SEMARANG | Kabarjateng.id – Kritik mengenai persoalan banjir rob dan penurunan muka tanah disampaikan mahasiswa UIN Walisongo Semarang saat Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyampaikan Orasi Kebangsaan dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), Selasa (18/8/2026).
Belasan mahasiswa membawa poster bertuliskan “Semarang Menolak Tenggelam” ketika Taj Yasin, yang hadir mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, berbicara di Lapangan Kampus 3 UIN Walisongo.
Alih-alih meminta poster tersebut diturunkan, Taj Yasin justru merespons secara terbuka.
Ia menghentikan penyampaian orasinya dan mempersilakan salah satu mahasiswa yang membawa poster maju untuk menyampaikan keresahannya.
“Sini, ada adik-adik yang di belakang coba yang bawa spanduk ke sini satu. Maju satu. Ada yang ingin menyampaikan?” ujar Taj Yasin.
Kesempatan itu kemudian dimanfaatkan Jolang Teja Manah, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) angkatan 2024.
Ia menjelaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk keprihatinan mahasiswa terhadap persoalan penurunan tanah serta banjir rob yang masih menghantui wilayah pesisir Kota Semarang.
Menurut Jolang, hasil kajian mahasiswa menunjukkan bahwa penurunan muka tanah menjadi salah satu persoalan penting di kawasan pesisir.
Ia turut menyoroti aktivitas ekstraksi air tanah dan perkembangan kawasan industri yang dinilai perlu menjadi perhatian.
Jolang juga menyinggung kondisi Mangkang Wetan. Di kawasan tersebut, rob disebut telah berdampak terhadap permukiman maupun aktivitas ekonomi masyarakat.
“Bisa teman-teman bayangkan, ada mata pencaharian warga Mangkang Wetan dan beberapa pemukiman itu jadi laut gara-gara dihimpit oleh KIW dan KIK,” katanya.
Mendengar paparan tersebut, Taj Yasin tidak langsung memberikan jawaban singkat.
Ia justru menggali lebih dalam mengenai hasil penelitian mahasiswa dan kondisi wilayah pesisir lainnya yang masih menghadapi persoalan serupa.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah selama ini telah melakukan penanganan rob secara bertahap.
Salah satu contohnya adalah kawasan Kaligawe yang menurutnya kini mengalami penurunan genangan dibandingkan kondisi sebelumnya.
Namun, persoalan tersebut tidak serta-merta selesai. Genangan rob justru semakin menjadi perhatian di kawasan pesisir sebelah timur, terutama wilayah yang berada di sekitar perbatasan Semarang dan Demak.
“Dulu tiap tahun rob, bukan hanya tiap tahun, tiap masa-masa rob. Sekarang teralih ke timur. Artinya apa? Di situlah penanganan kita,” kata Taj Yasin.
Penanganan Pesisir Butuh Anggaran Besar
Untuk menghadapi persoalan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong pembangunan Hybrid Sea Wall sebagai salah satu metode perlindungan kawasan pesisir.
Taj Yasin menyebut perguruan tinggi juga dilibatkan dalam penyusunan pendekatan penanganan.
Universitas Diponegoro (Undip), misalnya, memberikan masukan terkait metode yang dapat diterapkan untuk menghadapi persoalan pesisir.
Metode Hybrid Sea Wall sendiri telah diterapkan di sejumlah daerah, termasuk Jepara, Demak, dan Pemalang.
Meski demikian, Taj Yasin mengakui penanganan rob dalam skala luas membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit.
Menurut dia, kemampuan anggaran pemerintah provinsi tidak cukup untuk menangani seluruh persoalan pesisir secara mandiri.
“Kami di Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak mungkin menangani ini sendiri karena anggarannya tidak lagi berbicara satu, 10, 100 miliar, tetapi ini sudah di angka triliun,” ujarnya.
Karena itu, Pemprov Jateng terus membangun koordinasi dengan pemerintah pusat.
Salah satu program yang menjadi bagian dari upaya tersebut adalah Giant Sea Wall yang dicanangkan Presiden.
Taj Yasin menyebut kawasan Semarang menjadi salah satu prioritas dalam program tersebut.
Penanganannya juga tidak dapat dipisahkan dari daerah pesisir lain karena persoalan rob memiliki keterkaitan antarkawasan, mulai dari Semarang, Demak, Jepara hingga Kendal.
“Kalau kita bicara Semarang sebenarnya bukan hanya Semarang, tetapi kita juga bicara tentang Demak, kita bicara tentang Jepara, kita bicara tentang Kendal,” katanya.
Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah, lanjutnya, telah melakukan pemetaan dan survei untuk menentukan wilayah yang menjadi sasaran penanganan.
Perguruan tinggi juga dilibatkan untuk memberikan dukungan kajian dan rekomendasi teknis.
Pelaksanaan Giant Sea Wall yang sebelumnya ditargetkan mulai pada 2026 kini mengalami penyesuaian dan diproyeksikan berjalan pada 2027.
Mahasiswa Diminta Berikan Masukan dan Solusi
Selain infrastruktur pengendali rob, Pemprov Jateng juga menyiapkan langkah untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat pesisir.
Salah satunya melalui teknologi desalinasi yang memungkinkan air laut diolah menjadi air untuk kebutuhan masyarakat.
Program tersebut disiapkan di sejumlah kawasan pesisir, di antaranya Brebes, Demak, Jepara dan Rembang.
Dalam kesempatan itu, Taj Yasin juga mengajak mahasiswa agar tidak berhenti pada penelitian maupun kritik terhadap persoalan lingkungan.
Ia berharap kampus dapat ikut menghasilkan rekomendasi yang dapat digunakan pemerintah dalam mengambil kebijakan.
Menurutnya, mahasiswa dapat dilibatkan mulai dari pemetaan wilayah terdampak, penelitian metode penanganan, hingga memberikan masukan terhadap pembangunan infrastruktur.
“Kalau panjenengan hanya meneliti banjirnya saja, enggak punya solusi. Yuk, ke kantor daerah saya. Kita ciptakan, kita petakan mana saja, metodenya bagaimana, pembangunannya bagaimana,” ujarnya.
Taj Yasin menegaskan, pemerintah tetap membuka ruang bagi kritik dari kalangan mahasiswa.
Namun, ia berharap kritik tersebut disertai gagasan yang dapat membantu menyelesaikan persoalan di lapangan.
“Boleh kritik. Tapi kalau ditanya solusinya apa, kami sudah memulai,” katanya.
Ia juga mengapresiasi kontribusi perguruan tinggi yang selama ini memberikan berbagai kajian kepada pemerintah, khususnya terkait persoalan lingkungan dan kawasan pesisir.
Dialog antara Taj Yasin dan Jolang kemudian ditutup dengan suasana hangat.
Setelah menyampaikan pandangannya, Jolang berpamitan dan mencium tangan Wakil Gubernur Jawa Tengah tersebut.
Pertemuan itu menjadi salah satu momen menarik dalam rangkaian PBAK UIN Walisongo Semarang 2026, ketika aspirasi mahasiswa mengenai ancaman rob dapat disampaikan langsung kepada pemerintah sekaligus membuka peluang kolaborasi untuk mencari solusi. (dkp)






