SEMARANG, Kabarjateng.id – Hidup sering kali memberi kejutan tak terduga. Begitu pula kisah Muarifin (36), pria asal Wedung, Demak, yang dulunya mengamen di jalanan, kini sukses menjadi penjahit profesional dengan merek Arvin Tailor, langganan berbagai instansi di Kota Semarang seperti Dinas Pendidikan dan sejumlah Puskesmas.
Perjalanan hidup Arfin, sapaan akrabnya, dimulai pada tahun 2007 ketika ia memutuskan merantau ke Yogyakarta.
Saat itu, ia mengaku hidupnya tidak menentu dan sempat bertahan hidup dengan mengamen.
“Waktu itu saya bingung mau kerja apa, jadi sempat ngamen juga,” kenangnya sambil tersenyum.
Peruntungan hidupnya berubah ketika ia bertemu dengan seseorang yang mau menolongnya.
“Ada orang baik yang menyekolahkan saya dan mengajari menjahit selama lima bulan. Dari situlah saya belajar dari nol,” ungkap Arfin.
Selama masa pelatihan itu, ia tak hanya diajari keterampilan menjahit, tetapi juga cara melayani pelanggan dan menerima pesanan.
Dari pengalaman itulah, muncul ketertarikannya yang mendalam terhadap dunia jahit-menjahit.
Setelah menyelesaikan pelatihan, Arfin memberanikan diri membuka usaha sendiri di kawasan Damar Wulan, Karangayu, Semarang Barat, pada tahun 2012.
“Pesanan pertama datang dari Ibu Ernes, pegawai Dinas Pendidikan Provinsi. Dari situ, usaha saya mulai dikenal,” tuturnya.
Promosi dari mulut ke mulut membuat namanya semakin dikenal luas. Kini, Arfin memiliki dua tempat usaha, yaitu Azvi Tailor di Jalan Pekunden Tengah dan Arvin Tailor di Jalan Jolotundo 2, Semarang.
Ia mampu menjahit berbagai jenis pakaian, baik untuk pria maupun wanita, seperti jas, blazer, kebaya, gamis, celana, hingga rok.
Dalam mengelola usahanya, Arfin dibantu empat karyawan tetap, dan saat pesanan meningkat, ia menambah tenaga harian dengan sistem borongan.
“Kalau pesanan sedang banyak, saya rekrut tambahan pekerja harian,” jelasnya.
Salah satu keunggulan Arfin adalah kemampuannya menyelesaikan pesanan dalam waktu singkat.
“Pernah ada pelanggan yang minta dua jas selesai dalam satu hari. Order malam jam tujuh, besok sore jam empat sudah jadi,” ujarnya.
Dalam situasi seperti itu, Arfin tak segan bekerja hingga larut malam.
“Kalau sudah ada contoh bajunya, satu jas bisa saya selesaikan dalam lima sampai enam jam,” ucapnya.
Selama bertahun-tahun, Arfin telah menangani pesanan dari berbagai instansi, seperti Dinas Pendidikan, Kantor Pajak, hingga perusahaan swasta seperti PT Matahari Kacang.
Ia juga sering menerima pesanan mendadak dari tokoh masyarakat menjelang acara penting atau pelantikan.
Meski usahanya terus berkembang, Arfin tetap memilih cara sederhana dalam memasarkan jasanya.
Ia belum menggunakan Instagram atau TikTok, dan lebih mengandalkan Facebook.
“Saya lebih nyaman pakai Facebook, dari situ juga sering dapat pelanggan baru atau calon karyawan,” katanya.
Kini, setelah lebih dari sepuluh tahun menekuni dunia jahit, Arfin berharap bisa memperluas usahanya dan membuka cabang di beberapa kota lain.
“Yang penting kerja dengan jujur dan hasilnya bagus. Kalau pelanggan puas, mereka pasti datang lagi,” ujarnya penuh keyakinan.
Kisah Arfin menjadi bukti bahwa perubahan hidup bisa datang dari mana saja.
Dengan kemauan belajar dan semangat pantang menyerah, mantan pengamen itu kini berdiri tegak sebagai penjahit profesional yang menginspirasi banyak orang. (day)






