AMBARAWA | Kabarjateng.id – Pasien Tuli di Rumah Sakit Umum Daerah (RSGM) Gunawan Mangunkusumo Ambarawa bakal mendapat akses pelayanan yang lebih mudah.
Rumah sakit menyiapkan petugas yang memiliki kemampuan bahasa isyarat.
Langkah tersebut dilakukan agar pasien Tuli dapat menyampaikan keluhan kesehatan secara langsung tanpa selalu bergantung pada anggota keluarga atau orang lain.
Direktur RSGM Gunawan Mangunkusumo, dr Hasti Wulandari, MKM, mengatakan pihaknya telah menggandeng instruktur dari Sekolah Luar Biasa (SLB) di Ungaran untuk memberikan pelatihan bahasa isyarat kepada petugas.
“Personel yang nantinya bertugas melayani pasien Tuli akan mendapatkan pelatihan dari instruktur SLB,” kata Hasti seusai Forum Konsultasi Publik (FKP) bersama para pemangku kepentingan di Aula RSGM Ambarawa, Rabu (7/10/2026).
Menurut Hasti, peningkatan akses layanan bagi penyandang disabilitas menjadi salah satu perhatian rumah sakit. Sejumlah fasilitas pendukung saat ini telah tersedia dengan capaian lebih dari 60 persen.
Penguatan layanan selanjutnya diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk menghadirkan petugas yang mampu menggunakan bahasa isyarat.
Petugas tersebut nantinya ditempatkan pada bagian informasi serta pelayanan poliklinik rawat jalan.
Dengan begitu, pasien Tuli tidak lagi hanya mengandalkan komunikasi melalui tulisan ketika berkonsultasi mengenai kondisi kesehatannya.
“Selama ini sebagian pasien berkomunikasi dengan tulisan. Nantinya mereka bisa dibantu petugas yang memiliki kemampuan bahasa isyarat,” jelasnya.
Selain memberikan perhatian kepada pasien Tuli, RSGM Ambarawa juga mengembangkan layanan komunikasi bagi keluarga pasien yang menjalani perawatan di ruang intensive care unit (ICU).
Rumah sakit telah menyediakan aplikasi interaktif bernama “Simpati”. Aplikasi tersebut dirancang untuk memperlancar komunikasi dua arah antara keluarga pasien dan perawat mengenai perkembangan kondisi pasien.
“Melalui aplikasi ini, keluarga pasien dapat berkomunikasi secara langsung dan dua arah dengan perawat,” ujar Hasti.
Ketua Perhimpunan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Semarang, Ch Ratna Windaryanti, mengapresiasi langkah RSGM Ambarawa tersebut.
Menurutnya, akses komunikasi secara langsung merupakan bagian penting dalam pemenuhan hak penyandang disabilitas, khususnya pasien Tuli ketika memperoleh pelayanan kesehatan.
Selama ini, kata Ratna, pasien Tuli kerap membutuhkan bantuan orang lain untuk menyampaikan keluhan maupun memahami informasi pelayanan kesehatan.
“Ini langkah positif dalam mewujudkan aksesibilitas. Tidak boleh ada keputusan tentang kami tanpa komunikasi dengan kami,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Semarang, Pujo Pramujito, menilai akses pelayanan yang ramah bagi penyandang disabilitas perlu terus diperluas.
Ia menegaskan bahwa kemudahan akses tidak hanya diperlukan dalam sektor kesehatan, tetapi juga harus menjadi perhatian dalam bidang pendidikan dan pelayanan publik lainnya. (dkp)






