SUKOHARJO | Kabarjateng.id – Jawa Tengah tak hanya bertumpu pada produksi beras untuk menjaga ketahanan pangan.
Jagung kini menjadi komoditas strategis dengan produksi mencapai jutaan ton dan berperan penting dalam memasok kebutuhan nasional.
Sepanjang 2025, produksi jagung Jawa Tengah tercatat sekitar 3,7 juta ton. Sedangkan hingga September 2026, produksinya telah mencapai 2,68 juta ton.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan capaian tersebut saat menghadiri Panen Raya Jagung di lahan Gapoktan Krido Dharmo, Desa Karanganyar, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (1/10/2026).
Luthfi mengatakan, tingginya produksi jagung menjadi bukti bahwa predikat Jawa Tengah sebagai lumbung pangan tidak hanya ditopang komoditas padi.
“Jadi di Jawa Tengah tetap meneguhkan sebagai lumbung pangan nasional, tidak hanya padi tetapi juga jagung,” kata Luthfi.
Berdasarkan Angka Tetap BPS 2025, produksi jagung Jateng mencapai 3,7 juta ton pipilan kering dengan kadar air 28 persen.
Jumlah tersebut berkontribusi sekitar 17,02 persen terhadap total produksi jagung nasional.
Capaian itu sekaligus menempatkan Jawa Tengah sebagai produsen jagung terbesar kedua di Indonesia.
Namun, mempertahankan produksi dalam jumlah besar bukan perkara mudah.
Pemerintah harus memastikan berbagai kebutuhan petani tersedia, mulai dari lahan, air, pupuk, benih hingga alat pertanian.
Luthfi menyoroti persoalan ketersediaan air yang menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas lahan pertanian.
Menurutnya, petani tidak terlalu mempermasalahkan siapa yang memiliki jaringan irigasi. Yang terpenting, kebutuhan air dapat mengalir hingga ke lahan mereka.
“Masyarakat petani itu tidak akan bertanya tersier, sekunder, primer punya siapa. Prinsipnya airnya harus sampai (lahan pertanian),” tegasnya.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, pemerintah menyiapkan berbagai alternatif sumber air, termasuk sumur dalam, sumur dangkal, embung dan jaringan irigasi.
Ketersediaan pupuk juga menjadi perhatian agar proses budidaya tidak terganggu ketika petani memasuki musim tanam.
Luthfi optimistis produksi pangan Jateng masih dapat digenjot. Salah satu alasannya, aktivitas panen jagung masih berlangsung di sejumlah wilayah meski sebagian daerah telah memasuki musim kemarau.
Saat musim penghujan tiba, luas lahan yang ditanami jagung diperkirakan kembali bertambah.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah De Fransisco Da Silva Tavares mengatakan, panen raya di Sukoharjo menjadi bagian dari langkah pemerintah menjaga kesinambungan produksi jagung.
Menurut Frans, hingga saat ini realisasi produksi telah mencapai sekitar 72 persen dari target 3,7 juta ton.
“Produksi kita sekarang sudah sekitar 72 persen dari target. Ini terus kita dorong sampai akhir tahun,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peningkatan produksi tidak cukup hanya mengandalkan perluasan atau peningkatan budidaya.
Berbagai sarana pendukung juga harus diperbaiki agar hasil pertanian semakin optimal.
Salah satunya melalui perbaikan jaringan irigasi tersier. Tahun ini, pemerintah menangani lebih dari 300 paket jaringan irigasi tersier yang tersebar di sejumlah wilayah Jateng.
Petani juga mendapatkan dukungan alat dan mesin pertanian untuk menunjang berbagai tahapan produksi, mulai pengolahan lahan hingga proses pascapanen.
Dari sektor perbenihan, Pemprov Jateng menyalurkan stimulan benih jagung hibrida melalui APBD untuk lahan seluas 3.200 hektare.
Sementara dukungan dari pemerintah pusat melalui APBN telah terealisasi berdasarkan kontrak untuk lahan seluas 87.867 hektare yang tersebar di 21 kabupaten dan dua kota.
Frans mengatakan, penguatan sektor jagung memiliki dampak ekonomi yang luas.
Komoditas ini bukan hanya menjadi sumber pendapatan petani, tetapi juga memasok kebutuhan industri pakan.
Harga jagung pipilan saat ini berada pada kisaran Rp7.000 hingga Rp7.500 per kilogram. Namun, nilai jual tersebut bergantung pada kadar air jagung saat dijual.
“Harganya juga bagus. Saat ini jagung pipilan sudah sampai Rp7.000 lebih, bahkan Rp7.500. Tapi kadar air memengaruhi,” ungkapnya.
Dengan pasar yang cukup besar, pemerintah mendorong agar peningkatan produksi diikuti dengan pengelolaan pascapanen yang lebih baik.
Penanganan tersebut dinilai penting agar kualitas jagung tetap terjaga dan petani mendapatkan nilai ekonomi yang optimal dari hasil panennya.
Kondisi musim sempat memengaruhi produksi jagung selama Agustus dan September 2026.
Namun, pemerintah memperkirakan luas tanam akan kembali meningkat pada Oktober dan November.
Data Pemprov Jateng memperkirakan produksi jagung hingga Oktober 2026 mencapai sekitar 3,09 juta ton.
Sementara luas panen pada Oktober diperkirakan sekitar 47,5 ribu hektare.
Dengan produksi yang terus dijaga, jagung semakin memiliki posisi penting dalam sistem pangan Jawa Tengah.
Komoditas tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga menjadi bahan baku industri pakan.
Karena itu, menjaga produksi jagung berarti turut menjaga kesinambungan ekonomi petani sekaligus kebutuhan sektor industri.
Jawa Tengah kini tidak hanya mempertahankan status sebagai lumbung beras, tetapi juga memperkuat jagung sebagai salah satu penyangga ketahanan pangan nasional. (ajp)






