SEMARANG, Kabarjateng.id – Forum Komunikasi Ormas Semarang Bersatu (FKSB) menilai satu tahun awal kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang periode 2025-2030 sebagai fase penting dalam refleksi peletakan fondasi pembangunan kota.
Masa awal ini, sebagai periode konsolidasi birokrasi, penajaman kebijakan, serta penyelarasan program dengan visi “Semarang Semakin Hebat”.
Ketua FKSB Kota Semarang, Dr H KRAT AM Jumai, SE, MM, menekankan komitmen bahwa organisasinya menjadi mitra strategis pemerintah kota.
Utamanya dalam hal mendukung kebijakan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, sinergi antara organisasi kemasyarakatan (ormas) dan pemerintah menjadi kunci keberhasilan pembangunan daerah.
“Kami ingin ormas FKSB mendukung kebijakan pemerintah, yakni memihak kepentingan rakyat sekaligus ikut kontribusi nyata dalam pembangunan,” ujarnya dalam keterangan resmi kepada kabarjateng.id, Kamis (19/2).
Kepemimpinan Agustina Wilujeng Pramestuti bersama Iswar Aminuddin juga ia nilai, telah memulai sejumlah langkah strategis, terutama persoalan penguatan kesejahteraan masyarakat.
Mulai dari program bantuan operasional kepada RT, dukungan kegiatan pemberdayaan warga, serta peningkatan perhatian sektor sosial-keagamaan.
Seperti insentif guru keagamaan dan pengurus jenazah menurut AM Jumai telah mendapat apresiasi dari tokoh agama dan masyarakat.
Selain itu, adapula pendekatan pembangunan komunitas melalui peningkatan partisipasi warga dalam pembangunan lingkungan.
Kemudian dari sisi penguatan peran wilayah sebagai pusat pelayanan masyarakat.
Upaya menuju kota inklusif, lanjut AM Jumai juga mulai tampak melalui program pemberdayaan penyandang disabilitas dan kelompok rentan.
Dalam bidang ekonomi, pemerintah kota berupaya memperkuat UMKM, ekonomi kreatif, serta sektor jasa dan pariwisata sebagai penggerak ekonomi daerah.
Penataan anggaran yang lebih efisien dengan tetap memprioritaskan sektor pendidikan, kesehatan, dan layanan dasar juga menjadi bagian kebijakan yang perlu mendapat apresiasi.
Persoalan Klasik
Namun demikian, FKSB mencatat masih ada sejumlah “persoalan klasik” perlu mendapat perhatian serius, seperti banjir, rob, kerusakan jalan, serta drainase lingkungan.
Pemerataan pembangunan antara pusat kota dan wilayah pinggiran seperti Mijen, Gunungpati, dan Tembalang perlu peningkatan.
Tujuannya, agar masyarakat Kota Semarang mampu merasakan manfaat pembangunan secara merata.
Dari perspektif organisasi kemasyarakatan dan tokoh agama, kepemimpinan Agustina-Iswar telah memiliki komitmen sosial baik.
Akan tetapi, AM Jumai menyinggung perlunya memperkuat komunikasi publik, transparansi kebijakan, serta kolaborasi lintas sektor.
Sinergi antara pemerintah, ormas, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat perlu pendekatan sebagai faktor penentu keberhasilan pembangunan ke depan.
Mitra Produktif
Memasuki akhir 2025, FKSB menyoroti pentingnya penguatan ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan UMKM dengan melibatkan ormas sebagai mitra produktif pemerintah.
Hal itu menjadi harapan AM Jumai bersama FKSB agar pemerintah kota mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat kemandirian masyarakat.
Pada 2026, FKSB juga memiliki rencana menggelar berbagai kegiatan penguatan soliditas organisasi, salah satunya program Kemah Pembauran Ormas.
Dengan fokus kegiatan menuju pada peningkatan kapasitas, persatuan, serta pencegahan konflik sosial masyarakat.
Secara keseluruhan, Ketua FKSB AM Jumai menilai tahun pertama kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang merupakan masa refleksi peletakan fondasi pembangunan.
Tantangan selanjutnya adalah memasuki fase akselerasi dengan memastikan program menjadi efektif, mempercepat pembangunan infrastruktur dasar.
Serta menjaga integritas dan keberpihakan pada kepentingan masyarakat luas.
“Semangatnya adalah rangkul semua elemen dan hadirkan kontribusi nyata. Dengan kebersamaan, kami optimistis Semarang akan semakin hebat, adil, dan sejahtera,” pungkas Jumai.
Penulis: Kabarjateng.id
Tim Editor: Wahyu Hamijaya






Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.