WONOGIRI | Kabarjateng.id – Upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam menekan angka kemiskinan tidak hanya dilakukan melalui penyaluran bantuan.
Pemerintah juga mendorong agar masyarakat memiliki sumber penghasilan yang berkelanjutan melalui penguatan potensi ekonomi desa.
Langkah tersebut salah satunya dijalankan RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta melalui Program Desa Dampingan di Desa Minggarharjo, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri.
Program yang telah berjalan sejak Januari 2026 itu ditinjau langsung Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, Kamis (13/8/2026).
Pendampingan dilakukan berdasarkan pemetaan kondisi dan kebutuhan masyarakat.
Dari hasil asesmen, sektor pertanian dan peternakan menjadi potensi ekonomi utama warga.
Selain itu, masih ditemukan sejumlah persoalan yang berkaitan dengan UMKM, kesehatan, sanitasi, hingga kondisi rumah warga.
Bantuan yang diberikan kemudian diarahkan untuk menjawab berbagai kebutuhan tersebut sekaligus mendorong masyarakat mengembangkan usaha.
Dalam kegiatan itu, diserahkan bantuan untuk peningkatan kualitas empat rumah tidak layak huni (RTLH) sebesar Rp40 juta, dukungan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Rp20 juta, empat paket modal usaha senilai Rp12 juta, serta pembangunan tiga unit jambanisasi dengan nilai Rp19,11 juta.
Dukungan turut diberikan pihak swasta. PT Djarum menyalurkan bantuan pembangunan lima Rumah Sederhana Layak Huni (RSLH) senilai Rp370 juta.
Sementara PT Jamkrida Jateng membantu pembangunan 15 unit jambanisasi dengan nilai Rp50 juta.
Total bantuan yang disalurkan dalam rangkaian program tersebut mencapai sekitar Rp511,11 juta.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan, pengentasan kemiskinan membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Menurutnya, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri sehingga kolaborasi dengan rumah sakit, BUMD, dunia usaha, dan berbagai elemen lainnya perlu diperkuat.
Gus Yasin menjelaskan, berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan Jawa Tengah mengalami penurunan dari 9,39 persen menjadi 9,21 persen.
Namun, tingkat kemiskinan Kabupaten Wonogiri masih berada di angka 9,59 persen sehingga diperlukan langkah intervensi yang lebih terarah.
Pemerintah kemudian melakukan pemetaan hingga tingkat kecamatan dan desa untuk menentukan wilayah yang membutuhkan perhatian lebih.
“Dari Wonogiri ini kita petakan lagi kecamatannya. Kecamatan yang masih di atas data Kabupaten Wonogiri mana? Nah, kebetulan di Kecamatan Eromoko ini masih di atas Wonogiri. Sehingga perlu diintervensi,” ujar Gus Yasin.
Ia menegaskan, bantuan yang diberikan kepada masyarakat harus mampu berkembang menjadi kegiatan produktif.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menerima bantuan, tetapi memiliki sumber pendapatan yang dapat terus dikembangkan.
“Tujuan kita memberikan bantuan kelompok-kelompok usaha bersama ini supaya menjadi income (pendapatan),” katanya.
Menurut Gus Yasin, keberhasilan program juga akan dipantau secara berkala.
Jika usaha peternakan maupun kegiatan ekonomi lainnya berkembang dengan baik, pola serupa dapat diterapkan kepada kelompok masyarakat lainnya.
Direktur RSJD dr. Arif Zainudin, Setyowati Raharjo, menjelaskan bahwa program pendampingan dimulai melalui survei dan identifikasi lapangan.
Pemetaan dilakukan untuk mengetahui persoalan sekaligus potensi yang dapat dikembangkan masyarakat.
“Yang kami lakukan dari hasil survei dari peternakan, pertanian, UMKM dan kesehatan,” ujarnya.
Pada sektor peternakan, masyarakat Minggarharjo mengembangkan sapi, kambing, dan ayam.
Namun, pengelolaan ternak, termasuk penyediaan pakan, masih dilakukan dengan cara sederhana.
Untuk mendukung produktivitas peternakan, RSJD dr. Arif Zainudin memberikan tiga unit alat pencacah.
Peralatan tersebut dapat digunakan mengolah rumput sebagai bahan pakan sekaligus membantu pemanfaatan kotoran ternak menjadi kompos.
Sementara itu, sektor pertanian masih menghadapi persoalan keterbatasan air.
Sebagian petani mengandalkan curah hujan sehingga umumnya hanya dapat melakukan panen utama satu kali dalam setahun.
Saat musim kemarau, lahan digunakan untuk menanam sejumlah komoditas seperti jagung, kacang tanah, tembakau, dan melon.
Produktivitas pertanian juga terkendala serangan hama tikus.
Gus Yasin berharap pelatihan, bantuan peralatan, dan pendampingan yang diberikan dapat meningkatkan kemampuan warga dalam mengembangkan sektor pertanian dan peternakan.
“Dengan adanya pengolahan, pelatihan, pendampingan seperti ini harapannya pertaniannya semakin baik,” tuturnya.
Di bidang UMKM, sejumlah warga menjalankan usaha pembuatan rengginang, wayang kulit, dan batik tulis.
Namun, pemasaran masih menjadi tantangan karena sebagian produk dibuat berdasarkan pesanan.
Karena itu, penguatan promosi dan perluasan pasar menjadi salah satu kebutuhan yang perlu mendapat perhatian.
Program pendampingan juga menyentuh aspek kesehatan. Berdasarkan hasil pemetaan, terdapat delapan balita yang masuk kategori berisiko stunting serta tiga baduta yang mengalami stunting.
Selain itu, ditemukan empat warga dengan gangguan kesehatan jiwa yang sebelumnya pernah menjalani perawatan di RSJD dr. Arif Zainudin.
Setyowati mengatakan, pendampingan dilakukan secara bertahap dan mencakup berbagai bidang.
Kegiatannya antara lain edukasi kesehatan jiwa, pelatihan beternak kambing, pemberian peralatan pendukung, hingga membantu kelompok masyarakat menyusun proposal KUBE dan mengakses dukungan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Kepala Desa Minggarharjo Tri Wiyono menyambut baik program tersebut.
Menurutnya, pendampingan dari berbagai pihak membantu desa menangani kebutuhan masyarakat yang tidak seluruhnya dapat dibiayai melalui anggaran desa.
Ia berharap program tersebut dapat terus berjalan sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
“Harapannya mudah-mudahan tetap masih berlanjut sampai warganya betul-betul sejahtera,” kata Tri Wiyono.
Ia menambahkan, pendampingan selama setahun masih diperlukan karena sejumlah persoalan ekonomi membutuhkan penanganan berkelanjutan.
Salah satunya dialami para pengrajin gamelan yang saat ini menghadapi kendala dalam memperoleh pesanan.
Melalui pola pendampingan yang menggabungkan bantuan sosial, penguatan ekonomi, kesehatan, serta dukungan dunia usaha, program Desa Dampingan diharapkan mampu mendorong masyarakat Minggarharjo menjadi lebih mandiri dan memiliki sumber pendapatan yang berkelanjutan. (dkp)






