SEMARANG | Kabarjateng.id — Ribuan warga memadati halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah, Minggu (23/8/2026) malam, dalam acara Jateng Bersholawat.
Bukan sekadar menjadi ajang melantunkan selawat, kegiatan tersebut juga menjadi momentum mempererat persaudaraan, menjaga kerukunan, serta mendoakan masyarakat yang sedang menghadapi bencana.
Jateng Bersholawat digelar sebagai penutup rangkaian peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah.
Kegiatan ini sekaligus dirangkaikan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.
Mengangkat semangat “Wolung Puluh Siji, Gumregut Nyawiji”, acara tersebut membawa pesan bahwa kemajuan Jawa Tengah membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian dinilai menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan.
Ustadz Wijayanto yang menyampaikan mauidhoh hasanah menilai pemilihan selawatan sebagai bagian dari peringatan hari jadi daerah memiliki makna yang mendalam.
Menurutnya, selawat tidak hanya menjadi bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW, tetapi juga sarana memperkuat ukhuwah dan kebersamaan.
Ia mengapresiasi penyelenggaraan Jateng Bersholawat dengan semangat persatuan.
Menurutnya, pesan “Gumregut Nyawiji” dapat dimaknai sebagai ajakan bagi masyarakat Jawa Tengah untuk bersatu membangun daerah sekaligus berkontribusi bagi Indonesia.
Sementara itu, Habib Ali Zainal Abidin Assegaf yang memimpin selawat mengajak masyarakat menjadikan kegiatan tersebut sebagai sarana meneladani ajaran Rasulullah SAW, terutama dalam membangun persatuan dan kepedulian sosial.
Dalam kesempatan itu, doa dipanjatkan agar Jawa Tengah senantiasa berada dalam kondisi aman, damai, rukun, dan sejahtera.
Harapan agar berbagai program pembangunan yang masih berjalan dapat dimudahkan juga turut disampaikan.
Doa khusus juga ditujukan kepada masyarakat yang terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan, serta sejumlah wilayah lain di Indonesia.
Sebelum rangkaian selawat berlangsung, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa pembangunan daerah merupakan tanggung jawab bersama.
Pemerintah, menurutnya, membutuhkan dukungan masyarakat untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang masih dihadapi Jawa Tengah.
Memimpin Jawa Tengah bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen selama sekitar 1,6 tahun, Luthfi menyadari masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang perlu dituntaskan.
Upaya tersebut sekaligus melanjutkan pembangunan yang telah dirintis oleh para gubernur sebelumnya.
Luthfi juga mengajak masyarakat tidak ragu menyampaikan kritik, masukan, maupun saran kepada pemerintah.
Menurut dia, partisipasi publik diperlukan sebagai bahan evaluasi agar kebijakan yang dihasilkan semakin tepat dan bermanfaat.
Ia menekankan bahwa semangat persatuan dan gotong royong harus menjadi landasan dalam membangun Jawa Tengah.
Pemerintah dan masyarakat perlu bergerak dalam satu arah untuk mewujudkan daerah yang lebih maju sekaligus berkeadaban.
Jateng Bersholawat pun menjadi ruang refleksi bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan infrastruktur.
Kepedulian sosial dan kemampuan masyarakat untuk saling membantu juga menjadi bagian penting dari kemajuan daerah.
Luthfi mengajak seluruh masyarakat Jawa Tengah turut mendoakan warga yang tengah mengalami musibah agar diberikan kekuatan dan segera dapat bangkit dari dampak bencana.
Rangkaian acara yang berlangsung dalam suasana khidmat tersebut akhirnya menjadi lebih dari sekadar penutup peringatan Hari Jadi Jawa Tengah.
Jateng Bersholawat menghadirkan pesan bahwa persatuan harus terus dijaga, gotong royong perlu diperkuat, dan kepedulian terhadap sesama harus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Semangat “Gumregut Nyawiji” pun menemukan maknanya dalam kebersamaan warga yang hadir: bergerak bersama, saling menguatkan, dan menghadapi berbagai persoalan dengan semangat persaudaraan. (dkp)






