SALATIGA, Kabarjateng.id – Arus mudik dan balik Lebaran 2026 tidak hanya menghadirkan momen kebersamaan keluarga, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat di berbagai daerah di Jawa Tengah.
Aktivitas jutaan pemudik mendorong peningkatan omzet pelaku usaha, khususnya sektor kuliner dan pariwisata.
Di sejumlah jalur utama, terutama kawasan strategis seperti sekitar Exit Tol Salatiga, pelaku usaha kuliner merasakan lonjakan pelanggan yang signifikan.
Warung makan hingga restoran ramai melayani pemudik yang beristirahat maupun mencari santapan.
Omzet Warung Makan Naik Drastis
Sapta Aprilia (40), pengelola RM Ayam Goreng Bu Toha cabang Tuntang, menyebut momen Lebaran tahun ini memberi dampak nyata terhadap peningkatan pendapatan.
Lokasi usahanya di Jalan Tingkir Raya yang menjadi jalur favorit pemudik membuat rumah makannya hampir tidak pernah sepi, terutama saat arus balik.
“Peningkatannya sangat terasa, bisa sampai 100 persen. Kalau hari biasa omzet sekitar Rp2 juta sampai Rp3 juta, saat Lebaran bisa menembus Rp5 juta lebih per hari,” ujar Sapta, Kamis (26/3/2026).
Deretan kendaraan berpelat luar daerah memenuhi area parkir dan menunjukkan tingginya mobilitas pemudik.
Meski hanya menyajikan menu sederhana seperti ayam goreng, bebek, serta tahu dan tempe, tempat makan tersebut tetap menjadi pilihan utama.
Untuk menjaga pelayanan tetap optimal, Sapta menambah dua tenaga kerja harian, sehingga total karyawan menjadi lima orang selama periode Lebaran.
Pedagang Kaki Lima Ikut Panen Pembeli
Harnanto, pedagang mie ayam dan bakso di Jalan Raya Semarang–Solo KM 30, wilayah Tuntang, Kabupaten Semarang, juga merasakan lonjakan pembeli sejak hari pertama setelah Lebaran.
“Biasanya saya menghabiskan 5 sampai 7 kilogram mie per hari, sekarang bisa mencapai 25 kilogram,” ungkapnya.
Ia terus menambah stok bakso seiring tingginya permintaan.
Kafe dan Resto Andalkan Reservasi
Sektor kafe dan restoran menunjukkan pola kunjungan yang berbeda.
Aziz, manajer Reinz Cafe dan Resto di Demak, menjelaskan peningkatan pelanggan lebih banyak berasal dari reservasi kelompok.
“Mayoritas pengunjung sudah memesan dari jauh hari untuk acara halalbihalal atau reuni keluarga. Jadwal kami penuh sampai minggu depan,” katanya.
Namun, pengunjung tanpa reservasi cenderung tidak terlalu ramai.
Faktor cuaca yang berubah-ubah memengaruhi minat kunjungan spontan.
“Pengunjung reguler agak menurun, mungkin karena siang panas dan malam sering hujan,” jelasnya.
Wisata Jateng Serap Banyak Pengunjung
Selain sektor kuliner, sektor pariwisata juga menunjukkan peningkatan aktivitas ekonomi.
Berbagai destinasi wisata di Jawa Tengah menarik banyak wisatawan selama libur Lebaran.
Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Jawa Tengah mencatat jumlah kunjungan wisatawan pada periode H-7 hingga H+4 Lebaran 2026 mencapai 687.470 kunjungan.
Angka tersebut naik 5,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 653.178 kunjungan.
Kepala Disbudparekraf Jateng, Hanung Triyono, menyebut sejumlah destinasi unggulan menjadi magnet utama wisatawan, seperti Candi Borobudur, Owabong, Baturraden.
Kemudian Guci, Pantai Menganti, Kota Lama Semarang, Masjid Agung Demak, Makam Sunan Kalijaga, hingga Candi Prambanan.
Strategi Pemprov Tangkap Peluang Mudik
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mengantisipasi lonjakan ini dengan menyiapkan infrastruktur serta mendukung pelaku UMKM di titik-titik strategis.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen menegaskan pentingnya memanfaatkan momentum mudik sebagai peluang ekonomi daerah.
“Jawa Tengah menjadi pusat perlintasan. Kami menyiapkan fasilitas dan dukungan bagi UMKM agar kebutuhan pemudik terpenuhi. Kami berharap perputaran ekonomi bisa maksimal di daerah ini,” ujarnya. (liem)






Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.