SEMARANG, Kabarjateng.id – Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang terus mendorong penguatan riset dan inovasi akademik.
Melalui kegiatan workshop penulisan paten oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), pada Kamis, 5 Februari 2026.
Kegiatan dari Ruang Rapat Lantai 6 Gedung Dekanat ini diikuti pimpinan universitas serta dosen fakultas.
Workshop sendiri untuk membantu para akademisi memahami proses pengembangan hasil riset.
Menjadi karya yang memiliki perlindungan hukum serta nilai guna yang lebih luas.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana sharing pengalaman dan strategi.
Agar penelitian tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat manfaat secara nyata untuk masyarakat.
Sejumlah pimpinan kampus hadir dalam kegiatan ini, mulai Rektor, Wakil Rektor, Dekan, hingga perwakilan dosen bidang sosial humaniora dan sains eksakta.
Kehadiran peserta lintas disiplin menunjukkan keseriusan Unwahas dalam membangun sinergi keilmuan yang saling melengkapi.
Ketua LPPM Unwahas, Dr Agus Riyanto, SIP, MSi, menyampaikan masih banyak karya penelitian yang punya potensi menjadi paten, namun belum dapat manfaatnya secara optimal.
Ia menilai workshop ini penting juga untuk membuka wawasan dosen mengenai peluang perlindungan hak kekayaan intelektual.
Sekaligus meningkatkan dampak sosial dari penelitian.
Gagasan Sosial
Menurutnya, paten tidak hanya tentang inovasi teknologi, tetapi juga dapat mencakup gagasan sosial yang memberi solusi atas ragam persoalan masyarakat.
Seperti pendidikan, kesehatan, kebijakan publik, hingga pemberdayaan ekonomi.
Rektor Unwahas Prof Dr Ir Helmy Purwanto, ST, MT, IPM, menegaskan bahwa universitas memiliki tanggung jawab mendampingi dosen agar inovasi memiliki keberlanjutan.
Ia menilai perlindungan paten menjadi langkah penting agar karya akademik memiliki nilai strategis, ekonomi, dan sosial yang lebih besar.
Pihak kampus, lanjutnya, akan terus memperkuat dukungan melalui kebijakan institusional, pendampingan teknis dari LPPM, serta kolaborasi antar fakultas.
Dengan demikian, budaya riset yang produktif yang memiliki orientasi solusi semakin luas dari lingkungan Unwahas.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber dari Universitas Diponegoro yang memiliki pengalaman luas dalam bidang paten dan inovasi.
Materi mencakup pemahaman dasar tentang paten, strategi mengubah ide riset menjadi karya yang dapat paten, hingga teknik penyusunan dokumen paten sesuai standar nasional.
Selama workshop berlangsung, peserta aktif dalam diskusi dan sesi tanya jawab.
Selain mendapatkan pemahaman teoritis, para dosen mulai memetakan potensi paten dari penelitian masing-masing fakultas sebagai langkah awal menuju pengajuan paten masa mendatang.
Melalui kegiatan ini, Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan inovasi akademik yang bermanfaat bagi masyarakat.
Ke depan, LPPM akan terus memberikan pendampingan agar semakin banyak karya dosen yang terlindungi secara hukum sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan publik. (Why)






