Menu ✖

Mode Gelap
 

Kabar Jawa Tengah

75 Kali Donor Darah, Warga Jateng Sumbangkan 37,5 Liter untuk Kemanusiaan

badge-check


					75 Kali Donor Darah, Warga Jateng Sumbangkan 37,5 Liter untuk Kemanusiaan Perbesar

SEMARANG | Kabarjateng.id – Puluhan tahun menjadi pendonor darah bukan perkara mudah. Namun, bagi sejumlah warga Jawa Tengah, kebiasaan tersebut menjadi bentuk kepedulian yang terus dijaga demi membantu sesama.

Semangat kemanusiaan itu terlihat dalam kegiatan Penyerahan Penghargaan dan Temu Donor Darah Sukarela ke-50 dan ke-75 kali PMI Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah di Balairung Astina Ballroom UTC Convention Hotel Semarang, Selasa (29/9/2026).

Sebanyak 2.343 pendonor sukarela dari berbagai daerah di Jawa Tengah menerima penghargaan atas konsistensi mereka mendonorkan darah.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan, gerakan donor darah memiliki manfaat luas.

Selain membantu memenuhi kebutuhan darah pasien, kegiatan tersebut turut memperkuat sektor pelayanan kesehatan.

Taj Yasin yang juga Ketua Dewan Kehormatan PMI Jawa Tengah bahkan mendorong agar budaya donor darah menjadi bagian dari pengembangan ekosistem kesehatan di Jawa Tengah.

“Semoga dengan donor kita bisa mewujudkan kesehatan, menyelamatkan nyawa. Bahkan kita ingin Jawa Tengah menjadi wisata kesehatan, medical tourism. Nah, ini yang kita dorong,” ujar Taj Yasin seusai acara.

Menurutnya, konsistensi masyarakat dalam mendonorkan darah merupakan kekuatan sosial yang perlu terus dirawat.

Ia menyoroti keberadaan pendonor yang telah mencapai puluhan kali donor. Mereka dinilai dapat menjadi contoh bagi masyarakat lain untuk ikut berpartisipasi.

“Tadi saya melihat banyak pendonor ke-75, dimulai dari usia 17 tahun, artinya usia pertama kali bisa melakukan donor,” katanya.

Selain mendorong peningkatan jumlah pendonor, Taj Yasin meminta pelayanan donor darah semakin mudah dan efisien.

Digitalisasi pelayanan PMI menjadi salah satu langkah yang dinilainya penting agar masyarakat tidak perlu menghabiskan waktu untuk mengantre ketika hendak mendonorkan darah.

“Untuk digitalisasi kita perlu utamanya dalam pelayanan sehingga mereka tidak perlu antre. Saya berpesan kepada PMI, baik itu provinsi, kabupaten, kota, mereka yang mau donor jangan antre lagi. Jadi mereka dengan digitalisasi langsung datang,” jelasnya.

Ketua PMI Jawa Tengah Haryanto mengatakan, ketersediaan darah di Jawa Tengah berada dalam kondisi relatif aman.

Ia menyebut PMI di berbagai daerah mampu memenuhi sekitar 97 persen kebutuhan darah rumah sakit di Jawa Tengah.

“Bahwa kebutuhan darah di rumah sakit 97 persen dapat dipenuhi oleh PMI se-Jawa Tengah. Sehingga Jateng termasuk stok darah paling aman,” kata Haryanto.

Dari total penerima penghargaan, sebanyak 1.743 orang telah mencapai donor darah ke-50.

Sementara 405 orang lainnya tercatat telah melakukan donor hingga 75 kali.

Haryanto menjelaskan, pencapaian 50 kali donor biasanya ditempuh dalam kurun waktu sekitar 13 hingga 14 tahun.

Sedangkan untuk mencapai 75 kali donor, seorang pendonor membutuhkan waktu sekitar 18 tahun.

Jumlah darah yang telah disumbangkan bahkan mencapai sekitar 37,5 liter.

“Yang 75 kali ini sudah mendonorkan darahnya 37,5 liter. Ini luar biasa. Tanda jasa yang diberikan tidak seberapa dibandingkan dengan pengorbanan yang tulus dari Bapak-Ibu sekalian,” ujarnya.

Salah satu pendonor yang mendapat penghargaan adalah Agustian dari Kabupaten Magelang. Ia telah mencapai donor darah ke-75.

Agustian mengaku mulai berdonor sejak berusia sekitar 16-17 tahun.

Keinginannya untuk membantu sesama menjadi alasan utama mempertahankan kebiasaan tersebut.

“Kalau mau membantu orang lain dengan uang atau materi mungkin belum bisa. Tetapi kalau darah, insyaallah bisa,” tuturnya.

Sementara Raditya Soni yang telah mencapai donor darah ke-50 mengaku bangga mendapat apresiasi dari PMI Jawa Tengah.

“Saya apresiasi. Alhamdulillah, diundang ini suatu kebanggaan tersendiri,” katanya.

Kisah lain datang dari Saparwanti, 67, warga Bulukerto, Wonogiri. Mantan guru SD itu telah mendonorkan darah sebanyak 52 kali.

Baginya, donor darah merupakan kegiatan sosial sederhana yang dapat memberikan manfaat bagi orang yang membutuhkan.

“Ini kan sosial, untuk menolong orang yang membutuhkan. Saya merasa senang juga karena kegiatan sosial kita dihargai,” ujarnya.

Sementara Sriwahyuni, guru TK asal Jatisrono, Wonogiri, memiliki pengalaman berbeda yang mendorongnya menjadi pendonor.

Ia pernah menerima transfusi darah beberapa kali saat menjalani operasi sesar.

Pengalaman tersebut kemudian membuatnya ingin memberikan manfaat yang sama kepada orang lain.

“Dulu saya pernah mendapatkan transfusi beberapa kali ketika operasi sesar. Setelah itu saya berniat ikut mendonorkan darah, biar bisa bermanfaat untuk orang,” ungkapnya.

Sriwahyuni sebelumnya telah memperoleh penghargaan dari PMI setelah mencapai donor darah ke-10, ke-15, dan ke-25.

Kini, penghargaan di tingkat Provinsi Jawa Tengah menjadi apresiasi tersendiri atas konsistensinya.

“Merasa bangga karena apa yang sudah kita lakukan mendapatkan penghargaan di tingkat Provinsi Jawa Tengah,” pungkasnya. (dkp)

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Peduli Warga Terdampak Kekeringan, Koramil Bantarkawung Salurkan Air Bersih

29 September 2026 - 16:25 WIB

Satresnarkoba Polres Brebes Ungkap Peredaran Sabu dan Ganja di Bumiayu, Dua Orang Diamankan

29 September 2026 - 16:19 WIB

Taj Yasin Dorong Perluasan Program Satu OPD Satu Desa untuk Tekan Kemiskinan Jateng

29 September 2026 - 16:14 WIB

Pangdam IV/Diponegoro Ikuti Evaluasi Percepatan Koperasi Desa Merah Putih

29 September 2026 - 15:31 WIB

Yayasan Kartika Jaya Datang Melayat, Beri Dukungan untuk Keluarga Siswa yang Meninggal

29 September 2026 - 15:24 WIB

Nobar Timnas di Gubernuran Jateng Bawa Berkah bagi Pedagang Kecil

29 September 2026 - 14:57 WIB

Trending di KABAR JATENG