PATI | Kabarjateng.id – Posyandu di Jawa Tengah kini tidak lagi hanya berfokus pada pelayanan kesehatan. Melalui transformasi enam Standar Pelayanan Minimal (SPM), Posyandu didorong menjadi pusat layanan masyarakat yang mampu merespons berbagai persoalan warga.
Ketua Tim Pembina Posyandu Jawa Tengah, Hj. Nawal Arafah Yasin, M.S.I., mengatakan transformasi tersebut terus diperkuat agar Posyandu semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat di tingkat desa dan kelurahan.
Saat ini, sekitar 49.149 lembaga Posyandu di Jawa Tengah telah menjalankan layanan berbasis enam SPM.
Bidang yang dilayani meliputi kesehatan, pendidikan, sosial, pekerjaan umum, perumahan rakyat, serta ketenteraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat (trantibumlinmas).
“Alhamdulillah, Posyandu enam SPM ini sudah berjalan dengan baik. Harapannya, berbagai persoalan masyarakat bisa segera diketahui dan ditindaklanjuti,” kata Nawal saat mengunjungi Posyandu Melati di Balai Desa Triguno, Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati, Selasa (6/10/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan bersama Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen.
Dalam kesempatan itu, Nawal melihat langsung pelaksanaan berbagai layanan yang diberikan Posyandu Melati kepada masyarakat.
Layanan tersebut antara lain pemeriksaan kesehatan bayi, pendidikan anak usia dini, hingga penampungan aspirasi dan pengaduan warga.
Menurut Nawal, sektor pendidikan menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan Posyandu.
Layanan tersebut diintegrasikan dengan program PAUD Emas untuk memperkuat akses pendidikan anak sejak usia dini.
Dalam kunjungan itu, bantuan fasilitas pojok baca diberikan kepada TK Insan Ceria. Bantuan tersebut berupa rak buku, 50 judul buku cerita, wastafel, tempat sampah, serta alat permainan edukatif.
“Pendidikan menjadi salah satu prioritas. Melalui PAUD Emas, kami ingin layanan pendidikan anak semakin dekat dengan masyarakat,” ujar Bunda PAUD Jawa Tengah itu.
Tidak hanya pendidikan, layanan sosial juga diperkuat. Dua kursi roda dan satu kaki palsu diserahkan kepada warga penyandang disabilitas sebagai bagian dari upaya memperluas akses bantuan sosial.
Sementara untuk bidang trantibumlinmas, Posyandu menggandeng program PKK Siaga dan Tanggap Bencana (Sigab).
Para kader PKK diberikan pembekalan mengenai mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Di sektor perumahan rakyat, Posyandu Melati mengembangkan kebun gizi dengan memanfaatkan lahan untuk menanam berbagai jenis sayuran.
Bantuan renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) juga disalurkan kepada warga yang membutuhkan.
Nawal bersama Taj Yasin turut memantau penyaluran bantuan air bersih untuk warga Dusun Putuk, Desa Triguno.
Sebanyak 10 tangki air dikirim untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan akibat kemarau panjang.
Penyaluran air bersih tersebut menjadi bagian dari pelayanan Posyandu enam SPM di sektor pekerjaan umum sekaligus pelaksanaan program PKK Sigab.
Nawal menilai kesiapsiagaan menghadapi bencana perlu diperkuat hingga tingkat kader.
Karena itu, TP PKK Jawa Tengah juga menyiapkan buku panduan PKK Sigab yang dapat digunakan sebagai acuan dalam melakukan mitigasi bencana.
“Kami juga menyusun buku panduan PKK Sigab untuk mitigasi bencana bagi para kader. Ini penting agar mereka memiliki bekal ketika menghadapi kondisi darurat,” jelasnya.
Selain memperluas pelayanan masyarakat, TP PKK Jawa Tengah juga mendorong penguatan ekonomi keluarga melalui program pengolahan minyak jelantah.
Program yang menggandeng PT Gapura Mas Lestari (GML) dan PT Biosirkular Inovasi Indonesia tersebut melibatkan kader Posyandu dan PKK dalam pengumpulan minyak jelantah untuk kemudian memiliki nilai ekonomi.
Nawal meminta program tersebut terus disosialisasikan kepada masyarakat, bersamaan dengan gerakan memilah sampah dan limbah dari rumah tangga.
“Pemilahan sampah dan limbah, termasuk minyak jelantah, perlu terus disosialisasikan. Saat ini pengumpulan minyak jelantah sudah berjalan di sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Tengah,” pungkas Nawal. (dkp)






