Menu ✖

Mode Gelap
 

Kabar Semarang

Petani Desa Kemetul Kembangkan Padi Semi Organik, Hasil Panen Dinilai Lebih Menguntungkan

badge-check


					Petani Desa Kemetul Kembangkan Padi Semi Organik, Hasil Panen Dinilai Lebih Menguntungkan Perbesar

KABUPATEN SEMARANG | kabarjateng.id – Pemerintah Kabupaten Semarang terus mendorong pengembangan pertanian semi organik sebagai upaya meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani.

Program tersebut dinilai mampu menghasilkan panen yang lebih tinggi dibandingkan sistem budidaya konvensional.

Hal itu disampaikan Bupati Semarang H. Ngesti Nugraha saat menghadiri kegiatan tanam padi semi organik di lahan Demonstration Area (Dem Area) milik Gapoktan Sido Mulyo, Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Selasa (28/7/2026).

Menurut Bupati, penerapan sistem semi organik mampu menghasilkan gabah kering panen hingga sekitar 9,2 ton per hektare.

Angka tersebut jauh melampaui hasil pertanian nonorganik yang rata-rata berada di kisaran 6,2 ton per hektare.

“Pertanian semi organik terbukti memberikan hasil yang lebih baik. Program ini perlu terus diperluas sehingga semakin banyak petani yang merasakan manfaatnya. Jika dalam setahun bisa panen dua kali, tentu pendapatan petani juga akan meningkat,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, Bupati didampingi Sekretaris Daerah Valeanto Sukendro, Kepala Dinas Pertanian Moh Edy Sukarno, Kepala Pelaksana BPBD Alexander Gunawan Tribiantoro, Kepala Bakesbangpol Suyana, serta sejumlah tamu undangan dan petani setempat.

Selain mendorong budidaya semi organik, Pemkab Semarang juga mempercepat penerapan mekanisasi pertanian melalui pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan).

Penggunaan mesin tanam padi (transplanter), kata Bupati, mampu menekan biaya operasional hingga sekitar Rp1,1 juta per hektare.

Pemanfaatan combine harvester mini untuk panen serta drone untuk pemupukan juga dinilai semakin efektif dalam meningkatkan efisiensi pekerjaan di sawah.

Saat ini, pemerintah telah menyiapkan combine harvester di 11 kecamatan guna mempercepat proses panen.

Menurutnya, modernisasi pertanian diharapkan dapat menarik minat generasi muda untuk kembali menekuni sektor pertanian.

Sebagai bentuk dukungan, tahun ini pemerintah juga menggelar pelatihan bagi 240 petani muda.

Ketua Gapoktan Sido Mulyo, Marjuki, mengatakan kelompoknya telah mengembangkan lahan percontohan seluas 10 hektare yang dikelola oleh 20 petani. Program tersebut telah berjalan selama dua tahun dan kini memasuki musim tanam ketiga.

Ia menjelaskan produktivitas lahan terus mengalami peningkatan. Pada tahun pertama, hasil panen mencapai sekitar 5 ton per hektare, kemudian naik menjadi 6 ton per hektare pada tahun berikutnya.

Selain produksi yang meningkat, nilai jual beras juga mengalami kenaikan setelah proses penggilingan, dari sekitar Rp600 ribu menjadi Rp700 ribu per kuintal.

Sementara itu, Kepala Desa Kemetul Agus Sudibyo menuturkan bahwa pengembangan pertanian semi organik tidak hanya bertujuan meningkatkan hasil panen, tetapi juga menyediakan beras yang lebih sehat dan aman untuk dikonsumsi masyarakat. (ar)

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Terima SK Kepengurusan 2026–2031, LPER Semarang Raya Siapkan Program Pemberdayaan UMKM

15 Oktober 2026 - 12:24 WIB

Resmi Pimpin PWI Kabupaten Semarang, Rony Yuwono Tekankan Profesionalisme dan Solidaritas Wartawan

15 Oktober 2026 - 11:47 WIB

Sungkem Orang Tua Sebelum Daftar Pilkades, Parsunto Siap Wujudkan Nyatnyono Mandiri dan Sejahtera

15 Oktober 2026 - 11:03 WIB

Baru Lima dari 30 Sungai Dikeruk, DPRD Kota Semarang Desak Percepatan Normalisasi

14 Oktober 2026 - 22:22 WIB

Tim URC Polres Brebes Tangkap Pria yang Diduga Bacok Istri, Mertua, dan Bayinya di Kota Tegal

14 Oktober 2026 - 21:59 WIB

14 Pengurus PWI Kabupaten Semarang Resmi Dilantik, Independensi Pers Jadi Penegasan Utama

14 Oktober 2026 - 19:48 WIB

Trending di Daerah