AMBARAWA, Kabarjateng.id – Sekolah Kristen Lentera Ambarawa (SKL) merayakan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili tahun 2026 dengan menggelar “LENTERA Chinese New Year Celebration”.
Melalui momentum ini, sekolah menegaskan komitmennya dalam merawat keberagaman suku dan agama yang hidup di Indonesia, khususnya di lingkungan SKL Ambarawa.
Selain itu, pihak sekolah juga ingin memperkenalkan budaya Tionghoa kepada anak-anak serta orangtua siswa melalui kegiatan yang edukatif dan menyenangkan.
Koordinator SKL, Silvy Inawati SSi MDiv, menyampaikan hal tersebut kepada awak media, Rabu (18/02/2026).
Menurutnya, sekolah merancang perayaan ini secara sederhana, namun tetap menghadirkan nilai kebersamaan dan toleransi yang kuat.
Dengan demikian, perayaan Imlek tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga sarana pembelajaran karakter bagi para siswa.
Parade Budaya dan Lomba Kreatif Siswa
Selanjutnya, panitia menyelenggarakan kegiatan di Selasar Lentera mulai pukul 08.00 WIB hingga 12.00 WIB.
Seluruh siswa SKL, mulai dari jenjang PAUD/TK, SD, hingga SMP, mengikuti perayaan dengan penuh antusias.
Sebagai pembuka, panitia menggelar parade fashion show melalui Lomba
“Pemilihan Cici Koko SKL” yang melibatkan siswa dari semua jenjang.
Kemudian, anak-anak, guru, karyawan, serta paguyuban orangtua siswa kompak mengenakan kostum bernuansa merah yang identik dengan perayaan Imlek.
Tidak hanya itu, panitia juga mengadakan Lomba Memasak dan Lomba Membuat Lampion khusus bagi siswa SMP.
Dengan kata lain, sekolah tidak sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga mendorong kreativitas serta kerja sama antarsiswa.
Silvy menegaskan bahwa melalui rangkaian kegiatan tersebut, sekolah ingin mengenalkan budaya Tionghoa secara menyenangkan dan membangun pengalaman belajar yang kontekstual.
Oleh sebab itu, seluruh siswa terlibat aktif dalam setiap sesi kegiatan.
Toleransi Jadi Nilai Utama
Di sisi lain, Silvy menekankan bahwa meski SKL berstatus sebagai sekolah Kristen, manajemen sekolah tidak membatasi diri pada satu agama atau satu suku saja.
Sebaliknya, sekolah justru merangkul keberagaman yang ada sebagai kekuatan bersama.
Di lingkungan SKL, siswa, guru, dan karyawan berasal dari berbagai latar belakang, seperti Jawa, Batak, Tionghoa, Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara, hingga Papua.
Bahkan, berbagai agama hidup berdampingan dalam suasana harmonis.
Oleh karena itu, sekolah berkomitmen memperkenalkan budaya dari masing-masing suku dan agama secara sederhana namun bermakna.
“Secara khusus, kami mengajak anak-anak untuk benar-benar menghormati dan menghargai perbedaan, baik di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Silvy.
Kolaborasi Sekolah dan Orangtua
Lebih lanjut, manajemen sekolah menanggung seluruh biaya pelaksanaan kegiatan ini.
Meski demikian, sekolah tetap melibatkan Paguyuban Orangtua Siswa dengan memberi ruang untuk berpartisipasi melalui persembahan makanan atau snack dalam perjamuan kasih bersama.
Selain rangkaian lomba tersebut, perayaan juga semakin semarak dengan kehadiran maskot “Lovely Bear” yang diperankan Mr Gomes, salah satu guru SKL.
Dengan hadirnya maskot ini, suasana acara terasa lebih hangat dan penuh keceriaan.
Pada akhirnya, Silvy menegaskan bahwa manajemen sekolah, komite sekolah, dan paguyuban orangtua siswa bekerja sama menyukseskan kegiatan ini.
Seluruh rangkaian acara selaras dengan visi SKL, yakni membimbing generasi muda agar unggul dalam iman, karakter, dan IPTEK, berprestasi, mandiri, serta tetap berpijak pada budaya bangsa.
Sementara itu, para orangtua siswa yang hadir mengaku senang dan bangga atas pelaksanaan perayaan tersebut.
Mereka menilai, paguyuban benar-benar mendapat tempat tanpa harus mengeluarkan sumbangan dana.
“Dengan demikian, kami merasa dihargai dan dilibatkan. Kami senang dan bangga dengan SKL karena kebersamaan ini terjalin demi nama baik Sekolah Kristen Lentera Ambarawa,” tegas Widi di sela-sela menyaksikan penampilan anak-anak. (hs)







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.