SEMARANG, Kabarjateng.id – Menjelang puncak musim hujan yang diperkirakan terjadi antara Desember hingga Februari, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menginstruksikan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat langkah mitigasi.
Dalam rapat koordinasi yang digelar di Semarang, Selasa (18/11/2025), Luthfi mengumpulkan BNPB, Polda Jawa Tengah, Kodam, BBWS, BPBD, serta para bupati dan wali kota se-Jawa Tengah guna menyusun pemetaan terbaru wilayah yang tergolong berisiko tinggi terhadap bencana.
Gubernur menjelaskan bahwa setiap daerah harus mengetahui secara rinci potensi ancaman di wilayahnya, baik banjir, longsor, hingga aktivitas vulkanik.
“Hari ini kita melakukan pendataan ulang titik-titik rawan. Semua dibahas secara detail agar penanganan bisa lebih terarah,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak boleh bersikap reaktif dan menunggu kejadian. Kepala daerah diminta segera menindaklanjuti hasil pertemuan ini dengan menyiapkan langkah pencegahan di lapangan.
“Setelah kembali ke daerah masing-masing, saya minta para bupati dan wali kota langsung memulai persiapan teknis sebagai pengendali wilayah,” kata Luthfi.
Dalam strategi mitigasi tersebut, desa menjadi garda terdepan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mendorong pembentukan lebih dari delapan ribu Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan sejak level terbawah.
“Dengan adanya pemetaan di setiap daerah, masyarakat bisa diberikan peringatan dini dan edukasi pencegahan,” tambahnya.
Selain pemetaan risiko, Luthfi meminta setiap daerah memastikan kesiapan jalur evakuasi, lokasi pengungsian, serta mekanisme penanganan cepat apabila bencana benar-benar terjadi.
Ia berharap seluruh aspek tersebut disusun dengan jelas—mulai dari arahan evakuasi, titik kumpul aman, hingga pola koordinasi antar-instansi.
“Kalau semua sudah direncanakan, maka ketika ada kejadian kita tidak panik dan bisa bergerak cepat,” ucapnya.
Gubernur juga mengingatkan bahwa sejumlah kejadian bencana di Banjarnegara dan Cilacap menjadi pelajaran penting tentang pentingnya kesiapsiagaan.
Karena itu, kewaspadaan harus ditingkatkan, terutama memasuki akhir tahun.
“Saya minta seluruh wilayah tetap siaga agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.
Beberapa daerah seperti Purworejo, Brebes, Temanggung, Batang, dan Rembang disebut sudah memiliki peta kesiapsiagaan yang lebih lengkap.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi memastikan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) siap digerakkan kapan pun dibutuhkan untuk mendukung penanganan darurat.
“Meski demikian, kita tentu berharap tidak ada bencana sehingga anggaran itu tidak perlu digunakan,” kata Luthfi. (rs)






