Menu

Mode Gelap
 

Daerah · 19 Feb 2026 03:27 WIB

Demi Keselamatan 532 Jiwa, Pemprov Jateng Siapkan Relokasi Warga Terdampak Tanah Gerak Sirampog


					Akhmad Luthfi, Tinjau Tanah Bergerak, di Sirampog, Kabupaten Brebes, Rabu (18/02). (FOTO: Humas Pemkab Brebes) Perbesar

Akhmad Luthfi, Tinjau Tanah Bergerak, di Sirampog, Kabupaten Brebes, Rabu (18/02). (FOTO: Humas Pemkab Brebes)

BREBES, Kabarjateng.id – Keselamatan warga menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana tanah gerak yang melanda Dukuh Bojongsari, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes.

Sebanyak 175 kepala keluarga atau 532 jiwa harus meninggalkan rumah mereka dan tetap tinggal pada pengungsian karena tanah gerak yang hingga kini masih aktif dan membahayakan.

Kondisi itu mendorong Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi turun langsung meninjau lokasi pengungsian sekaligus memimpin Rapat.

Serta penanganan dan Penyerahan Bantuan di Pondok Pesantren Bahrul Qur’an Al Munawir, Sirampog, Brebes, Rabu (18/2/2026).

Dalam arahannya, Luthfi menegaskan bahwa langkah paling realistis saat ini adalah memindahkan warga dan barang-barangnya pada lokasi yang lebih aman.

Dia juga menginstruksikan percepat pembangunan hunian sementara (huntara).

“Untuk tanah gerak ini yang bisa kami lakukan adalah memindah orang dan barang,” tegasnya.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Brebes mencatat sedikitnya 143 rumah yang kena dampak.

Dari jumlah itu, 10 rumah mengalami kerusakan berat, sementara 124 lainnya ada dalam kondisi ancaman.

Tidak hanya hunian warga, dua tempat ibadah dan dua fasilitas pendidikan turut kena dampak.

Akses jalan desa sepanjang kurang lebih 700 meter juga ambles akibat tanah gerak di Brebes.

Perkembangan terakhir menunjukkan tanah masih bergerak, akibat tingginya curah hujan pada kawasan bukit Sirampog.

Arah longsoran menuju ke barat daya dengan potensi pergerakan susulan yang masih tinggi.

Dengan kondisi itu, Gubernur meminta warga untuk tidak kembali ke rumah masing-masing demi menghindari risiko yang lebih besar.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah berkoordinasi dengan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk memastikan langkah teknis penanganan.

Huntara segera dibangun

Rencananya, hunian sementara (huntara) akan berdiri pada lahan petak 34G milik KPH Perhutani Pekalongan Barat yang telah dalam kondisi aman secara teknis.

Sementara itu, pengungsian berada di Pondok Pesantren Bahrul Qur’an Al-Munawir, Dukuh Limbangan.

Dapur umum telah berdiri dengan menggunakan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) guna memastikan kebutuhan logistik warga tetap ada.

Pada kesempatan itu, pemerintah juga salurkan bantuan senilai total Rp175,97 juta.

Bantuan berasal dari BPBD Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp18,24 juta, Dinas Sosial Jateng Rp90,77 juta, Dinas Ketahanan Pangan Rp18 juta, Dinas Kesehatan Rp11,77 juta, Dinas Pendidikan Rp27 juta, serta PMI Rp10,19 juta.

Bupati Sampaikan Apresiasi

Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma menyampaikan apresiasi atas respons cepat Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Ia menilai kehadiran langsung Gubernur bersama jajaran OPD menjadi bukti komitmen penanganan yang serius dan terkoordinasi.

“Terima kasih banyak atas bantuan dan penanganan yang cepat. Bahkan datang bareng OPD terkait. Masyarakat Brebes tidak perlu khawatir lagi, kita gotong royong, semua sudah disiapkan oleh dinas Provinsi Jawa Tengah,” ujarnya.

Di balik data dan angka, ada kisah perjuangan warga yang harus melalui dengan situasi darurat.

Susi Susanti, warga Dukuh Bojongsari, mengungsi bersama tiga anaknya, termasuk bayi berusia 10 bulan.

Ia memilih bertahan di pengungsian demi keselamatan buah hatinya.

Susi mempunyai harapan kebutuhan bayi seperti popok, sabun, minyak telon, dan perlengkapan mandi tetap ada selama masa pengungsian.

Hal serupa dirasakan Tona, warga yang rumah kayunya berada di tepi hutan dan dekat aliran sungai. Setiap hujan deras turun, ia mengaku tak pernah benar-benar tenang. Garis tepi sungai yang kian mendekat membuatnya khawatir rumahnya akan terseret longsor.

“Sekarang lebih parah. Tanahnya cepat sekali bergerak. Kalau malam hujan deras, saya tidak bisa tenang,” tuturnya.

Tona berharap dapat direlokasi ke hunian tetap yang benar-benar aman. “Kalau hunian tetap, saya mau sekali. Supaya bisa hidup tenang,” katanya penuh harap.

Diketahui, bencana tanah gerak ini terjadi pada Rabu (28/1/2026) sekitar pukul 18.00 WIB, dipicu cuaca ekstrem yang menyebabkan lereng dengan kemiringan sekitar 45 derajat bergerak ke arah aliran Kali Keruh di kawasan perbukitan tinggi Kecamatan Sirampog. (Muhrodi)

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Publisher

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Pengadilan Negeri Salatiga Intensifkan Wasmat di Rutan

16 April 2026 - 13:56 WIB

Jelang Iduladha, Jateng Perkuat Layanan Kesehatan Hewan Keliling untuk Antisipasi Penyakit

16 April 2026 - 13:33 WIB

Apresiasi Ruwatan Silayur, Wali Kota Semarang Tegaskan Upaya Nyata Tetap Jadi Prioritas

16 April 2026 - 13:15 WIB

Dukung Ruwatan Silayur, Sarif Abdillah Ajak Warga Lestarikan Tradisi dan Nilai Spiritual

16 April 2026 - 12:44 WIB

Ketua LSM Forlindo Jaya Soroti Pemeriksaan 63 ASN, Desak KPK Perluas Arah Penyidikan

16 April 2026 - 11:28 WIB

Polsek Madukara Ringkus Pelaku Curanmor dalam Dua Hari, Motor Guru Juri Pramuka Berhasil Diamankan

16 April 2026 - 11:11 WIB

Trending di Daerah