SEMARANG, Kabarjateng.id – Warga RW 04 Silayur Lawas Duwet, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, kembali menggelar tradisi Ruwatan Silayur setelah puluhan tahun terhenti.
Pemerintah Kecamatan Ngaliyan pun menyatakan siap mendukung pelestarian budaya tersebut, termasuk melalui bantuan anggaran pagelaran wayang kulit pada tahun 2027.
Camat Ngaliyan, Moeljanto, menegaskan tradisi ruwatan menjadi bagian penting dari warisan budaya masyarakat yang harus terus dijaga.
Kegiatan tersebut biasa berlangsung pada bulan Dzulqa’dah dalam kalender Hijriah atau bulan Apit dalam penanggalan Jawa.
Saat menghadiri pagelaran wayang kulit dengan lakon Wahyu Katentreman pada Sabtu (16/5/2026) malam, Moeljanto mengungkapkan rasa bangganya terhadap kekompakan warga yang tetap menjalankan tradisi secara gotong royong meski belum mendapat dukungan anggaran dari pemerintah.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf karena pada pelaksanaan tahun ini pihak kecamatan belum dapat membantu pendanaan.
Namun, ia memastikan dukungan anggaran akan masuk dalam rencana tahun depan.
“Tahun 2027 nanti kami siap memberikan dukungan anggaran untuk kegiatan wayangan ini,” ujarnya.
UMKM Ikut Tumbuh Bersama Tradisi
Menurut Moeljanto, pelestarian budaya tidak hanya menjaga nilai sejarah dan tradisi leluhur, tetapi juga membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Kehadiran pelaku UMKM dalam acara tersebut menjadi salah satu bukti nyata.
Warga membuka stan makanan, minuman, hingga berbagai produk rumahan yang ramai dikunjungi pengunjung saat sedekah bumi dan pagelaran wayang kulit berlangsung.
Kondisi itu memberi peluang tambahan penghasilan bagi masyarakat setempat.
Moeljanto berharap jumlah UMKM yang terlibat terus bertambah sehingga kegiatan budaya dapat menjadi ruang pertumbuhan ekonomi warga.
“Kalau UMKM semakin ramai, tentu dampaknya juga besar untuk kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Sebelumnya, Sekretaris Camat Ngaliyan, Soegiman, juga memberikan apresiasi terhadap rangkaian Sedekah Bumi yang menjadi pembuka tradisi Ruwatan Silayur.
Ia melihat antusiasme masyarakat sangat tinggi dan aktivitas ekonomi warga berjalan cukup baik selama acara berlangsung.
Tradisi Lama yang Kembali Hidup
Tradisi Ruwatan Silayur diawali dengan sedekah bumi pada sore hari lalu berlanjut dengan pagelaran wayang kulit pada malam hari.
Mbah Kromo merintis kegiatan ini saat menjabat sebagai Kepala Dukuh Silayur.
Berdasarkan cerita para sesepuh, masyarakat rutin menjalankan tradisi tersebut sejak era 1960-an hingga sekitar tahun 1980. Setelah Mbah Kromo wafat, Mbah Nasir melanjutkan tradisi itu sebelum akhirnya kegiatan tersebut terhenti cukup lama.
Warga kemudian menghidupkan kembali tradisi ini karena kawasan tanjakan Silayur dikenal rawan kecelakaan.
Banyak insiden lalu lintas terjadi di lokasi tersebut, mulai dari kecelakaan ringan hingga yang menimbulkan korban jiwa.
Doa Bersama Tolak Bala
Karena tingginya angka kecelakaan, masyarakat memberi julukan lokasi itu sebagai “tanjakan tengkorak”.
Berbagai cerita mistis pun terus berkembang setiap kali musibah terjadi.
Melalui Ruwatan Silayur, warga memanjatkan doa bersama agar keselamatan selalu menyertai lingkungan sekitar dan seluruh pengguna jalan yang melintas di kawasan Silayur.
Tradisi ini juga menjadi bentuk ikhtiar bersama untuk menolak bala dan menghadirkan ketenteraman bagi masyarakat. (arh)






Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.