SEMARANG | Kabarjateng.id – Realisasi investasi di Jawa Tengah sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai Rp72,54 triliun.
Capaian tersebut turut mendorong penyerapan tenaga kerja hingga 340.334 orang atau tumbuh 9,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Johan Hadiyanto, mengatakan nilai investasi tersebut berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA).
Hal itu disampaikan Johan saat memaparkan laporan realisasi investasi triwulan III 2026 di Kantor DPMPTSP Jawa Tengah, Semarang, Senin (26/10/2026).
“Secara kumulatif Januari sampai dengan September 2026 itu capaian realisasi investasi di Jawa Tengah Rp72,54 triliun,” kata Johan.
Dari jumlah tersebut, investasi PMDN tercatat sebesar Rp31,77 triliun, sedangkan PMA mencapai Rp40,77 triliun.
Total realisasi itu setara dengan 73,21 persen dari target resmi investasi Jawa Tengah tahun 2026 sebesar Rp99,09 triliun.
Johan menjelaskan, target resmi tersebut mengacu pada penetapan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Sementara itu, angka Rp110 triliun yang sebelumnya disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi berkaitan dengan capaian tahun sebelumnya yang telah memasukkan realisasi investasi usaha mikro dan kecil (UMK).
“Pak Gubernur benar kalau target capaian investasi bisa mencapai Rp110 triliun. Tapi kalau secara resmi target dari BKPM Rp99,09 triliun. Adapun tahun kemarin memang capaian kita Rp110 triliun itu sudah ditambah dengan capaian realisasi UMK, dan itu belum kita masukkan,” ujarnya.
Pertumbuhan investasi juga terlihat pada triwulan III 2026. Dalam periode tersebut, nilai investasi mencapai Rp24 triliun, meningkat 16,78 persen dibandingkan triwulan III 2025 yang tercatat Rp20,55 triliun.
Dari sisi ketenagakerjaan, sebanyak 340.334 orang terserap dalam 82.420 proyek investasi selama Januari-September 2026.
Jumlah tenaga kerja tersebut naik 4,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Industri barang dari kulit dan alas kaki menjadi sektor dengan serapan tenaga kerja terbesar, yakni 77.330 orang.
Berikutnya, industri tekstil menyerap 69.422 pekerja, sedangkan sektor industri lainnya menampung 30.132 pekerja.
Menurut Johan, capaian tersebut tidak terlepas dari upaya pemerintah daerah dalam menjaga iklim usaha serta memberikan pendampingan kepada investor.
Pelayanan perizinan juga terus dikawal sejak tahap penjajakan hingga penanaman modal benar-benar terealisasi.
Dia menyebut komitmen menjaga stabilitas dan keamanan daerah menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan kepercayaan investor.
Komitmen tersebut, katanya, turut melibatkan Gubernur Ahmad Luthfi, Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Roy Hardi Siahaan, serta Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Sudaryanto.
“Kemarin Pak Gubernur, Pak Kapolda dan Pangdam bersepakat berkomitmen menjaga kondusivitas Provinsi Jawa Tengah, sehingga investor atau calon investor nyaman dan akan senang hati masuk ke Jawa Tengah,” ungkapnya.
Selain menjaga keamanan dan kepastian berusaha, Pemprov Jateng terus mendorong pengembangan kawasan industri.
Saat ini, Jawa Tengah memiliki 12 kawasan industri, termasuk dua kawasan ekonomi khusus (KEK) yang berada di Kendal dan Batang.
Pemerintah juga merencanakan pengembangan 12 kawasan industri baru di sejumlah kabupaten dan kota.
Langkah ini diharapkan dapat memperluas peluang investasi sekaligus membuka lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat.
Ketersediaan tenaga kerja terampil turut menjadi daya tarik bagi investor. Jawa Tengah memiliki 1.557 sekolah menengah kejuruan (SMK) negeri dan swasta dengan jumlah siswa lebih dari 800.000 orang.
Selain itu, tersedia lembaga pelatihan kerja untuk mendukung pemenuhan kebutuhan tenaga kerja sesuai kualifikasi industri.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, peluang penanaman modal dari luar negeri juga terus dijajaki.
Johan mengungkapkan, calon investor asal Uni Emirat Arab tengah menjajaki peluang investasi di Jawa Tengah, termasuk rencana pembangunan fasilitas kilang mikro di sekitar Jepara.
Sementara itu, Hong Kong menjadi negara atau wilayah asal investasi asing terbesar di Jawa Tengah dengan nilai Rp11,02 triliun atau 27,04 persen.
Singapura berada di urutan berikutnya dengan Rp9,59 triliun, disusul Tiongkok sebesar Rp6,74 triliun.
Thailand menyumbang investasi Rp3 triliun, sedangkan Jepang tercatat sebesar Rp2,41 triliun.
Dengan capaian tersebut, Pemprov Jateng masih memiliki ruang untuk mengejar target investasi tahunan.
Penguatan iklim usaha, pengembangan kawasan industri, serta ketersediaan tenaga kerja terampil menjadi sejumlah faktor yang diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan investasi hingga akhir 2026. (dkp)






