Menu

Mode Gelap
 

Kabar Jawa Tengah · 15 Des 2025 21:06 WIB

Perhutanan Sosial Dinilai Efektif Tekan Lahan Kritis di Jawa Tengah


					Perhutanan Sosial Dinilai Efektif Tekan Lahan Kritis di Jawa Tengah Perbesar

SEMARANG, Kabarjateng.id – Program pemulihan lingkungan yang dijalankan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai menunjukkan dampak nyata. Luas lahan kritis di wilayah ini dilaporkan menyusut hingga 75 ribu hektare dalam tiga tahun terakhir, seiring penguatan program perhutanan sosial yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah, Widi Hartanto, menyebutkan bahwa pada periode 2022 hingga 2024, lahan kritis di Jawa Tengah masih tercatat sekitar 392 ribu hektare. Berdasarkan pemutakhiran data terbaru, luasannya kini turun menjadi 317.629 hektare.

“Penurunan ini menjadi indikator bahwa upaya rehabilitasi dan pengelolaan hutan yang dilakukan selama ini berjalan ke arah yang positif,” ujar Widi dalam Rapat Koordinasi Kelompok Kerja Percepatan Perhutanan Sosial di Kantor DLHK Jateng, Kota Semarang, Senin (15/12/2025).

Menurutnya, perbaikan kondisi lahan tidak lepas dari sinergi lintas sektor, termasuk keterlibatan kelompok masyarakat yang mengelola kawasan hutan melalui berbagai skema perhutanan sosial.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menegaskan bahwa perhutanan sosial merupakan pendekatan strategis untuk memulihkan lahan kritis tanpa mengabaikan kesejahteraan warga sekitar hutan.

Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya pendampingan dan pengawasan agar fungsi ekologis kawasan tetap terjaga.

“Hutan harus tetap menjalankan perannya sebagai penjaga keseimbangan alam dan penyangga resapan air. Karena itu, pengelolaan oleh masyarakat harus dilakukan secara bertanggung jawab,” kata Sumarno, yang hadir mewakili Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.

Ia menjelaskan, penerapan pola tanam berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan perhutanan sosial.

Skema yang dianjurkan antara lain 50 persen tanaman keras, 30 persen tanaman keras produktif seperti buah, serta 20 persen tanaman semusim.

Dengan komposisi tersebut, diharapkan hutan dapat pulih secara alami sekaligus memberi manfaat ekonomi.

“Jika aturan ini dijalankan secara konsisten, pelestarian hutan dan peningkatan ekonomi masyarakat bisa berjalan beriringan,” imbuhnya.

Hingga saat ini, Jawa Tengah telah memiliki 145 kelompok pemegang Surat Keputusan (SK) Persetujuan Perhutanan Sosial dengan luas mencapai 109.879 hektare.

Skema tersebut mencakup Hutan Kemasyarakatan, Hutan Desa, Hutan Adat, IPHPS, Hutan Kemitraan, serta kawasan konservasi.

Selain itu, berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor 149 Tahun 2025, kawasan Hutan dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK) di Jawa Tengah mencapai 190.462 hektare atau sekitar 30 persen.

Perhutanan sosial di kawasan ini melibatkan 133 kelompok masyarakat dengan total luasan 28.902,83 hektare yang tersebar di 13 kabupaten. (rs)

Artikel ini telah dibaca 12 kali

badge-check

Publisher

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Tawuran Perang Sarung di Mranggen Berujung Pembacokan, Tiga Remaja Diamankan Polisi

15 Maret 2026 - 20:19 WIB

Korsleting Sepeda Motor Picu Kebakaran, Rumah Triningsih dan Dua Motor Hangus

15 Maret 2026 - 19:36 WIB

325 Bus Siap Angkut 16 Ribu Pemudik, Armada Mudik Gratis Jateng Mulai Berdatangan di TMII

15 Maret 2026 - 18:00 WIB

Dua Kendaraan Pemudik Terlibat Kecelakaan di Tol Semarang–Solo, Dua Penumpang Luka

15 Maret 2026 - 17:43 WIB

Tawuran di Jalan Raya Tuntang, Polisi Amankan Sejumlah Remaja

15 Maret 2026 - 17:26 WIB

Hari ke-2 Operasi Ketupat Candi 2026, 31.703 Kendaraan Masuk Jateng Lewat GT Kalikangkung

15 Maret 2026 - 17:02 WIB

Trending di KABAR JATENG