Menu

Mode Gelap
 

Daerah

PSHT Pusat Madiun Buka Suara, Konflik Kepentingan di Balik Penolakan Kegiatan Depok

badge-check


					Suasana kegiatan | dok istimewa. Perbesar

Suasana kegiatan | dok istimewa.

MADIUN, Kabarjateng.id – Peristiwa penolakan kegiatan oleh pemegang merek secara sah dari wilayah Depok, Jawa Barat, menjadi perhatian publik.

Kasus ini menyentuh aspek kepastian hukum sekaligus prinsip netralitas aparat negara.

Karena adanya dugaan Konflik Kepentingan di Balik Penolakan Kegiatan Depok itu.

Kegiatan batal setelah pemilik izin tempat menerima surat penolakan oleh seorang perwira aktif Polri.

Aparat itu di duga memiliki posisi sebagai pimpinan organisasi serta tidak  sepaham dengan pihak penyelenggara.

Hingga peristiwa terjadi, belum ada bukti putusan pengadilan kekuatan hukum tetap perihal sengketa merek pada kegiatan itu.

Kegiatan merupakan bagian pelaksanaan hak eksklusif atas merek Kelas 41, sebagaimana bunyi dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis.

Dalam ketentuan hukum, setiap sengketa merek perlu melalui Pengadilan Niaga.

Namun dalam kasus ini, kegiatan harus berhenti sebelum adanya proses peradilan.

Penolakan menyebabkan kegiatan yang telah memenuhi persyaratan administratif dan legal tidak mendapatkan haknya.

Dampaknya, penyelenggara menyebut mengalami kerugian materiil dan immateriil, sekaligus memunculkan kekhawatiran terganggunya kepastian hukum.

Situasi ini baru mengarah pada kemunculan dugaan Konflik kepentingan di balik penolakan kegiatan Depok, akibat adanya posisi ganda aparat.

Kondisi itu memiliki potensi menimbulkan double power effect, yakni pertautan antara kewenangan formal aparat dengan pengaruh sosial organisasi.

Konflik Antarorganisasi

LHA PSHT Pusat Madiun, Amriza Khoirul Fachri, SH menyatakan bahwa persoalan ini tidak semata konflik antarorganisasi.

“Ini menyangkut fondasi negara hukum. Ketika aparat aktif dalam posisi dengan kepentingan organisasi, tindakannya itu penjegalan kegiatan yang legal, publik pun mempertanyakan netralitasnya,” ujarnya, Sabtu (14/2/2026).

Pendapat senada oleh LHA PSHT Pusat Madiun, Edy Rudyanto, SH.

Ia menilai peristiwa itu pengingat pentingnya prinsip imparsialitas aparat negara.

Kritik yang sudah keluar, kata dia, mempunyai tujuan agar institusi tetap profesional dan netral.

Sementara itu, LHA PSHT Pusat Madiun, Hoirun Nasihin, SH mengingatkan bahwa pembiaran konflik kepentingan menciptakan preseden buruk supremasi hukum.

Ia menyampaikah bahwa dapat menimbulkan chilling effect kebebasan serikat dan pelaksanaan hak ekonomi warga negara.

Sejumlah pihak pun mendorong pemeriksaan etik independen tingkat Polda dan Mabes Polri untuk audit terbuka atas dugaan konflik kepentingan.

Serta penyampaian hasil pemeriksaan secara transparan kepada publik guna menjaga kepercayaan masyarakat.

 

Editor: Mualim

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Kang Abik Dorong Gen Z Meneladani Rasulullah sebagai Idola Utama

25 Agustus 2026 - 22:22 WIB

Jalur Wisata Boyolali Mulai Padat, Polisi Turun Tangan Atur Arus Kendaraan

25 Agustus 2026 - 20:59 WIB

Lantunan Dzikir Menggema di Andong, 900 Jamaah Hadiri Maulid Nabi

25 Agustus 2026 - 20:46 WIB

PLTS Terapung Gajah Mungkur Mulai Dibangun, Jateng Perkuat Transisi Energi Bersih

25 Agustus 2026 - 19:04 WIB

Ombudsman Jateng Soroti Transparansi Bank dalam Pemblokiran Rekening Nasabah

25 Agustus 2026 - 18:17 WIB

5 Inovasi BNI Terbaru, dari Tabungan Anak hingga Layanan Digital untuk UMKM

25 Agustus 2026 - 16:39 WIB

Trending di Daerah