SEMARANG, Kabarjateng.id — Aktivitas gadai di wilayah Semarang mengalami peningkatan signifikan sejak awal Ramadan hingga mendekati Hari Raya Idulfitri 2026.
Lonjakan ini mencerminkan tingginya kebutuhan pembiayaan masyarakat, utamanya untuk mendukung aktivitas usaha yang kian menggeliat selama periode itu.
Secara regional, kinerja penyaluran pinjaman dengan basis gadai juga menunjukkan tumbuh kuat.
Nilai outstanding loan (OSL) dalam catatan naik dari Rp6,6 triliun pada 2025 menjadi Rp10,1 triliun pada 2026.
Bahkan secara bulanan, posisi pinjaman meningkat dari sekitar Rp9,3 triliun sebelum Ramadan menjadi Rp10,1 triliun menjelang Lebaran.
Momentum Hari Besar Keagamaan
Pimpinan wilayah PT Pegadaian Kanwil XI Semarang, M. Aries Aviani N. menilai tren ini sebagai indikasi meningkatnya kebutuhan likuiditas masyarakat pada momentum hari besar keagamaan.
“Kenaikan ini terlihat konsisten, baik secara tahunan maupun menjelang Lebaran,” ujarnya, Rabu 18 Maret 2026.
Di tingkat cabang, peningkatan aktivitas gadai lebih rinci.
Pimpinan Pegadaian cabang Poncol Semarang, Agung Wibowo, mengungkapkan bahwa lonjakan transaksi mulai menggeliat dalam 30 hari terakhir menjelang Idulfitri.
Rata-rata transaksi gadai harian bahkan mencapai hingga 150 transaksi.
“Dalam sebulan ini sebelum Lebaran, aktivitas meningkat cukup tajam. Ini sejalan dengan tingginya kebutuhan modal usaha karena perputaran ekonomi sedang tinggi,” kata Agung.
Menurutnya, periode Ramadan hingga Lebaran memang identik dengan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat.
Pelaku usaha, khususnya skala kecil dan menengah, memanfaatkan layanan gadai sebagai solusi cepat untuk mendapatkan tambahan modal, baik untuk menambah stok barang maupun memenuhi kebutuhan operasional.
Namun, tren itu mengalami perubahan saat memasuki pekan akhir sebelum Lebaran.
Jumlah pengajuan gadai justru mengalami penurunan drastis, dari kisaran 70 transaksi per hari menjadi sekitar 30 transaksi.
Penebusan Barang Mengalami Peningkatan
Sebaliknya, aktivitas penebusan barang menunjukkan lonjakan tajam.
Jika sebelumnya rata-rata pelunasan berada di angka 30 transaksi per hari, menjelang hari raya meningkat hingga sekitar 100 transaksi per hari.
“Menjelang Lebaran, masyarakat cenderung menebus barang yang digadaikan. Biasanya untuk digunakan kembali saat hari raya, seperti perhiasan,” jelasnya.
Dari sisi jenis barang, perhiasan emas masih mendominasi transaksi gadai dengan porsi sekitar 90 persen.
Sementara barang lain seperti elektronik dan kendaraan masing-masing menyumbang sekitar 5 persen.
Khusus untuk kendaraan, ada peningkatan penebusan menjelang Lebaran.
Banyak nasabah mengambil kembali kendaraan mereka untuk keperluan mobilitas selama libur hari raya atau untuk mereka jual kembali dengan harga yang punya potensi lebih tinggi.
“Sebagian besar kendaraan sudah mereka tebus. Stok di gudang sudah kurang karena banyak nasabah mengambil kembali asetnya,” kata Agung.
Ia menilai, fenomena itu pengaruhnya kebutuhan mobilitas saat Lebaran serta peluang mendapatkan harga jual yang lebih baik di pasar.
Di sisi lain, kemudahan transaksi juga mereka dukung oleh layanan digital.
Melalui aplikasi Pegadaian Digital TRING, nasabah dapat melakukan pelunasan pinjaman secara daring tanpa harus datang langsung ke kantor.
“Nasabah cukup melunasi lewat aplikasi, kemudian datang hanya untuk mengambil barang. Ini tentu lebih praktis,” ujarnya.
Investasi Emas Meningkat
Selain layanan gadai, minat masyarakat dengan investasi emas juga mengalami peningkatan menjelang Lebaran.
Tambahan pendapatan seperti tunjangan hari raya (THR) banyak mereka alokasikan untuk membeli emas atau menabung dalam bentuk logam mulia.
Produk seperti tabungan emas dan cicilan emas mereka nilai semakin mereka minati karena relatif aman di tengah ketidakpastian global.
“Dalam kondisi geopolitik yang tidak stabil, emas cenderung menjadi instrumen investasi yang aman karena nilainya meningkat,” jelasnya.
Sesuai pola tahunan, aktivitas gadai mereka perkirakan kembali meningkat setelah Lebaran.
Masyarakat biasanya kembali menggadaikan barang yang telah mereka tebus untuk memenuhi kebutuhan modal usaha.
“Setelah Lebaran, barang yang sudah mereka tebus umumnya kembali mereka gadaikan. Pola ini setiap tahun,” pungkasnya. (whs)







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.