Menu

Mode Gelap
 

Pendidikan

Bullying di Sekolah Masih Kerap Dianggap Sepele, Edukasi Pencegahan Perlu Diperkuat

badge-check


					Bullying di Sekolah Masih Kerap Dianggap Sepele, Edukasi Pencegahan Perlu Diperkuat Perbesar

SEMARANG, Kabarjateng.id – Praktik kekerasan kepada anak dari lingkungan sekolah, utamanya perundungan atau bullying, masih menjadi persoalan serius.

Sayangnya, tindakan ini seringkali hanya sebagai hal yang biasa dalam interaksi antar siswa.

Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan bullying membutuhkan pendekatan lebih menyeluruh dan berkesinambungan.

Berangkat dari keprihatinan, Lembaga Anantaka menggelar kegiatan edukasi pencegahan bullying SMP Negeri 36 Semarang, pada Senin (26/1/2026).

Edukasi ini menghadirkan seluruh siswa kelas VII hingga IX dengan total 864 peserta, tanpa pengecualian.

Berbeda dengan metode sosialisasi pada umumnya yang hanya melibatkan perwakilan siswa, Anantaka memilih pendekatan langsung ke setiap kelas.

Tujuannya agar seluruh peserta didik memperoleh pemahaman sama mengenai pengertian bullying, ragam bentuknya, dampak psikologis, serta cara mencegah dan menyikapinya.

Sebanyak sembilan pemateri hadir untuk mengisi 27 kelas secara bersamaan.

Kepala SMP Negeri 36 Semarang, Nining Sulistiyaningsih, menyambut positif kegiatan ini.

Menurutnya, banyak siswa belum menyadari bahwa tindakan verbal seperti mengejek, merendahkan, atau mengucilkan teman masuk bentuk bullying yang berbahaya.

“Bullying sering kali tanpa sadar, apalagi dalam bentuk verbal. Padahal, dampaknya sangat serius bagi kesehatan mental dan perkembangan anak,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Anantaka, Tsaniatus Solihah, menilai persepsi keliru masyarakat menjadi salah satu hambatan utama penanganan bullying.

Masih banyak yang menganggap perundungan sebagai sekadar candaan atau bagian dari dinamika pertemanan, sehingga korban enggan melapor.

“Setiap tahun, angka kekerasan anak masih cukup tinggi dan sekolah menjadi salah satu lingkungan rawan. Bullying adalah kasus yang paling sering terjadi, namun ironisnya jarang terungkap,” ungkap Tsaniatus.

Pemahaman Teoritis

Melalui program ini, Anantaka tidak hanya memberikan pemahaman teoritis, tetapi juga mendorong siswa untuk berani bersikap.

Para siswa diajak membangun lingkungan pertemanan yang aman, saling menghargai, serta memiliki keberanian untuk melaporkan jika mengalami atau menyaksikan tindakan perundungan.

Kegiatan di SMPN 36 Semarang ini menjadi proyek percontohan yang diharapkan dapat diterapkan di sekolah lain.

Selama ini, program Anantaka Goes to School telah menjangkau lebih dari 30 sekolah, meski belum semuanya menerapkan edukasi yang menyasar seluruh siswa.

“Pencegahan bullying harus menjadi kesadaran bersama. Tidak cukup hanya melibatkan sebagian siswa, tetapi seluruh komunitas sekolah,” tegas Tsaniatus.

Anantaka juga mengajak peran aktif sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan ramah anak.

Kolaborasi lintas pihak dinilai menjadi kunci agar sekolah terbebas dari praktik bullying di sekolah.

Dengan edukasi yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, diharapkan budaya saling menghormati dapat tumbuh sejak dini, sehingga bullying tidak lagi dianggap sebagai hal wajar, melainkan sebagai persoalan serius yang harus dicegah bersama. (day)

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Polisi Selidiki Kasus Hilangnya Motor di Andong Boyolali, Pelaku Diduga Gunakan Kunci Palsu

26 Mei 2026 - 20:42 WIB

Pencuri Tas Jamaah di Masjid Kudus Ditangkap, Polisi Temukan Sisa Uang Rp 2 Juta

26 Mei 2026 - 18:03 WIB

Jelang Idul Adha, Bupati Semarang Cek Langsung Kesehatan Hewan Kurban di Pasar Pon Ambarawa

26 Mei 2026 - 16:17 WIB

Wagub Jateng Saksikan Tradisi Perang Obor Jepara, Warisan Leluhur yang Tetap Hidup

26 Mei 2026 - 15:32 WIB

Rupiah Borobudur Playon 2026 Bidik 10 Ribu Pengunjung, Dongkrak Ekonomi dan UMKM Jateng

26 Mei 2026 - 13:41 WIB

Arus Sungai Deras, Dua Atlet Dayung Pemalang Ditemukan Tak Bernyawa

26 Mei 2026 - 13:24 WIB

Trending di KABAR JATENG