Menu

Mode Gelap
 

Semarang Raya

Mahakarya Goa Kreo dan Sesaji Rewanda, Sinergi Pemkot Semarang Lestarikan Tradisi

badge-check


					Mahakarya Goa Kreo Pemkot Semarang Perbesar

Mahakarya Goa Kreo Pemkot Semarang

SEMARANG, Kabarjateng.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menyuguhkan perpaduan apik seni pertunjukan modern dan ritual adat dalam Mahakarya Goa Kreo dan Sesaji Rewanda kawasan Gunungpati akhir pekan ini.

Rangkaian kegiatan mulai pagelaran Mahakarya Legenda pada Jumat (27/3) malam hingga ritual tahunan Sesaji Rewanda Obyek Wisata Goa Kreo Sabtu (28/3) pagi.

Dua kegiatan ini menjadi bentuk upaya pelestarian warisan sejarah Sunan Kalijaga dari Pemkot Semarang.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan bahwa sinergi kedua acara juga sebagai upaya strategis menjaga ekosistem budaya.

“Kami tidak ingin tradisi hanya cerita. Mahakarya Goa Kreo, ruang kreativitas generasi muda merepresentasikan legenda secara artistik,” ujar Agustina.

Sementara melalui Sesaji Rewanda, sambungnya, untuk membumikan kembali nilai spiritual, rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Replika Kayu Jati

Agustina menjelaskan momentum sakral Sabtu pagi dengan pemberangkatan rombongan kirab Sesaji Rewanda dari Masjid Al-Mabrur menuju pelataran Goa Kreo.

Dalam prosesi, replika kayu jati sebagai representasi sejarah perjuangan Sunan Kalijaga bersama delapan orang, sembilan Santri Kanjengan serta sosok ikonik Kera Bangbintulu.

“Replika kayu jati ini pengingat bahwa pembangunan peradaban, seperti halnya Masjid Agung Demak, ada gotong royong dan harmoni dengan alam,” jelas Agustina.

“Kera-kera dari Goa Kreo juga bagian sejarah dakwah Sunan Kalijaga yang harus kita jaga habitatnya,” terangnya.

Ia juga menyebut sebanyak enam jenis gunungan menjadi pusat perhatian, mulai Gunungan Sesaji, Buah, Nasi Kuning, Hasil Bumi, Kupat Lepet, hingga Nasi Golong.

Setelah melalui prosesi doa, gunungan menjadi persembahan kawanan kera sebagai bentuk sedekah alam.

Dan bersama masyarakat sebagai wujud “ngalap berkah”, mencari keberkahan dari hasil bumi yang melimpah.

Wali Kota pun menyoroti dampak ekonomi dari sinkronisasi dua acara besar ini.

Dengan adanya pagelaran malam hari dan ritual pagi hari, wisatawan dapat menghabiskan waktu lebih lama untuk tinggal dan menikmati atmosfer Desa Wisata Kandri.

“Kami juga undang seluruh masyarakat hadir dan menyaksikan sakralnya ritual ini. Selain edukasi sejarah, pengunjung juga bisa menikmati suasana alam Goa Kreo yang asri,” pungkasnya.

 

Tim Editor: Wahyu Hamijaya

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Pegadaian Gandeng POLRI Perkuat Keamanan Aset dan Transaksi Digital, Nasabah di Jateng-DIY Makin Terlindungi

25 Juli 2026 - 08:21 WIB

Pasar Raya Jawa Tengah 2026 Resmi Dibuka di Solo, Suguhkan Kolaborasi Budaya, Seni, dan UMKM

21 Juli 2026 - 15:24 WIB

Pegadaian dan TP PKK Jateng Satukan Kekuatan, Program KAPULAGA Ubah Sampah Jadi Tabungan Emas untuk Perempuan

20 Juli 2026 - 13:16 WIB

Bandara Ahmad Yani Semarang Dukung UMK Lokal Tembus Pasar Nasional Lewat INACRAFT Festival 2026

17 Juli 2026 - 17:35 WIB

Investor Singapura Gandeng Mitra China, Jateng Siap Sambut Investasi Industri dan Penguatan SDM

14 Juli 2026 - 17:13 WIB

Koperasi Merah Putih Banjarsari Catat Omzet Rp300 Juta, Jadi Contoh Penguatan Ekonomi Kerakyatan di Jateng

12 Juli 2026 - 15:43 WIB

Trending di Ekonomi & Bisnis