BREBES | Kabarjateng.id – Pemerintah Desa Wanatirta, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, terus mendorong penguatan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana melalui pelatihan Desa Tangguh Bencana (Destana).
Kegiatan yang digelar di Bumi Sari Bunga Pinus, Desa Wanatirta, Minggu (11/10/2026), tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kemampuan koordinasi warga dalam menghadapi situasi darurat.
Pelatihan ini tidak hanya berorientasi pada pemahaman teori kebencanaan, tetapi juga memberikan pengalaman praktik kepada peserta agar mampu melakukan langkah penanganan awal secara tepat, cepat, dan terkoordinasi.
Kesiapsiagaan masyarakat dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam meminimalkan risiko serta mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat bencana.
Salah satu agenda utama kegiatan tersebut adalah simulasi penanggulangan kebakaran.
Dalam latihan itu, peserta mempraktikkan tahapan penanganan awal kebakaran dengan mengedepankan kecepatan respons, ketepatan tindakan, serta koordinasi antarpeserta.
Simulasi tersebut sekaligus menjadi sarana untuk membangun kesadaran bahwa penanganan keadaan darurat membutuhkan kesiapan individu dan kerja sama tim.
Melalui latihan secara langsung, peserta diharapkan semakin memahami pentingnya bertindak sesuai prosedur, menjaga keselamatan diri, serta menghindari tindakan yang justru dapat memperbesar risiko.
Ketua Destana Desa Wanatirta, Khaerudin, S.E., menyampaikan bahwa pelatihan tersebut merupakan bagian penting dalam meningkatkan kapasitas anggota Destana agar lebih siap menghadapi kemungkinan terjadinya bencana di lingkungan desa.
Menurutnya, kesiapsiagaan perlu dibangun melalui pembekalan pengetahuan, latihan yang berkelanjutan, serta kemampuan bekerja sama dalam menghadapi kondisi darurat.
Dengan demikian, anggota Destana diharapkan tidak hanya memahami langkah penanganan awal, tetapi juga mampu menjalankan peran secara terkoordinasi ketika masyarakat membutuhkan bantuan.
Pelatihan seperti ini juga menjadi kesempatan bagi para peserta untuk mengevaluasi kesiapan, memperkuat komunikasi, serta membangun pola kerja sama yang efektif dalam menghadapi berbagai potensi ancaman bencana.
Kepala Desa Wanatirta, Darto, menyambut baik pelaksanaan pelatihan Destana tersebut.
“Kami menilai peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana perlu mendapat perhatian bersama, mengingat upaya pengurangan risiko tidak dapat hanya mengandalkan peran pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat,” ungkapnya.
Selain meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta, kegiatan tersebut diharapkan dapat mempererat silaturahmi antara pemerintah desa, lembaga desa, relawan, dan masyarakat.
“Hubungan yang baik serta komunikasi yang terbangun secara berkelanjutan menjadi modal penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman dan tangguh terhadap bencana,” tuturnya.
Sinergi antar elemen desa juga diperlukan agar upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan penanganan keadaan darurat dapat dilaksanakan secara lebih terarah.
Dengan keterlibatan masyarakat sejak tahap pencegahan, potensi risiko diharapkan dapat dikenali lebih dini dan ditangani sesuai kemampuan serta kebutuhan di lapangan.
Sementara itu, Camat Paguyangan yang diwakili Seger, S.E., mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang melibatkan Destana dan pemerintah desa tersebut.
Ia menekankan bahwa penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kepedulian, partisipasi, dan kerja sama seluruh unsur masyarakat.
Menurutnya, upaya membangun kesiapsiagaan tidak selalu harus bergantung pada ketersediaan anggaran yang besar.
Namun, berbagai langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten justru dapat menjadi bagian penting dari upaya mengurangi risiko bencana di lingkungan masyarakat.
Langkah tersebut antara lain menjaga kebersihan lingkungan, melaksanakan kerja bakti di kawasan yang berpotensi terdampak bencana, menjaga sumber air, serta membiasakan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Selain mendukung kebersihan dan kelestarian lingkungan, kebiasaan tersebut juga dapat membantu mengurangi sejumlah risiko, terutama apabila disesuaikan dengan kondisi dan potensi ancaman di wilayah setempat.
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca dan mengenali potensi bahaya di sekitar tempat tinggal.
Masyarakat diharapkan tidak mengabaikan tanda-tanda yang berpotensi menimbulkan keadaan darurat serta membangun kebiasaan saling mengingatkan dan menyampaikan informasi secara cepat apabila ditemukan kondisi yang membahayakan.
Upaya mitigasi, lanjutnya, perlu menjadi kebiasaan bersama dan dilaksanakan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika bencana terjadi.
Kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan, mengenali risiko, serta memahami langkah awal penyelamatan menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan desa.
Pelaksanaan pelatihan Destana di Desa Wanatirta ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun masyarakat yang lebih tanggap terhadap potensi bencana.
Melalui peningkatan kapasitas relawan, simulasi penanganan keadaan darurat, dan penguatan koordinasi lintas unsur, kesiapsiagaan masyarakat diharapkan semakin berkembang.
Pemerintah Desa Wanatirta bersama Destana, lembaga desa, dan masyarakat diharapkan dapat terus memperkuat kolaborasi dalam menjalankan upaya pencegahan, meningkatkan kewaspadaan, serta mempersiapkan langkah penanganan apabila terjadi bencana.
Dengan kesiapan yang dibangun secara kolektif dan berkelanjutan, Desa Wanatirta diharapkan mampu mewujudkan lingkungan masyarakat yang lebih sadar risiko, tangguh menghadapi keadaan darurat, serta memiliki kemampuan untuk merespons potensi bencana secara cepat, tepat, dan terkoordinasi. (wb)






