Menu

Mode Gelap
 

Kabar Semarang · 29 Nov 2025 09:41 WIB

Banyak Bencana, FISIP UNDIP Gelar Kuliah Umum: Saatnya Menata Ulang Relasi Manusia dan Alam


					Banyak Bencana, FISIP UNDIP Gelar Kuliah Umum: Saatnya Menata Ulang Relasi Manusia dan Alam Perbesar

SEMARANG, Kabarjateng.id – Dalam upaya memperkuat kesadaran ekologis dan mendukung kebijakan lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Departemen Politik dan Ilmu Pemerintahan (DPIP) FISIP Universitas Diponegoro bekerja sama dengan Yayasan Obor Indonesia mengadakan kuliah umum sekaligus bedah buku Bacaan Bumi: Pemikiran Ekologis untuk Indonesia. Kegiatan berlangsung pada Jumat, 28 November 2025 di Ruang Pusat Kegiatan Mahasiswa, Gedung D FISIP Undip.

Acara ini menghadirkan langsung penulis buku, Prof. Gerry Van Klinken, dengan dua dosen DPIP FISIP Undip, Dr. Laila Kholid Alfirdaus dan Dr. Supratiwi, yang bertindak sebagai pembahas.

Mahasiswa, sivitas akademika, serta tamu undangan turut memenuhi ruangan dan terlibat aktif dalam diskusi mengenai kondisi lingkungan yang kian tertekan oleh aktivitas manusia.

Ketua DPIP FISIP Undip, Dr. Nur Hidayat Sardini, membuka acara dengan menekankan pentingnya ruang-ruang akademik yang mendorong pemahaman ekologis.

Ia menyebut forum ini sebagai sarana yang dapat memperkaya kapasitas intelektual dosen maupun mahasiswa.

Moderator, Faiz Kasyfilham, kemudian mengawali diskusi dengan pemaparan mengenai keterputusan manusia dari alam serta perlunya membangun ulang relasi harmonis dengan lingkungan.

Menurutnya, buku Prof. Gerry memberikan perspektif yang relevan untuk memahami urgensi tersebut.

Dalam pemaparannya, Prof. Gerry mengisahkan latar belakang penulisan buku yang didorong kegelisahan terhadap kerusakan lingkungan global.

Ia menilai bahwa meski berbagai solusi teknis telah diusulkan—mulai dari pengurangan bahan bakar fosil hingga penghentian eksploitasi alam—masyarakat dunia masih belum menemukan langkah konkret yang mampu menghentikan krisis ekologis.

Ia menegaskan bahwa masalah lingkungan bukan sekadar persoalan teknologi, tetapi juga menyangkut etika manusia dalam membedakan apa yang membawa kebaikan dan apa yang justru merusak kehidupan.

Ia bahkan menyoroti bahwa “lebih mudah membayangkan akhir dunia daripada berakhirnya kapitalisme,” sebuah kritik yang menyinggung akar struktural dari krisis ekologis.

Prof. Gerry juga menyinggung isu keadilan lingkungan, terutama dalam industri kelapa sawit di Indonesia.

Menurutnya, upaya memperjuangkan keadilan dapat ditempuh melalui jalur formal seperti parlemen atau lembaga internasional, maupun jalur aksi langsung melalui gerakan sosial lingkungan. Dua jalur tersebut, katanya, sering saling melengkapi.

Hadir pula Wakil Rektor IV Undip, Wijayanto, Ph.D., yang menyoroti dua ancaman besar yang kini membayangi umat manusia: disinformasi dan perubahan iklim.

Ia mengingatkan bahwa maraknya hoaks membuat sebagian masyarakat abai terhadap realitas krisis iklim.

Pembahas pertama, Dr. Supratiwi, menilai bahwa buku Bacaan Bumi tidak hanya memotret kerusakan lingkungan dari faktor alam, tetapi juga mengungkap dampak sistem ekonomi politik kapitalisme yang memicu ketidakadilan ekologis.

Buku ini, menurutnya, menawarkan pendekatan sosial humaniora untuk memahami akar persoalan lingkungan secara lebih komprehensif.

Pembahas kedua, Dr. Laila Kholid Alfirdaus, menyebut buku tersebut sebagai karya yang sangat memperkaya pemikiran.

Ia menyoroti bagaimana kapitalisme kerap mengalihkan kesalahan kerusakan lingkungan kepada masyarakat kecil.

Sebagai contoh, banjir di kota besar sering disederhanakan sebagai akibat sampah rumah tangga, padahal ada peran besar aktivitas industri dan tata ruang yang tidak adil.

Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan dari peserta, terutama mengenai isu keadilan ekologis, konflik agraria, hingga penggunaan teknologi ramah lingkungan.

Menutup sesi, Prof. Gerry mengajak seluruh peserta menjaga harapan untuk mewujudkan “peradaban ekologis.”

Meski tujuan tersebut tampak idealis, ia percaya perubahan dapat dimulai dari keberanian mempertanyakan praktik-praktik yang selama ini dianggap lumrah, padahal merusak alam. (di)

Artikel ini telah dibaca 17 kali

badge-check

Publisher

Tinggalkan Balasan

Kabar Terbaru

Hardiknas 2026 di Jateng, Ahmad Luthfi Dorong Sekolah Tani Jadi Pilar Ketahanan Pangan

3 Mei 2026 - 11:21 WIB

Kapolres Demak Apresiasi Kondusivitas May Day, Warga Tunjukkan Kedewasaan dalam Menyampaikan Aspirasi

3 Mei 2026 - 09:36 WIB

Kapolres Demak Cup 2026 Jadi Panggung Strategi Pelajar di Dunia E-Sport

3 Mei 2026 - 07:29 WIB

Langkah Tegas Agustina, Semarang Night Carnival Dibatalkan Demi Keselamatan Warga

3 Mei 2026 - 00:22 WIB

Gubernur Luthfi Temui Massa May Day, Serap Aspirasi dan Siapkan Solusi untuk Buruh Jateng

2 Mei 2026 - 15:09 WIB

Saat Soeharto Tak Ingin Menjadi Presiden

2 Mei 2026 - 14:30 WIB

Trending di KABAR JATENG