SEMARANG | kabarjateng.id – Politikus Partai Gerindra, Herlambang Prabowo, menyatakan kesiapannya untuk bertemu dan berdiskusi langsung dengan eks Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, menyusul polemik pernyataan Tiyo yang belakangan ramai diperbincangkan publik.
Menurut Herlambang, perbedaan pandangan terhadap pemerintah merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan demokrasi. Karena itu, perbedaan tersebut seharusnya tidak menjadi penghalang untuk membangun komunikasi dan dialog yang sehat.
“Salam saya khusus untuk Tiyo. Kalau kita mau ketemu, monggo (silahkan-red). Saya juga siap bertemu dia. Saya kader Gerindra. Saya bicara, saya bertanggung jawab,” kata anggota DPRD Kota Semarang tersebut, Rabu (17/6).
Ia menegaskan dirinya tidak mempermasalahkan kritik yang ditujukan kepada pemerintah maupun kepala negara. Bahkan, menurutnya, Presiden Prabowo Subianto juga tidak anti terhadap kritik dan terbuka terhadap berbagai masukan dari masyarakat.
Meski demikian, Herlambang berharap setiap kritik yang disampaikan tetap mengedepankan etika dan dilakukan dengan cara yang baik.
Ia menilai mahasiswa sebagai kelompok intelektual memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan pendapat secara konstruktif dan tidak sekadar mencari perhatian publik.
“Silakan melakukan kritik dan memberikan masukan kepada pemerintah, tapi dengan cara yang baik. Mahasiswa harus mencerminkan intelektualitasnya, tidak hanya sekadar mencari panggung atau ingin terkenal saja,” ujarnya.
Herlambang menilai narasi Tiyo yang terus-menerus menggambarkan situasi negara secara negatif berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap pemerintah.
“Jangan suka membangun narasi-narasi kecemasan yang membuat masyarakat tidak percaya lagi dengan pemerintahnya,” ujarnya.
Ia menyebut pemerintah saat ini tengah berupaya mewujudkan konsep kemandirian bangsa agar Indonesia tidak bergantung pada kekuatan asing. Menurutnya, berbagai upaya perbaikan yang dilakukan pemerintah membutuhkan proses dan tidak dapat diwujudkan secara instan.
“Saat ini pemerintah mulai menata konsep-konsep yang dicanangkan oleh Founding Father kita untuk berdikari, berdiri di atas kaki sendiri. Sehingga tidak terdikte oleh negara lain atau kekuatan asing,” tandasnya.
Di sisi lain, Herlambang juga menyoroti cara Tiyo dalam menyampaikan kritik. Menurutnya, sebagai orang Jawa, Tiyo seharusnya menjunjung tinggi falsafah Jawa yang sarat dengan tata krama dan etika.
“Kalau orang Jawa, dari kecil sampai besar mestinya dididik dengan falsafah Jawa yang penuh dengan unggah-ungguh (tata krama-red) dan etika. Kecerdasan kalau tidak didukung dengan itu juga tidak ada gunanya,” ujarnya.
Herlambang menilai dialog secara langsung menjadi salah satu cara yang lebih produktif untuk mempertemukan perbedaan pandangan.
Melalui diskusi, masing-masing pihak dapat saling bertukar pemikiran, memberikan koreksi, sekaligus mencari titik temu atas berbagai persoalan yang menjadi perhatian bersama.
Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang wajar karena setiap orang dapat memiliki interpretasi yang berbeda terhadap suatu persoalan.
Karena itu, Herlambang mengaku membuka diri untuk berdiskusi dengan Tiyo sebagai bagian dari upaya membangun budaya demokrasi yang sehat, terbuka, dan saling menghormati di tengah perbedaan pandangan politik maupun kebijakan pemerintah.(day)






