Menu

Mode Gelap
 

Kabar Tegal · 15 Feb 2026 20:55 WIB

NU Peduli Jateng Gelar Rakor Perkuat Sinergi Kemanusiaan se-Pekalongan Raya


					NU Peduli Jateng Gelar Rakor Perkuat Sinergi Kemanusiaan se-Pekalongan Raya Perbesar

TEGAL, Kabarjateng.id — NU Peduli Kemanusiaan PWNU Jateng terus memperkuat kesiapsiagaan bencana di wilayah rawan.

Pengurus menggelar rapat koordinasi (Rakor) Kemanusiaan se-Zona Pekalongan Raya di Lasnur Convention Hall, Jalan Ahmad Yani, Slawi, Kabupaten Tegal, Ahad (15/2/2026).

Panitia menghadirkan unsur Tanfidziyah PCNU se-Pekalongan Raya, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim (LPBI), Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU), serta Lembaga Pendidikan Ma’arif NU (LP Ma’arif) tingkat cabang.

Keterlibatan lintas lembaga ini menunjukkan komitmen NU membangun sistem kemanusiaan yang terkoordinasi dan berkelanjutan.

Ketua NU Peduli Jateng, Muchammad Pudji Wibowo, menjelaskan bahwa tingginya intensitas banjir, tanah longsor, dan bencana hidrometeorologi lain di Pekalongan Raya mendorong pengurus menginisiasi rakor tersebut.

“NU Peduli sebagai gerakan kemanusiaan Nahdlatul Ulama memikul tanggung jawab moral dan struktural untuk memastikan setiap respons kebencanaan berjalan cepat, tepat, terkoordinasi, serta dapat dipertanggungjawabkan,” tegas Pudji.

Ia menyebut rakor tingkat zona ini sebagai forum perdana. Melalui forum ini, para peserta menyamakan visi dan pola kerja antar-lembaga NU saat menghadapi kondisi darurat.

Setelah Idulfitri 2026, pengurus akan melanjutkan agenda serupa di zona lain di Jawa Tengah.

“Kita memerlukan forum koordinasi seperti ini agar bisa memetakan potensi dan risiko bencana di setiap kabupaten dan kota di Zona Pekalongan Raya,” ujarnya.

Tiga Agenda Utama

Pudji merinci tiga fokus pembahasan dalam rakor tersebut.

Pertama, peserta menyepakati standar operasional NU Peduli di tingkat cabang agar setiap langkah penanganan bencana memiliki rujukan yang sama.

Kedua, peserta menyinkronkan program tanggap darurat yang masing-masing lembaga jalankan supaya tidak terjadi tumpang tindih.

Ketiga, peserta menyeragamkan sistem pelaporan kegiatan dan keuangan serta memperkuat manajemen media agar publik mengetahui kerja-kerja kemanusiaan NU secara luas.

“Selama ini kita banyak bekerja di lapangan, tetapi belum semua terdokumentasi dan tersampaikan ke publik. Dokumentasi yang baik akan memperkuat kepercayaan masyarakat,” ungkapnya.

Peran Vital Lembaga

Pudji menegaskan LPBI, LAZISNU, dan LP Ma’arif memegang peran strategis dalam sistem ketanggapsiagaan NU. LPBI menggerakkan relawan dan memimpin respons kebencanaan.

LAZISNU menggalang sekaligus mengelola donasi umat. Sementara itu, LP Ma’arif mengawal lembaga pendidikan yang banyak berdiri di wilayah rawan bencana.

“Ketiga unsur ini harus berjalan dalam satu irama. Saat bencana terjadi, dampaknya menyentuh masyarakat, lembaga pendidikan, ekonomi warga, hingga kehidupan sosial,” jelasnya.

Menuju Sistem Terpadu

Sebagai tindak lanjut, pengurus akan merumuskan sinergi antar-lembaga melalui forum rembug di tiap zona.

Mereka akan menyusun peta kerawanan, memetakan sumber daya, serta merancang langkah penanganan sejak fase tanggap darurat, rehabilitasi, hingga rekonstruksi.

Pudji menegaskan rakor ini menargetkan lahirnya standar operasional baku sebagai pedoman seluruh PCNU di Zona Pekalongan Raya.

“Kita tidak ingin ada lembaga atau badan otonom yang bergerak sendiri tanpa koordinasi. Warga NU sangat besar. Jangan sampai saat bencana justru berjalan terpisah,” tandasnya.

Ketua LAZISNU PWNU Jawa Tengah, Muhammad Mahsun, menambahkan bahwa luasnya wilayah Jawa Tengah mendorong pengurus menerapkan sistem zonasi berbasis eks-karesidenan, dengan Zona Pekalongan Raya sebagai proyek percontohan.

“Beberapa daerah di zona ini sedang menghadapi bencana. Karena itu, kita perlu memperkuat koordinasi agar layanan kemanusiaan lebih maksimal,” ujarnya.

Mahsun juga menekankan pentingnya pemetaan sejak pra-bencana, baik bencana alam, non-alam seperti wabah penyakit, maupun bencana kemanusiaan.

“NU ini besar. Di satu sisi bisa menjadi korban, tetapi di sisi lain harus siap menjadi penolong. Karena itu, kita harus mengintegrasikan kesiapan sejak pra-bencana, tanggap darurat, hingga pascabencana,” tegasnya.

Ia berharap, ketika satu zona sudah solid dan siap, kekuatan tersebut dapat membantu wilayah lain yang membutuhkan.

Artikel ini telah dibaca 7 kali

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Langkah Tegas Agustina, Semarang Night Carnival Dibatalkan Demi Keselamatan Warga

3 Mei 2026 - 00:22 WIB

Gubernur Luthfi Temui Massa May Day, Serap Aspirasi dan Siapkan Solusi untuk Buruh Jateng

2 Mei 2026 - 15:09 WIB

Saat Soeharto Tak Ingin Menjadi Presiden

2 Mei 2026 - 14:30 WIB

May Day 2026 di Ungaran, Ahmad Luthfi Tegaskan Buruh Jadi Pilar Utama Ekonomi Jateng

2 Mei 2026 - 08:33 WIB

Ahmad Luthfi Gandeng TNI, Jateng Ubah Gunungan Sampah Jadi Energi Alternatif

2 Mei 2026 - 08:03 WIB

Pemprov Jateng Dukung Penuh Raperda Pelayanan Publik

2 Mei 2026 - 07:32 WIB

Trending di KABAR JATENG