Menu

Mode Gelap
 

Kabar Semarang

Komisi C Kawal Pembangunan Kawasan Terpadu Pakuwon, Minta Pematangan Lahan Tak Tergesa-gesa

badge-check


					Komisi C Kawal Pembangunan Kawasan Terpadu Pakuwon, Minta Pematangan Lahan Tak Tergesa-gesa Perbesar

SEMARANG | kabarjateng id – Komisi C DPRD Kota Semarang menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama manajemen kawasan terpadu Pakuwon dan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait pada Rabu (17/6).

Rapat tersebut membahas pembangunan kawasan terpadu Pakuwon di kawasan Gombel Lama yang berada di lahan tanah gerak dan kerap menjadi perhatian masyarakat.

Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang, Rukiyanto, mengatakan saat ini proyek senilai Rp9 triliun itu masih berada pada tahap awal berupa pematangan lahan. Menurutnya, DPRD akan mengawal proses tersebut mengingat lokasi pembangunan berada di kawasan patahan aktif.

“Hal teknis yang kita pertanyakan karena lahan tersebut merupakan lahan patahan aktif di Semarang dan ternyata mereka menggunakan teknologi souldier pile untuk mengatasi tanah gerak,” kata Rukiyanto.

Ia juga menyoroti keluhan warga terkait sejumlah rumah yang mengalami keretakan di sekitar lokasi proyek. Menurutnya, pihak Pakuwon telah melakukan sosialisasi dan berkomitmen melakukan perbaikan terhadap rumah warga yang terdampak.

“Keluhan dari warga sudah dilakukan mitigasi dan rembug dengan warga. Ada 14 rumah yang akan dilakukan perbaikan, tapi dilihat skala prioritasnya,” ujarnya.

Sekretaris Komisi C DPRD Kota Semarang, Danur Rispriyanto, menyebut investasi Pakuwon memberikan dampak positif bagi Kota Semarang karena diproyeksikan mampu menyerap sekitar 10.000 tenaga kerja. Meski demikian, ia meminta proses pematangan lahan dilakukan secara hati-hati.

“Kami minta dalam pembangunan terutama pematangan lahan ini tidak terburu-buru prosesnya apalagi di lokasi itu kan tanah gerak,” katanya.

Sementara itu, General Manager Project High Rise Pakuwon, Paulus Louw, mengatakan pihaknya masih fokus pada persiapan lahan dan belum melakukan pembangunan fisik gedung utama. Ia menjelaskan penggunaan teknologi souldier pile dipilih untuk menjaga kestabilan lereng di kawasan tanah gerak.

Paulus mengakui terdapat dampak negatif berupa keretakan pada 14 rumah warga di sekitar proyek. Namun, pihaknya telah melakukan verifikasi dan berkomitmen melakukan perbaikan.

“Kami sudah verifikasi ke warga dan akan kami lakukan perbaikan,” katanya.

Pematangan lahan ditargetkan selesai pada akhir 2026, sedangkan pembangunan kawasan terpadu yang mencakup pusat perbelanjaan dan hotel di lahan seluas 18 hektare itu ditargetkan beroperasi pada 2030-2031.(day)

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Politikus Gerindra Herlambang Prabowo Ajak Bertemu Tiyo Ardianto, Dorong Ruang Dialog yang Sehat

17 Juni 2026 - 19:46 WIB

Kapolda Jateng Cup 2026 Hadirkan Festival E-Sport Lengkap, dari Cosplay hingga Layanan Kesehatan Gratis

17 Juni 2026 - 13:45 WIB

Central Java Prayer Breakfast 2026 Jadi Simbol Kerukunan dan Sinergi untuk Jawa Tengah

16 Juni 2026 - 11:55 WIB

Dampak Tambang Galian C di Desa Delik Tuai Keluhan, DPRD Kabupaten Semarang Turun Tangan

16 Juni 2026 - 08:02 WIB

New PM Diresmikan, Bangkitkan Kembali Legenda Pasar Maling di Johar

15 Juni 2026 - 21:13 WIB

Uji Kebugaran ARFF Digelar, Bandara Ahmad Yani Pastikan Personel Siap Hadapi Situasi Darurat

15 Juni 2026 - 16:19 WIB

Trending di KABAR JATENG