CILACAP, Kabarjateng.id – Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, berubah menjadi kawasan darurat setelah longsor besar melanda wilayah tersebut pada Kamis malam (13/11).
Hujan intensitas tinggi yang mengguyur sejak sore hari memicu pergeseran tanah dari perbukitan, menimbun puluhan rumah warga dan memaksa aparat gabungan bergerak cepat melakukan penyelamatan.
Begitu laporan masuk, Polresta Cilacap bersama Satuan Brimob Polda Jawa Tengah langsung menyiapkan langkah tanggap darurat. Pada pukul 22.45 WIB, Brimob menggelar apel keberangkatan BKO SAR di bawah pimpinan Danki 1 Yon D Pelopor AKP Suprapto.
Sebanyak 60 personel yang dipimpin Wadanyon D Pelopor AKP Maryono diterjunkan lengkap dengan perlengkapan SAR, mulai dari tenda pleton, tali karamantel, helm keselamatan, rompi hijau polisi, hingga alat manual seperti sekop dan cangkul. Kendaraan taktis turut dikerahkan untuk mempercepat mobilisasi menuju lokasi.
Meski hujan masih menyisakan rintik dan kondisi tanah labil, personel langsung berkoordinasi dengan Basarnas, BPBD, relawan serta perangkat desa. Suara runtuhan kecil dari bukit masih terdengar, menandakan medan yang sangat berbahaya.
Pada pukul 02.45 WIB, apel konsolidasi operasi SAR pertama dipimpin Kasiops Basarnas Cilacap Priyo Prayudha Utama. Selanjutnya, Kapolresta Cilacap Kombes Pol Dr. Budi Adhy Buono meninjau langsung lokasi pukul 03.00 WIB untuk memastikan seluruh unsur bergerak sesuai arah dan prioritas.
Memasuki pagi hari, aktivitas penyelamatan semakin intens. Pukul 08.00 WIB, Kapolresta bersama Bupati Cilacap Dr. Syamsul Auliya Rachman memimpin apel gabungan di pos bencana, sekaligus membagi sektor pencarian. Dua titik terdampak, yaitu Dusun Tarukahan dan Cibuyut, menjadi fokus utama.
Pada pukul 08.45 WIB, operasi pencarian dimulai. Karena medan sangat berat dan tidak stabil, tim menggunakan alat manual untuk menghindari risiko tambahan. Upaya ini berbuah hasil sekitar pukul 09.40 WIB ketika beberapa korban mulai berhasil ditemukan.
Namun pada pukul 15.50 WIB, kondisi kembali memburuk akibat hujan deras. Demi keselamatan, pencarian terpaksa dihentikan sementara dan seluruh tim dikonsolidasikan pukul 16.15 WIB untuk siaga menunggu situasi aman.
Dari laporan resmi, total 28 warga di dua dusun terdampak menjadi korban longsor. Di Dusun Tarukahan, lima warga ditemukan selamat, sementara tiga warga—Julia, Maya, dan Vati Hayati—ditemukan meninggal dunia.
Tujuh warga lainnya, yakni Yuni, Nina, Fani, Fatin, Lilis, Danu, serta seorang balita anak dari Lilis, masih dalam pencarian.
Sementara itu, seluruh warga Dusun Cibuyut yang terdiri dari keluarga Rastum, Rahma, Aca, Cahyanto, Kasri, Zahra, Nilna, Asmanto, Isna dan anaknya, serta keluarga Dani, juga belum ditemukan.
Operasi pencarian akan dilanjutkan Sabtu (15/11) dengan pengerahan kekuatan penuh. Kapolresta Cilacap menegaskan bahwa seluruh tim bekerja tanpa henti demi mempercepat penanganan.
“Kami bersinergi dengan Brimob, TNI, Basarnas, BPBD, dan para relawan. Medan sangat menantang, cuaca tidak menentu, namun kami terus bergerak karena setiap menit sangat berharga bagi korban dan keluarga,” tegasnya di posko bencana.
Polda Jawa Tengah melalui Kabid Humas Kombes Pol Artanto menyampaikan apresiasinya terhadap langkah cepat Brimob dan Polresta Cilacap. Ia menilai koordinasi antarlembaga menjadi kunci utama efektivitas operasi SAR di kawasan rawan longsor tersebut.
“Kami berduka atas para korban yang meninggal dunia dan mendoakan keluarga diberi kekuatan. Kami berharap seluruh korban yang masih hilang dapat segera ditemukan. Polda Jateng memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh personel yang bekerja tanpa kenal lelah dalam operasi kemanusiaan ini,” ujarnya. (ajp)






