Menu

Mode Gelap
 

Opini

Saat Soeharto Tak Ingin Menjadi Presiden

badge-check


					Saat Soeharto Tak Ingin Menjadi Presiden Perbesar

Di tengah situasi politik Indonesia yang penuh gejolak setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, nama Soeharto mulai tampil sebagai tokoh penting yang perlahan mengambil kendali pemerintahan.

Banyak orang menilai jalan menuju kursi presiden dilalui dengan ambisi besar, namun kenyataannya tidak sesederhana itu.

Di balik proses pergantian kepemimpinan dari Soekarno menuju era baru, Soeharto justru menghadapi dilema besar.

Ia tidak hanya berdiri sebagai seorang jenderal yang siap mengambil alih kekuasaan, tetapi juga sebagai pribadi yang mempertimbangkan konsekuensi moral dan politik dari keputusan tersebut.

Dalam berbagai catatan sejarah, Soeharto disebut sempat tidak ingin menyandang jabatan presiden.

Bukan karena merasa tidak mampu, melainkan karena ia memahami beratnya legitimasi pada masa transisi itu.

Menggantikan Soekarno bukan perkara sederhana.

Sosok proklamator itu masih sangat dihormati dan memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat.

Soeharto menyadari bahwa menerima jabatan tersebut dapat memunculkan anggapan bahwa dirinya menyingkirkan Soekarno dari kursi kekuasaan.

Ia khawatir masyarakat akan menilai langkah itu sebagai tindakan yang tidak etis dan memicu penolakan luas.

Namun situasi politik saat itu menuntut adanya kepemimpinan yang kuat dan stabil.

Negara membutuhkan figur yang mampu mengendalikan keadaan serta menjaga keamanan nasional.

Dalam kondisi tersebut, Soeharto akhirnya menerima amanah besar itu sebagai bagian dari tanggung jawab terhadap bangsa.

Keputusan tersebut kemudian mengubah perjalanan sejarah Indonesia.

Sosok yang awalnya disebut ragu menjadi presiden justru memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade.

Masa kepemimpinannya melahirkan era Orde Baru, sebuah periode yang dikenal dengan pembangunan besar-besaran, stabilitas politik, sekaligus berbagai kontroversi yang terus menjadi bahan perdebatan hingga kini.

Kisah ini menunjukkan bahwa kekuasaan tidak selalu lahir dari ambisi pribadi.

Terkadang, sejarah justru mendorong seseorang melangkah ke posisi besar yang sebelumnya tidak pernah benar-benar diinginkan.

Soeharto menjadi salah satu contoh bagaimana pergulatan batin seorang pemimpin dapat tersembunyi di balik wajah kekuasaan yang terlihat kuat.

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Kapolres Demak Cup Season 2 Jadi Ajang Pembinaan Atlet E-Sports Muda Berprestasi

16 Juni 2026 - 20:03 WIB

Central Java Prayer Breakfast 2026 Jadi Simbol Kerukunan dan Sinergi untuk Jawa Tengah

16 Juni 2026 - 11:55 WIB

Terjang Genangan Rob, Kapolres Kendal Salurkan Bantuan untuk Warga yang Bertahan di Tengah Banjir

16 Juni 2026 - 09:24 WIB

Dampak Tambang Galian C di Desa Delik Tuai Keluhan, DPRD Kabupaten Semarang Turun Tangan

16 Juni 2026 - 08:02 WIB

30 Personel Polres Boyolali Diterjunkan ke Semarang untuk Pengamanan Aksi GERAM JATENG

16 Juni 2026 - 07:19 WIB

Donor Darah Warnai Peringatan Hari Bhayangkara ke-80, Polres Demak Kumpulkan 40 Kantong Darah

15 Juni 2026 - 21:51 WIB

Trending di Kabar Demak