai ajang olahraga sekaligus pengalaman menjelajahi potensi wisata Guci, Kabupaten Tegal. (dkp)






