SURAKARTA | kabarjateng.id – Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Banjarsari, Kota Surakarta, menunjukkan perkembangan yang signifikan meski baru berdiri pada September 2025.
Berawal dari aktivitas di garasi rumah pengurus, koperasi tersebut kini berhasil mencatat omzet lebih dari Rp300 juta selama Januari hingga Juni 2026.
Keberhasilan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Gelar Produk Koperasi dan UMKM yang digelar pada rangkaian Peringatan Hari Koperasi ke-79 Tingkat Provinsi Jawa Tengah di Stadion Manahan, Surakarta, Sabtu (11/7/2026).
Berbagai produk unggulan koperasi dan UMKM dipamerkan sebagai wujud penguatan ekonomi berbasis masyarakat.
Ketua KKMP Banjarsari, Budi Agung Setyowicoyo, menjelaskan bahwa koperasi dibentuk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menjadi wadah pemberdayaan pelaku UMKM di wilayah Banjarsari.
Menurutnya, koperasi tidak hanya menyediakan kebutuhan pokok melalui gerai sembako, tetapi juga menjalin kemitraan dengan pelaku UMKM lokal untuk memperluas pemasaran produk mereka.
Selain menjadi tempat penjualan sembako, KKMP Banjarsari juga menjalankan fungsi sebagai penyerap hasil produksi UMKM.
Produk-produk tersebut kemudian dipasarkan kembali sehingga pelaku usaha memperoleh akses pasar yang lebih luas.
Di sisi lain, koperasi juga berperan sebagai pusat distribusi kebutuhan pokok dengan menggandeng Bulog, ID Food, serta sejumlah distributor lainnya.
Kerja sama tersebut diharapkan mampu menjaga ketersediaan barang sekaligus menghadirkan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
Dalam pameran tersebut, KKMP Banjarsari menampilkan beragam produk lokal, mulai dari batik, blangkon, tenun ikat, batik ciprat, ecoprint, aneka kerajinan tangan, hingga kebutuhan pokok seperti beras SPHP, beras premium, dan berbagai merek minyak goreng.
Perkembangan koperasi juga terlihat dari meningkatnya jumlah anggota.
Dari semula hanya 32 orang, kini anggotanya telah mencapai sekitar 130 orang yang didominasi pelaku UMKM, seperti pedagang kuliner, pemilik toko kelontong, hingga usaha rumahan lainnya.
Budi optimistis capaian tersebut akan terus meningkat hingga akhir tahun seiring bertambahnya aktivitas usaha dan potensi kenaikan sisa hasil usaha (SHU).
Ia menegaskan, kehadiran koperasi justru memperkuat usaha kecil karena menjadi sumber pasokan barang dengan harga yang lebih kompetitif.
Menariknya, seluruh aktivitas koperasi pada awalnya dijalankan dari garasi rumah ketua koperasi.
Seiring berkembangnya usaha, operasional kemudian dipindahkan ke rumah dinas lurah yang tidak digunakan.
Langkah tersebut diambil agar pelayanan kepada masyarakat dapat segera berjalan tanpa harus menunggu gedung permanen.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, mengatakan pemerintah terus mendorong penguatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai bagian dari strategi membangun ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan.
Menurutnya, Pemprov Jawa Tengah juga menjadi pelopor dengan menghadirkan Program Insersi Pendidikan Perkoperasian di sekolah.
Program ini bertujuan menanamkan pemahaman tentang koperasi sejak dini kepada sekitar 6,38 juta peserta didik, mulai dari jenjang SD hingga SLB.
Untuk tingkat SMA, SMK, MA, dan SLB, implementasi program menjadi kewenangan pemerintah provinsi, sedangkan pemerintah kabupaten dan kota diharapkan menerapkannya pada jenjang SD dan SMP agar budaya berkoperasi semakin kuat di masa mendatang.
Hingga pertengahan 2026, di Jawa Tengah telah terbentuk 8.523 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Sebanyak 6.271 koperasi atau sekitar 73 persen di antaranya telah beroperasi.
Selain itu, sebanyak 3.950 gedung koperasi telah selesai dibangun, menjadi jumlah terbanyak secara nasional.
Seluruh koperasi tersebut memiliki total modal mencapai Rp34,21 miliar dengan jumlah anggota yang telah melampaui 200 ribu orang. (ar)






