SEMARANG, Kabarjateng.id – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengapresiasi warga RW 04 Silayur Lawas Duwet yang punya inisiatif menggelar tradisi ruwatan sebagai bentuk ikhtiar dari sisi budaya dan spiritual.
Namun, ia menegaskan Pemerintah Kota Semarang tetap fokus melakukan langkah konkret untuk mengatasi persoalan di kawasan itu.
Agustina menilai tradisi ruwatan yang akan warga gelar menjadi bagian dari kekuatan sosial yang tidak bisa kita abaikan, terutama dalam konteks kearifan lokal.
Menurutnya, pendekatan itu dapat jalan berdampingan dengan upaya teknis dari pemerintah.
“Tradisi seperti itu bagus, bisa menjadi kekuatan dari sisi lain. Tapi kami tetap gerak secara nyata untuk mencari solusi terbaik,” ujar Agustina usai menghadiri Muscab PKB Kota Semarang, Rabu (15/4/2026) petang.
Langkah Teknis Digenjot, Libatkan Banyak Pihak
Di sisi lain, Pemkot Semarang terus mengintensifkan penanganan di lapangan.
Agustina menegaskan jajarannya bekerja maksimal meskipun menghadapi keterbatasan anggaran.
Ia mengungkapkan, pihaknya telah melakukan koordinasi lintas sektor dengan Polrestabes Semarang, Dinas Perhubungan, serta sejumlah perusahaan di sekitar tanjakan Silayur.
Langkah ini mempunyai tujuan menekan angka kecelakaan yang kerap terjadi.
“Kami menyusun skenario, mulai dari pengaturan lalu lintas, pembangunan portal, hingga pengawasan yang diperkuat pihak kepolisian,” jelasnya.
Menurut Agustina, kolaborasi antarinstansi menjadi kunci utama dalam menciptakan kondisi jalan yang lebih aman dan punya kendali.
Harapan Sinergi, Silayur Lebih Aman
Agustina pun mempunyai harapan perpaduan antara upaya spiritual masyarakat melalui ruwatan dan langkah konkret pemerintah dapat menghasilkan dampak positif.
Ia optimistis, jika kedua pendekatan ini jalan selaras, maka kondisi di tanjakan Silayur akan semakin aman dan nyaman bagi pengguna jalan.
“Kalau semua upaya ini berjalan bersama, saya yakin situasi di Silayur akan semakin baik,” tegasnya.
Tradisi Dihidupkan Kembali, Berangkat dari Kekhawatiran Warga
Sebelumnya, warga RW 04 Silayur Lawas Duwet menggelar musyawarah untuk menghidupkan kembali tradisi sedekah bumi dan pagelaran wayang sebagai bagian dari ruwatan.
Langkah ini mereka ambil sebagai bentuk kepedulian dengan seringnya kecelakaan di tanjakan Silayur.
Keputusan itu muncul dari kekhawatiran warga.
Mereka menilai, selain faktor teknis, berbagai insiden juga kerap punya kaitan dengan cerita mistis yang ada di masyarakat.
Karena itu, warga menghadirkan pendekatan budaya sebagai bagian dari solusi.
Dengan kombinasi antara kearifan lokal dan penanganan teknis dari pemerintah, warga berharap kawasan yang sempat dikenal sebagai “tanjakan tengkorak” berubah menjadi jalur yang lebih aman dan tidak lagi menimbulkan kekhawatiran. (arh)







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.